Social Loafing, Sebutan Bagi Anggota Kelompok yang Malas Berkontribusi

Social Loafing, Sebutan Bagi Anggota Kelompok yang Malas Berkontribusi
info gambar utama

Bagi Goodmates yang sedang duduk di bangku sekolah atau perkuliahan maupun yang sedang bekerja, pasti pernah kan memiliki tugas atau projek yang harus dilakukan secara berkelompok? Biasanya, dalam sebuah kelompok rasanya selalu ada saja anggota kelompok yang dirasa kurang berkontribusi.

Mulai dari saat berdiskusi brainstorming bersama lebih banyak diam dan mengikuti arus saja, sampai yang banyak alasan halangan ini-itu dan susah sekali dihubungi sejak awal. Belum lagi keadaan pandemi yang membuat hampir semuanya dilakukan secara online, termasuk kerja kelompok.

Rasanya ada saja anggota kelompok yang kehadirannya antara ada dan tiada. Ternyata kondisi ini memiliki istilah dalam psikologi.

Mengenal istilah social loafing

ilustrasi kerja kelompok. | Sumber: Campaign Creators/Unsplash
info gambar

Istilah social loafing pertama kali dicetuskan oleh Max Ringelmann, seorang ahli teknik pertanian dari Perancis pada tahun 1913. Wah, ternyata sudah lama juga ya, Goodmates. Melansir dari Very Well Mind, Max Ringelmann awalnya ingin meneliti fenomena social loafing melalui sebuah eksperimen di mana ia meminta para partisipan untuk menarik sebuah tali baik secara sendirian juga secara berkelompok.

Hasilnya justru ia menemukan saat orang-orang digabung menjadi sebuah kelompok. Mereka membuat usaha yang lebih sedikit untuk menarik tali, dibandingkan saat mereka bekerja secara individu, mereka menarik tali lebih kuat saat sendirian.

Semakin banyak orangnya, bukan semakin banyak tambahan tenaga. Justru semakin berkurang performa yang dihasilkan.

Dilansir dari Simply Psychology, Max Ringelmann menghubungkan fenomena ini dengan dua hal, kehilangan koordinasi dan kehilangan motivasi. Menurutnya, penyebab utama social loafing (kemalasan sosial) disebabkan oleh kurangnya koordinasi serta di beberapa kasus, para anggota kelompok kehilangan motivasi sebab mempercayai anggota lainnya akan memberikan usaha yang diinginkan.

Selain itu, merangkum dari Very Well Mind, terdapat beberapa alasan lain mengapa social loafing dapat terjadi. Di antaranya kurang motivasi mengerjakan tugas tertentu dapat menjadi penyebab mengapa orang-orang menjadi social loafers.

Kemudian, kurangnya rasa tanggung jawab terhadap tugas tersebut. Ketika seseorang mengetahui usaha mereka berdampak kecil terhadap hasil keseluruhan juga dapat menjadi salah satu faktor penyebab.

Ukuran kelompok juga ternyata berpengaruh lo terhadap fenomena ini. Biasanya dalam kelompok yang lebih kecil, orang-orang akan merasa usaha mereka penting dan berpengaruh sehingga lebih banyak berkontribusi.

Alasan lainnya adalah ekspektasi. Kalau seseorang berpikiran anggota kelompoknya akan bekerja seadanya saja, orang tersebut akan bekerja lebih keras bagi kelompoknya. Sebaliknya, jika seseorang berada dalam kelompok yang beranggotakan anak-anak berprestasi tinggi, bisa jadi orang tersebut akan menjadi social loafers karena merasa ada orang lain yang dapat membantu mengerjakan sebagian besar tugas kelompok.

Berhenti social loafing dengan lakukan hal ini

memberi apresiasi sebagai salah satu cara atasi social loafing. | Sumber: Kelly Sikkema/Unsplash
info gambar

Pernahkah Goodmates sedang kerja kelompok, tapi saling tunggu menunggu siapa yang akan memulai diskusi terlebih dahulu? Bisa jadi itu adalah fenomena social loafing. Terus gimana cara mengatasinya?

Merangkum penjelasan oleh Satu Persen, di antaranya kamu dapat melakukan seperti membagi tugas dan tanggung jawab individu. Dengan membagi tugas secara jelas kepada setiap anggota, dapat menumbuhkan rasa tanggung jawab masing-masing individu terhadap tugasnya masing-masing. Kamu juga dapat membuat peraturan yang jelas, seperti menentukan tenggat waktu.

Setelahnya, kamu dapat mengevaluasi kinerja individu dan kelompok. Gunanya untuk mengetahui apa saja yang perlu ditingkatkan dan dipertahankan agar hasil performa kelompok berjalan produktif dan baik.

Jangan lupa juga untuk mengapresiasi pencapaian anggota individu. Apresiasi ini dapat menambah rasa semangat tiap individu untuk melakukan tugasnya.

Referensi: Very Well Mind | Simply Psychology | Satu Persen

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini