Peduli Sesama melalui Komunitas Sukarelawan

Peduli Sesama melalui Komunitas Sukarelawan
info gambar utama

Pada dasarnya, manusia tercipta sebagai makhluk sosial yang hidup berdampingan, menjalani hidup tolong menolong guyub rukun sebagai satu kesatuan. Namun, kondisi manusia satu dengan yang lain sangat berbeda sehingga seharusnya kita dapat saling melengkapi satu sama lain.

Seseoranh yang memiliki kemampuan lebih dapat melengkapi kekurangan orang lain. Begitu juga sebaliknya. Manusia dikatakan sebagai makhluk sosial bukan tanpa dasar. Manusia sebagai makhluk sosial berarti manusia tidak dapat hidup sendiri, harus berdampingan dan saling membutuhkan dengan manusia lainnya.

Seperti prinsip Rumah Zakat Infaq Sodaqoh - Universitas Gadjah Mada (RZIS UGM) berkomitmen untuk selalu membantu mereka yang kekurangan, baik secara ekonomi maupun fisik. RZIS memiliki daftar khusus bagi para disabilitas untuk diberikan santunan setiap bulannya melalui para relawan.

Mengulik cerita dari salah satu relawan, pengalaman yang ia dapatkan selama di RZIS begitu banyak dan bermanfaat. Dalam kegiatannya, para relawan berinteraksi langsung dengan para penerima zakat. Relawan pun memiliki kesempatan khusus untuk berkunjung ke panti asuhan pilihan sehingga selama proses menjadi relawan tersebut, relawan akan banyak bertemu orang-orang baru yang hebat.

Salah satu yang menjadi pengalaman terbaik bagi para relawan adalah banyaknya nasehat serta pelajaran hidup yang secara tidak langsung diberikan oleh para penerima zakat tersebut.

Ibu Sri Rahayu namanya, salah satu penerima zakat tuna netra. Semangat hidupnya sungguh luar biasa. Hari demi hari Ibu Sri Rahayu mengandalkan panti pijatnya untuk bertahan hidup dan menafkahi putri semata wayangnya yang saat ini duduk di bangku SMK. Ibu Sri telah lama mendalami profesinya hingga ia mendapatkan sertifikat pelatihan pijat profesional di Bandung.

Hidup sendiri dengan anak kandungnya, Ibu Sri sering merasa kesepian. Tak heran setiap relawan datang ke rumahnya, Ibu Sri selalu bahagia dan meluapkan ceritanya dengan menggebu-gebu. Ibu Sri adalah pribadi yang ceria dan sangat ramah. Ketika diwawancara, Ibu Sri menjawab dengan hati-hati dan sesekali diselingi dengan candaannya yang begitu hangat.

Ibu Sri mengatakan bahwa kehidupan akan terus berjalan apapun yang terjadi. Sebab itu, beliau tidak ingin larut dan terpuruk dengan keterbatasan yang ia miliki.

Berbincang dengan Ibu Sri telah cukup mengetuk hati nurani untuk dapat lebih bersyukur dan semangat menjalani takdir kehidupan yang telah diberikan Tuhan. Ibu Sri menceritakan bagaimana ia menjalani kehidupan kesehariannya. Selain merintis panti pijat, Ibu Sri juga aktif berkegiatan dengan komunitas tuna netra. Di dalam komunitas tersebut Ibu Sri mendapatkan mentoring berbagai ketrampilan seperti menjahit, memasak, dan lainnya.

Komunitas tersebut memberikan wadah bagi para tuna netra untuk dapat berkembang dan menumbuhkan kreativitasnya. Ibu Sri mengatakan bahwa ia dan teman-teman tuna netra yang lain merasa sangat terbantu dengan adanya komunitas tersebut.

Ibu Sri juga selalu aktif untuk bersosialisasi dengan tetangga sekitar rumahnya. Ia selalu berpartisipasi dalam kegiatan desa dan membantu pekerjaan yang ia mampu. Ibu Sri menegaskan bahwa keterbatasannya tidak menjadi halangan untuk dapat menjalani kehidupan seperti orang lain yang memiliki fisik sempurna.

Harapan terbesarnya saat ini adalah membahagiakan putrinya. Ia mengatakan bahwa sering kali putrinya merasa malu dengan kondisi Ibu Sri hingga putrinya tidak jarang untuk lebih sering menginap di tempat saudara. Ibu Sri ingin putrinya bermimpi setinggi mungkin. Ia yakin bahwa usaha dan kerja kerasnya dapat mengantarkan putrinya menggapai mimpi-mimpi tersebut.

 

Referensi: Wawancara

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini