Mengamati Keanekaragaman Hayati di Taman Nasional Gandang Dewata

Mengamati Keanekaragaman Hayati di Taman Nasional Gandang Dewata
info gambar utama

Indonesia termasuk negara kepualauan yang kaya akan keanekaragaman hayati dan ini tentunya harus dilestarikan sebaik-baiknya. Salah satu upaya pelestarian yang dilakukan melalui kawasan konservasi, misalnya taman nasional. Taman nasional adalah kawasan untuk melestarikan ekosistem asli dan dilindungi oleh World Conservation Union.

Taman nasional dikelola dengan sistem zonasi, seperti zona inti, zona rimba, zona pemanfaatan, zona tradisional, rehabilitasi, religi, budaya, zona khusus, dan zona perlindungan bahari untuk daerah perairan. Selain menjadi kawasan konservasi, keberadaan taman nasional juga dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, pengetahuan, pendukung budidaya, dan pariwisata sehingga memang boleh dikunjungi wisawatan untuk berekreasi.

Perlu diketahui sebelumnya bahwa taman nasional memiliki fungsi berbeda dengan cagar alam. Tak seperti taman nasional, cagar alam tidak dijadikan sebagai tujuan wisata dan kegiatan komersil. Pemanfaatannya berfokus pada menjaga dan melindungi ekosistem yang ada sehingga flora dan fauna di dalamnya benar-benar hidup tanpa gangguan dari aktivitas manusia.

Dari 50-an taman nasional yang ada di Indonesia, salah satunya yang wajib Anda kunjungi adalah Taman Nasional Gandang Dewata di Sulawesi.

Gandang Dewata, taman nasional ke-53 dan mitos yang melekat

Taman Nasional Gandang Dewata berada di Gunung Dewata, yang merupakan gunung tertinggi kedua dari gugusan Pegunungan Quarles. Lokasinya terletak di empat kabupaten, yaitu Mamasa, Mamuju, Mamuju Tengah, dan Mamuju Utara. Untuk berkunjung ke kawasan konservasi ini bisa menempuh jalur dari Polewali menuju Mamasa atau bisa juga dari Mamuju ke Kecamatan Tabulahan.

Gandang Dewata ditetapkan sebagai taman nasional ke-53 di Indonesia pada Oktober 2016 dengan luas 180.078 hektare. Kawasan ini dikelola oleh Balai Besar KSDA (Konservasi Sumber Daya Alam) Sulawesi Selatan.

Ada salah satu mitos yang melekat dengan taman nasional ini, yaitu jika mendengar suara gendang dari puncak gunung maka itu adalah tanda bahwa ada orang yang meninggal dunia atau hilang di atas gunung.

Bunyi gendang dari puncak gunung itu berasal dari sebongkah batu yang bentuknya menyerupai alat musik gendang. Batu tersebut diyakini mengeluarkan gema saat masyarakat di Mamasa menabuh gendang dalam ritual kematian. Padahal, jarak dari batu di atas gunung dengan desa di Mamasa jaraknya sangat jauh, tetapi suaranya terdengar sampai tiga kabupaten.

Masyarakat setempat meyakini bahwa suara gendang dari puncak gunung tersebut didatangkan oleh Dewa dan inilah yang menjadi asal-muasal penamaan Gandang Dewata.

Keanekaragaman hayati di Taman Nasional Gandang Dewata

Taman Nasional Gandang Dewata merupakan salah satu wilayah yang dilalui Garis Wallace, garis yang memisakan wilayah geografi hewan Asia dan Australasia. Begitu banyak keanekaraman hayati yang bisa ditemukan di kawasan ini untuk menambah wawasan bagi para wisatawan yang berkunjung.

Berdasarkan penelitian Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada 2013, Taman Nasional Gandang Dewata merupakan habitat bagi sejumlah burung endemik dan ditemukan pula spesies-spesies baru. Terdapat 417 jenis burung di Sulawesi dengan 116 di antaranya adalah endemik.

Tiga tahun kemudian, tim Lipi menemukan adanya mamalia darat, burung, serangga, herpetofauna, dan arthopoda lain seperti capung, lebah, kumbang kotoran, dan binatang parasit di kawasan ini. Adapun jenis satwa yang hidup di taman nasional ini antara anoa, elang Sulawesi, burung rangkong, alap-alap, katak endemik, dan kadal yang kemungkinan besar adalah jenis baru.

Sementara itu untuk jenis tumbuhan, Anda bisa melihat rotan, kalpataru, uruh, dan berbagai jenis anggrek nan cantik. Menurut penelusuran tim LIPI, ditemukan tumbuhan dari suku Melastomateceae dari marga Medinilla, Sonerila, Astronia, Dissochaeta, Melastoma dan Creochiton. Ada juga 11 jenis tumbuhan dari suku Gesneriaceae dari marga Aeschynanthus, Agalmyla dan Cyrtandra, yang seluruhnya merupakan endemik Sulawesi.

Selain itu, ada jenis-jenis beringin endemik dan 123 jenis paku-pakuan pada ketinggian 1.500-2.000 mdpl. Anda juga bisa melihat puno atau paku pohon yang termasuk endemik Sulawesi.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini