'Klitah-Klitih' Surabaya Tempo Doeloe

'Klitah-Klitih' Surabaya Tempo Doeloe
info gambar utama

Di penghujung tahun 2021 lalu, ada berita beberapa remaja di Yogyakarta ditangkap atas tuduhan pelaku kriminal “Klitih” yaitu melakukan tindak kekerasan dijalanan. Beberapa pihak menyayangkan kejadian itu karena terjadi di Yogyakarta yang terkenal sebagai kota pendidikan dan tempat masyarakat yang menjunjung tinggi budaya luhur Jawa.

Sultan Hamengkubuwono yang juga gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta meminta media tidak terlalu membesar-besarkan berita tentang Klitih itu karena diduga bertujuan untuk merusak citra kota Yogyakarta yang damai.

Sebenarnya, harian Kompas pernah mewartakan bahwa tindak kriminal remaja sudah muncul tahun 1990an dan istilah Klitih mencuat di pemberitaan media tahun 2016. Bagi orang diluar kota Yogyakarta tentu bertanya-tanya apa sih yang disebut Klitih itu.

Kalau kita melihat kamus bahasa Jawa--SA Mangunsuwito kata Klitih sebenarnya dari dua kata Klitah-Klitih yang artinya berjalan bolak-balik--tidak ada unsur negatif di makna tersebut; Ada juga yang mendifinikan sebagai kluyuran yang tak jelas arah.

Kedua pengertian itu sejalan dengan penjelasan mas Akhyari Hananto (Founder GNFI) kepada saya bahwa Klitih itu bermakna “mengisi waktu luang”. Mas Arry Hananto tentu faham dengan arti kata Kilitih itu karena dia asli orang Yogyakarta.

Kalau berdasarkan beberapa definisi Klitih diatas maka Klitih itu adalah kegaiatan anak-anak muda dimanapun di nusantara ini – tidak hanya di Yogyakarta. Didaerah lain tentu istilahnya bukan Klitih. Saya sebagai generasi tahun 50an pernah melakukan kegiatan klitah-klitih itu--bersama dengan teman-teman sebaya menyusuri jalan-jalan di kota Surabaya.

Pada saat melakukan kegiatan itu kami kadang terlibat dengan tindakan kenakalan anak-anak misalnya mencuri mangga di pohon milik orang lain, atau memencet bel rumah orang kemudian lari dsb. Jadi Klitih itu sebenarnya bukan fenomena baru.

Pengaruh lingkungan

Banyaknya kasus Klitih (atau ditempat lain) tersebut diduga terkait dengan banyaknya keberadaan geng remaja. Ditahun 2017 saja ada 81 geng sekolah di DIY. Karena itu kegiatan anak-anak muda yang sebenarnya hanya kluyuran tanpa arah atau hanya mengisi waktu luang menjadi kegiatan kriminal misalnya begal dan pembacokan disebabkan karena pengaruh geng-geng itu.

Karena itu kasus di Yogyakarta itu menjelaskan bahwa kegiatan Klitih yang tidak ada makna negatifnya menjadi tindakan kriminal adalah karen pengaruh lingkungan baik berupa keberadaan geng-gang sekolah, atau pengaruh teman sekitar yang menuntut seseorang remaja menunjukkan “Kelakiannya” atau keberaniaannya.

Saat saya masih anak-anak/remaja di jaman tahun 50 an itu saya sudah menyaksikan tawuran antar remaja antar kampung. Cara berkelahinya (selain tawuran) juga unik, yaitu ala cowboy di Amerika Serikat – duel satu lawan satu.

Cara ini juga berlaku bagi kami anak-anak, yaitu dua anak yang berkelahi berhadap-hadapan di tengah dan dikelilingi penonton atau pendukung keduanya sambil berteriak-teriak “Sopo Wani Njempok Kuping!!” atau berarti siapa yang berani memukul dahulu.

Saya juga ingat kalau misalkan kita ditantang anak yang badannya lebih besar, atau lebih tua maka kita mengatakan “Gak Pantang” atau tidak sepadan, lalu kita bicara pada penantang itu “Enteni, tak celokno cacakku” atau “tunggu aku panggilkan kakak ku”, agar perkelahiannya seimbang. Nampaknya cara berkelahi seperti itu fair dan jantan.

Tawuran antar gang seringkali alasannya sepele, misalkan karena saling adu pandang mata. Ketika ada anak dari luar kampung kita berjalan di kawasan kita sambil matanya menatap kami, maka kami bilang “laopo ndelok?” atau “Kenapa Lihat?”.

Kejadian sepele in bisa menimbulkan perkelahian satu lawan satu atau tawuran kalau anak yang kita tantang itu lari melaporkan pada seniornya.

Perlunya orang tua mengajari disiplin

Sebagai keluarga santri tentu saya memiliki pengalaman ritual keagamaan, misalkan ngaji rutin di Langgar/Musholla didepan rumah saya setiap malam, belajar membaca al-Qur’an dan belajar ilmu Tajwid.

Almarhumah ibu saya setiap hari memaksa saya dan almarhum kakak saya untuk mengaji di Langgar/Musholla depan rumah kami setekah maghrib dan Isya’ dan setelah itu diwajibkan pulang. Instruksi ibu saya itu bagi anak seusia saya tentu “menjengkelkan” karena berarti melarang saya untuk bergabung dengan teman-teman saya untuk kluyuran tanpa arah –yang di Yogyakarta itu disebut Klitih.

Sementara itu profesi seorang tetangga kami yang bertempat tinggal di gang 4 (kami di gang 5) sangat unik – yaitu menjadi maling atau pencuri. Cak Wito nama tetangga kami ini yang tinggal dirumah ukuran kecil sekitar 2x3 meter terbuat dari “gedek” atau anyaman bambu. Dia pencuri terkenal – tapi mencurinya didaerah lain, bukan di kampung sendiri.

Di jaman itu saya menyaksikan kalau di kota Surabaya ini ada dua geng besar, yaitu Viking yang teritorinya di kawasan Tanjung Perak, Surabaya utara, sedangkan yang dikawasan selatan ada gang bernama Giant.

Sementara di kawasan dekat Pasar Besar ada geng “Jaket Kulit” yang anggota nya terdiri dari orang-orang gelandangan; dan disebut Jaket Kulit karena anggota gang ini banyak yang gak pakai baju. Geng-geng itu sering terlibat tawuran.

Belum lagi saya beberapa kali menyaksikan korban “Carok” (cara duel dari suku Madura yang sering berakibat kematian) didekat rumah saya.

Semua kisah saya diatas itu berada disekitar saya setiap hari; dan ketika menanjak dewasa saya baru “Ngeh” atau menyadari bahwa perrintah ibu saya untuk mengaji di Musholla dan pulang setelahnya memiliki dampak yang positif bagi perjalanan hidup saya.

Bayangkan kalau ibu saya tidak mengajari saya disiplin seperti itu maka tentu saya bisa saja terpengaruh lingkungan saya yang negatif itu.

Oleh: Ahmad Cholis Hamzah

Penulis aktif menulis di Koran Jawa Pos, Surya, dan rutin menulis di GNFI. Beberapa tulisannya acapkali dimuat/dikutip Koran Malaysia dan Thailand. Penulis yang juga tersohor sebagai akademisi sekaligus profesional di kota kelahirannya, Surabaya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Ahmad Cholis Hamzah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Ahmad Cholis Hamzah.

AH
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini