Hustle Culture, Budaya Gila Kerja Milenial dan Generasi Z

Hustle Culture, Budaya Gila Kerja Milenial dan Generasi Z
info gambar utama

Adanya pandemi memang dapat menjadi batasan ruang dan gerak bagi sebagian orang. Namun, dengan dibiasakannya work from home (WFH) menjadikan kurangnya sekat antara dunia kerja dan ruang pribadi.

Selain itu, beberapa orang juga memanfaatkan situasi ini untuk melakukan sebanyak mungkin kegiatan dalam satu waktu. Entah dengan mengambil porsi pekerjaan secara lebih, hingga menghabiskan waktu yang dimiliki untuk bekerja saja.

Inilah apa yang biasa kita sebut sebagai hustle culture, suatu budaya yang mengedepankan glorifikasi atau penghargaan berlebih atas padatnya aktivitas seseorang. Istilah yang dikenal sejak tahun 1970-an ini memberikan berbagai dampak buruk bagi kesejahteraan fisik dan mental seseorang.

Hustle Culture:Berujung burn out yang perlu diakhiri

Pexels/Cup of couple
info gambar

Menurut pengertiannya, hustle culture merupakan sebuah gaya hidup saat seseorang merasa bahwa dirinya harus terus bekerja keras, dan hanya meluangkan sedikit waktu untuk beristirahat. Dengan menerapkan kebiasaan tak sehat ini, seseorang baru dapat menyebut dirinya sukses. 

Sejak pertama kali diidentifikasi pada tahun 1971, fenomena ini semakin menyebar dengan cepat, terutama di kalangan millennial dan kini Generasi Z. Fenomena ini membuat seseorang percaya bahwa aspek kehidupan paling penting adalah mencapai tujuan professional dengan bekerja keras tanpa henti.

Seseorang yang menerapkan hustle culture akan memprioritaskan pekerjaan dan dunia profesional di atas segala-galanya. Termasuk kesehatan dan kehidupan pribadi diri sendiri. 

Dilansir dari CNN Indonesia, tren hustle culture ini hampir dialami oleh sebagian besar pekerja di berbagai perusahaan, terutama kalangan generasi milenial yang fresh graduate. Tuntutan kebutuhan hidup yang banyak mengharuskan mereka bekerja lebih keras supaya mendapatkan penghasilan besar meskipun mengesampingkan kesehatan fisik dan mental diri sendiri.

Fenomena hustle culture juga dipicu faktor eksternal, salah satunya adalah petuah dari “orang-orang sukses” yang turut mendorong orang untuk terus bekerja tanpa henti. Kata-kata yang memicu motivasi ini membuat banyak orang semakin gila kerja.

Dampak buruk hustle culture: burn outhingga kematian

Pexels/Tim Gouw
info gambar

Sebuah studi dalam jurnal Occupational Medicine mengatakan bahwa orang dengan jam kerja yang lebih panjang, berapapun usianya, cenderung mengalami gangguan kecemasan, depresi, dan gangguan tidur.

Dilansir dari laman Forbes, suatu penelitian menunjukkan bahwa terdapat sekitar 55 persen pekerja di Amerika Serikat yang mengalami stress karena pekerjaannya. Hal ini terhitung 20 persen lebih tinggi dibandingkan angka keseluruhan di dunia.

Menurut Mental Health Foundation UK, sebanyak 14,7 persen pekerja di Inggris mengalami gangguan kesehatan mental akibat pekerjaan. Sedangkan di Jepang, jumlah pekerja yang mengalami penyakit jantung, stroke, hingga gangguan mental meningkat tiga kali lipat akibat kelelahan bekerja.

Tentu saja, hustle culture tidak hanya mencengkeram pekerja di negara maju. Di Indonesia sendiri, 1 dari 3 pekerja mengalami gangguan kesehatan mental akibat jam kerja berlebih. Khususnya di masa pandemi ini, menjamurnya motivasi dan seruan agar tetap produktif dari rumah ikut memunculkan tren hustle culture baru. 

Bahkan, bukan hanya pekerja saja yang mengalami permasalahan ini. Para mahasiswa yang mayoritas merupakan generasi Z turut terkena dampaknya. Mereka yang harusnya memfokuskan diri pada akademik di tahun-tahun pertama kuliah, menjadi terdistraksi dengan keharusan untuk memiliki pengalaman pekerjaan sebelum lulus kuliah. 

Hal ini diperparah dengan perusahaan yang mengakomodasi fenomena ini dengan melakukan eksploitasi terhadap pekerja dengan embel-embel profesionalitas dan budaya kerja. 

Dilansir dari The Daily Star, bekerja berlebihan memiliki berbagai da

mpak buruk bagi tubuh. Misalnya, gangguan pada ritme biologis yang ikut mempengaruhi kesehatan mental, dan dampak negatif bagi efisiensi kerja dikarenakan stres hingga depresi, serta beberapa penyakit seperti hipertensi, dan komplikasi serebro-kardiovaskular.

Keluar dari lingkaran hustle culture

Pexels/Alex Green
info gambar

Menerapkan work-life balance menjadi salah satu cara efektif agar terhindar dari dampak buruk budaya bekerja berlebihan. Kita harus benar-benar menempatkan batasan yang tegas antara dunia pekerjaan dengan dunia pribadi.

Melakukan evaluasi jadwal kerja dan memperhitungkan berapa waktu istirahat yang Goodmate punya dapat menjadi langkah awal untuk mengenali ritme hidup secara umum. Selain itu, pastikan Goodmate memprioritaskan waktu tidur yang cukup mengingat pentingnya aktivitas tersebut bagi kesehatan jangka pendek dan panjang.

Selain itu, time blocking dapat menjadi opsi untuk memblokir waktu untuk aktivitas lain. Misalnya, dengan memberikan waktu untuk melakukan hobi dan relaksasi setelah bekerja seharian. Jika tak mungkin diagendakan di hari kerja, Kawan dapat menjadwalkannya di hari libur (weekend).

Itulah hustle culture beserta dampak buruk dan apa yang dapat Goodmate lakukan untuk menghindarinya. Apapun yang Goodmate lakukan, jangan sampai lupa untuk beristirahat dan melakukan kegiatan favorit Goodmates, ya!

Referensi: Fakultas Kedokteran Unair | CNN Indonesia | The Daily Star

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini