Sering Merasa Cemas? Coba Lakukan Butterfly Hug

Sering Merasa Cemas? Coba Lakukan Butterfly Hug
info gambar utama

Keadaan yang serba gak pasti kadang bikin kita jadi mudah merasa cemas. Belum lagi semenjak pandemi, banyak perasaan negatif yang mengelilingi. Cemas, takut, panik, dan perasaan negatif lainnya rasanya mudah untuk terus menghampiri.

Pernah mendengar istilah butterfly hug? Mungkin Goodmates yang pernah menonton drama Korea berjudul "It’s Okay To Not Be Okay" pernah melihat adegan saat teknik butterfly hug ini diperagakan. Metode butterfly hug diklaim dapat membantu menenangkan diri dan membantu lebih rileks.

Menurut Wild Tree Wellness, butterfly hug dikembangkan oleh Lucina Artigas, M.A., M.T., dan Ignacio Jarero, Ed.D., Ph.D., M.T. awalnya teknik butterfly hug diajarkan untuk para korban bencana alam yang selamat dari badai Pauline di Meksiko pada tahun 1998 dan terbukti efektif membantu mereka menghadapi masa-masa yang sulit.

Metode butterfly hug dikutip dari Making Business Matter merupakan salah satu contoh dari EMDR (Eye Movement Desensitisation and Reprocessing Therapy), yaitu sebuah bentuk psikoterapi yang direkomendasikan oleh WHO sebagai pengobatan untuk PTSD (Post Traumatic Stress Disorder).

Berdasarkan penjelasan oleh Creating Space Counseling and Wellness, teknik EMDR dapat digunakan dalam sesi terapi ketika pasien diminta menceritakan mengenai pikiran, perasaan atau peristiwa yang menyedihkan. Metode butterfly hug dapat digunakan untuk membantu menenangkan diri bahkan juga dapat digunakan ketika sedang melakukan meditasi.

Tenangkan diri dengan butterfly hug

ilustrasi teknik butterfly hug. | Sumber: klikdokter
info gambar

Butterfly hug mudah dilakukan di manapun dan kapanpun. Gerakannya juga cukup sederhana. Pertama, mungkin kamu ingin mencari tempat yang nyaman dahulu untuk membuat tubuh merasa rileks. Kemudian silangkan kedua lengan di depan dada hingga membuat bentuk huruf X dan letakan telapak tangan dekat ke pundak atau dada.

Seperti kibasan sayap kupu-kupu, tepuk-tepuk pundak atau dada selama beberapa waktu. Selama melakukan ini, kamu dapat sambil memejamkan mata dan mengatur pernafasan. Kamu juga dapat sambil membayangkan sedang berada di atas awan. Tujuannya untuk membuat kamu fokus dan tidak terganggu dengan sekitar.

Mempraktikan mindfulness juga dapat membantu dengan fokus terhadap suara-suara yang kamu dengar, bebauan yang kamu cium, atau pada hawa apa yang dirasakan oleh tubuhmu. Memberi kalimat-kalimat positif pada diri sendiri seperti “kamu hebat” “you are enough” juga dapat memberi efek positif.

Dikutip dari Health Line, afirmasi positif yang sering diulang secara rutin pada diri dapat mendorong otak kita menganggap ini adalah fakta. Sehingga ketika diri kita benar-benar mempercayai bahwa kita dapat melakukan sesuatu, seringnya ini membantu kita mewujudkannya dalam bentuk nyata.

Afirmasi positif juga dapat membantu menambah motivasi dan kepercayaan diri. Tak hanya itu, dapat pula mengaktifkan sistem reward di otak yang berdampak pada bagaimana cara kita menghadapi rasa sakit emosional dan fisik nantinya.

Referensi: Health Line | Crowe Associates | Wild Tree Wellness | Making Business Matter | Creating Space Counseling and Wellness

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini