Nisa Sri Wahyuni, Putri Driver Ojol yang Menempuh Pendidikan hingga ke London

Nisa Sri Wahyuni, Putri Driver Ojol yang Menempuh Pendidikan hingga ke London
info gambar utama

Beberapa waktu lalu, postingan akun LinkedIn milik Nisa Sri Wahyuni sempat viral di media sosial, terutama di kalangan para pelajar dan mahasiswa. Dalam unggahan tersebut, Nisa menuliskan sepenggal kisah di balik gelar yang baru saja diraihnya, yaitu sarjana S2 Epidemiologi dari Imperial College London.

Melampirkan dua buah foto, yaitu foto terbaru dirinya dengan toga kelulusan dan fotonya bersama sang ayah yang mengenakan jaket khas pengemudi ojek online (ojol). Nisa mengenalkan sosok ayahnya yang berkarier sebagai driver ojolsetelah sempat menjadi petugas satpam sekolah.

Nisa juga bercerita bahwa kedua orang tuanya tidak memiliki pendidikan yang tinggi karena hanya lulus sampai tingkat SD. Namun, keduanya memiliki harapan kuat agar putrinya mampu menempuh pendidikan yang lebih tinggi dari mereka.

Harapan itulah yang membuat orangtuanya selalu bekerja keras dan mendukung Nisa dalam perjalanan pendidikannya. Penasaran dengan sosok Nisa yang inspiratif? Yuk, simak kisahnya!

Nisa menempuh 3 Universitas di 3 Negara Berbeda

Menara Queens di Imperial College London | Foto: The Guardian/Imperial College London
info gambar

Bicara mengenai perjalanan pendidikan, tak tanggung-tanggung, Nisa berhasil mengenyam pendidikan tingkat tinggi di tiga kampus di tiga negara berbeda. Memulai pendidikan S1 di Universitas Indonesia (UI) pada tahun 2013, ia berkesempatan untuk merasakan short study atau pendidikan singkat di Inha University, Korea Selatan sebagai mahasiswa internasional pada tahun 2015.

Pada tahun 2017, Nisa berhasil menyelesaikan studi S1 Epidemiologi di UI dalam waktu 3,5 tahun dengan predikat cum laude. Dua tahun kemudian, ia menempuh pendidikan S2 dengan jurusan yang sama di Imperial College London dan lulus pada tahun 2020.

Nisa aktif organisasi

Menjadi perwakilan pembicara dari BEM FKM | Foto: Nisa Sri Wahyuni/LinkedIn
info gambar

Lulus dengan predikat cum laude tentu saja diraih dengan ketekunan dan fokus yang baik selama kuliah. Namun, ternyata tak hanya fokus di bidang akademik, Nisa juga merupakan mahasiswi yang aktif dalam kegiatan organisasi kampus.

Ia pernah menjabat sebagai ketua Divisi Pendidikan dan Keilmuan BEM Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) UI dan dewan redaksi, dari Berkala Ilmiah Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Indonesia (BIMKMI) pada Agustus 2015 hingga September 2016.

Tak hanya di Indonesia, selama berkuliah di London, Nisa merupakan perwakilan (student ambassador) dari jurusan Epidemiologi di tingkat S2. Selain itu, ia juga tergabung dalam UNICEF Imperial College London.

Nisa memiliki banyak prestasi

Ajang mahasiswa berprestasi | Foto: Nisa Sri Wahyuni/LinkedIn
info gambar

Selain aktif dalam organisasi, sosok Nisa Sri Wahyuni juga memiliki segudang prestasi semasa kuliah. Ia memiliki pengalaman sebagai asisten dosen untuk mahasiswa tingkat S1 dan S2. Pada Maret 2016, Nisa berhasil menyabet juara 2 mahasiswa berprestasi di lingkup Fakultas Kesehatan Masyarakat UI.

Ia juga aktif menjadi pembicara di berbagai seminar terkait fokus studi yang dipelajarinya. Menariknya, ia pernah menjadi dalam acara internasional, 2nd Asia Wash Symposium yang diselenggarakan di Hiroshima, Jepang.

Saat ini Nisa berkarier sebagai konsultan. Sebelumnya, Nisa pernah bekerja sebagai program liaison, penulis, hingga analis proyek penelitian.

Dalam postingan Linkedin yang menceritakan tentang orang tuanya tersebut, Nisa mengatakan bahwa kita tidak bisa memilih dalam kondisi seperti apa kita dilahirkan. Namun, kita bisa menggunakan kekuatan yang telah Tuhan berikan dengan selalu bekerja keras di setiap hal yang kita kerjakan.

Kerja keras itulah yang ia teladani dari kedua orang tuanya. Ia ingin menegaskan, bahwa semua kerja keras akan terbayarkan di kemudian hari. Semoga kisah inspiratif dari Nisa Sri Wahyuni ini dapat memberi Goodmates semangat dalam mengejar mimpi, ya!

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini