Landasan Berpikir Seorang Pemimpin

Landasan Berpikir Seorang Pemimpin
info gambar utama

#FutureSkillsGNFI

Setiap harinya, zaman dan teknologi berkembang dengan kecepatan luar biasa karena fenomena tersebut demonstrasi informasi menabrak kita setiap saat. Premis tadi berimplikasi pada kalian sebagai calon pemimpin masa depan untuk membawa inovasi dalam metode kepemimpinan yang diimplementasikan. Berdasarkan landasan tersebut, tugas dan fungsi pemimpin untuk memberikan informasi kepada seluruh jajaran agaknya menjadi tidak relevan.

Lantas, apa yang dapat dilakukan sebagai pemimpin selain melakukan peran manajerial organisasi dan memberikan informasi ke staf kalian? Perhatikan dan resapi beberapa pola berpikir fundamental di bawah agar kalian dapat memimpin dengan lantang.

  1. Tentukan tujuan yang jelas

“Siapa kamu?”, dan “Apa yang kamu mau?” pertanyaan mendasar tersebut tidak pernah dijawab oleh 95% populasi dunia. Jika kalian ingin menjadi pemimpin yang disegani dan dipercaya, jawablah kedua pertanyaan tadi sebelum memimpin.

Setelah menemukan jati diri dari menjawab kedua pertanyaan tersebut, sekarang tentukanlah tujuan kamu memimpin untuk apa. Apakah itu untuk diri sendiri? Kepentingan orang banyak? atau bahkan kepentingan yang tidak dapat disebutkan? Semua alasan yang kalian miliki tidak ada yang salah, sekarang bagaimana cara kalian untuk menyampaikan tujuan tadi agar seluruh anggota bergandengan di jalan yang sama.

 

  1. Menginspirasi untuk bertindak

Secara definisi, pemimpin mungkin orang yang memiliki kewenangan, jabatan atau posisi. Namun, semua fasilitas tadi menjadi tidak efektif ketika kamu hanya semata-mata memanfaatkan posisi untuk memerintah tanpa alasan yang jelas. Pemimpin harus bisa menyampaikan mengapa dia mendelegasikan tugas kepada anggotanya, hal ini dilakukan agar mereka menjalankan tugas sepenuh hati tanpa paksaan berarti dari atasan.

Menuju sebuah pembaharuan dari status quo ‘kondisi stagnan’ organisasi memerlukan keberanian yang tidak sedikit, maka dari itu sekali lagi seorang pemimpin harus berkomunikasi dengan jelas kepada konstituennya untuk mendobrak keadaan tersebut. Mungkin memberikan landasan filosofis mengapa perubahan harus dilakukan terdengar merepotkan, namun sebenarnya orang-orang akan bekerja sepenuh hati ketika mereka merasa dilibatkan sepenuhnya.



  1. Terjun pada situasi penting

Proses untuk keluar dari status quo pastinya banyak melewati halang rintang yang tak terpikirkan sebelumnya. Situasi inilah yang membutuhkan pemimpin untuk terjun langsung dan membersamai jalan setapak yang diambil oleh anggotanya, ketika keadaan seperti ini terjadi pemimpin harus bisa membantu dalam menemukan jalan keluar dan memberikan dukungan moril secara terus-menerus. Ketika membersamai konstituen kalian di situasi seperti ini, rasa percaya dan keinginan organik untuk mengikuti apa yang pemimpin perintahkan akan mulai tumbuh.

Membersamai setiap titik perjalanan dari organisasi memang penting, namun untuk ikut mencampuri setiap keputusan dari anggota kalian bukanlah hal bisa dianggap baik. Ketika kita turut mengurus segala sesuatu dan mengambil keputusan dari tiap bagian organisasi, hal tersebut akan membuat anggota kalian sulit berkembang.



  1. Jangan pernah tinggalkan satu orang pun

Ketika memimpin, sebagian besar orang terlalu fokus melihat gambaran besar dari tujuan yang akan dicapai, namun tidak melihat tiap titik yang ada dalam organisasi. Menilik lebih jauh keadaan yang sedang terjadi dalam bagian-bagian organisasi, kemungkinan besar kalian akan menemukan orang-orang yang sedang merasa lelah, bosan, demotivasi atau bahkan merasa ditinggalkan. Disinilah peran pemimpin dibutuhkan, untuk melihat secara mendalam keadaan yang sedang terjadi tidak hanya tujuan organisasi namun juga internal organisasi itu sendiri.

Memang tidak mudah untuk melihat apakah seluruh anggota telah bahagia ketika sedang bekerja, namun ada beberapa metode untuk memeriksa keadaan tersebut contohnya Key Performance Indicator (KPI). Fungsi dari KPI tidak hanya untuk menjaring staf yang bekerja tidak maksimal, namun juga monitoring progress individual, apakah telah bekerja dengan baik atau tidak. 



  1.   Komunikasi secara konsisten

Dalam menggapai tujuan dari organisasi, seorang pemimpin harus secara konsisten menyampaikan narasi dan mengingatkan anggotanya tentang cita yang ingin dicapai. Walaupun sebuah organisasi memiliki budaya profesionalitas dan konsep mengingatkan terdengar melelahkan serta membuang-buang waktu, hal ini vital dilakukan karena seringkali staf melupakan esensi pekerjaan karena fokus dalam mengejar luaran. 

Menjadi seorang pemimpin di era sekarang bukanlah sebuah pekerjaan mudah, pasalnya secara tidak langsung pemimpin dituntut untuk memberikan sesuatu yang lebih dari sekedar informasi. Di lain sisi, pemimpin harus memperhatikan setiap titik organisasi dan secara konsisten mengkomunikasikan tujuan dari organisasi. 

 

Referensi:Leading Out Loud: A Guide for Engaging Others in Creating the Future I Buku dari Terry Pearce

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini