Mengenal Budaya Manggoro di Kalangan Petani

Mengenal Budaya Manggoro di Kalangan Petani
info gambar utama

#FutureSkillsGNFI

Manggoro adalah sebuah istilah yang digunakan di daerah Minangkabau, Sumatra Barat untuk mendefinisikan kegiatan para petani mengusir para hewan yang kerap kali mengganggu tanaman mereka, terlebih ketika musim panen hampir tiba.

Dalam hal ini, maksudnya adalah tanaman padi yang umummnya ditanam oleh petani. Tidak menutup kemungkinan dengan tanaman lain, semisal tanaman perkebunan seperti umbi-umbian dan sayur-sayuran. Tanaman ini seringkali menjadi sasaran empuk hewan pengganggu seperti babi dan beragam jenis burung.

Biasanya, babi sering mendatangi tanaman pada lahan perkebunan yang berada di kaki bukit (biasanya yang dekat dengan hutan). Sementara itu, beberapa jenis burung pemakan biji-bijian, termasuk ayam, lebih sering menganggu tanaman padi. Namun, bukan hal yang mustahil jika babi tidak mendatangi areal persawahan, sekali lagi khususnya yang berlokasi di dekat hutan.

Lebih dari 20 tahun menekuni profesi sebagai petani, Alwhir (56 tahun) menyebut, kegiatan manggoro ini dimulai sejak tanaman berusia 3 bulan sampai musim panen tiba. Hal ini ditujukkan agar memperoleh hasil panen lebih maksimal. Selain itu, berusaha menekan kerugian panen yang berarti.

Ketika saat itu tiba, banyak petani yang mulai memperbaiki dangau, hunian sederhana dari kayu atau bambu sebagai tempat berteduh, biasanya bangunan ini berada di sekitar areal persawahan sebagai tempat beristirahat dan melakukan kegiatan manggoro ini. Menurutnya, penting melakukan hal ini terlebih akan ada waktunya saat petani akan berjaga sampai malam hari jika ada hewan yang masuk ke daerah tersebut.

Ilustrasi | Foto: Contently.com
info gambar

Beliau memaparkan beberapa cara yang biasa ia gunakan dalam kegiatan manggoro ini.

1. Menggunakan Kaleng Alumunium Bekas

Pertama, menggunakan kaleng alumunium bekas. Ia melubangi beberapa kaleng, menghubungkan dengan tali panjang, dan menggantung di atas areal persawahan dengan patok yang terpasang di beberapa tempat, seperti pada ujung pematang sawah dan di dalam areal persawahan.

Ia mengikat dan mengatur ujung tali sedemikian rupa agar salah satu atau beberapa ujungnya dapat ditarik dari dangau dalam selang waktu tertentu atau ketika ada burung yang hinggap di tanaman padi.

Tali yang ditarik akan mengeluarkan suara bising dari kaleng yang saling bergoyang dan bersenggolan. Suara bising ini akan mengagetkan dan mengusir para burung yang akan dan/atau telah hinggap di tanaman padi.

Namun, ada cara yang lebih cerdas agar kaleng tersebut dapat berbunyi tanpa harus berulang kali menarik talinya, yakni dengan memanfaatkan aliran air dari bandar yang berasal dari atas bukit, karena pada dasarnya struktur persawahan umumnya berjenjang.

Metode ini dilakukan dengan menyiapkan satu ruas bambu untuk menampung air dari bandar tadi. Bagian bawahnya ditopang dengan kayu, sedemikian rupa dibuat seimbang. Nantinya, ruas bambu akan bergerak turun ketika sudah terpenuhi air, lalu kembali lagi ke atas setelah airnya kosong.

Gerakan inilah yang akan menggerakkan seperangkat kaleng sehingga menghasilkan suara bising. Kendalanya, petani harus rutin mengecek apakah aliran air cukup deras agar tidak terlalu memakan waktu untuk menggerakkan ruas bambu.

2. Memasang Jaring Mengelilingi Sawah

Kedua, petani akan memasang jaring mengelilingi sawahnya. Hal ini berguna mencegah hewan selain burung, termasuk ayam, mendekati tanaman padi. Selain itu, sedikit banyaknya, peluang masuknya babi pun dapat berkurang.

Jika petani memiliki uang labih, tak jarang ia melingkupi sawahnya dengan jaring serupa, agar burung tidak dapat hinggap di tanaman padinya. Nah, ini akan lebih kompleks karena menggabungkan dua cara sekaligus.

Jika jaringnya terbatas, petani hanya akan memasang jaring bagian atas pada sebagian tanaman padi saja, petani biasanya bisa memperkirakan arah datangnya burung dengan mengetahui perkiraan lokasi kerumunan burung tersebut.

3. Membuat Bendera dari Plastik dan Tongkat Kayu

Ketiga, membuat bendera dari plastik dan tongkat kayu. Petani akan sesekali berkeliling sembari mengayunkan bendera tersebut untuk mengusir hewan yang masuk. Risikonya, ini tentu memakan lebih banyak waktu dan tenaga. Selain itu, ada pula yang membuat orang-orangan sawah di samping tetap menjalankan cara ini.

4. Menancapkan Patok di Tengah Sawah

Keempat, menancapkan patokdi tengah sawah. Di atasnya petani pun menancapkan sabuk kelapa yang diisi dengan keong sawah yang sudah dihancurkan. Metode ini terbilang paling sederhana karena lebih mudah dalam pengaplikasiannya. Namun, kesederhanaannya membuat para petani harus menggabungkannya dengan metode lainnya.

Di lain sisi, cara ini ternyata cukup multifungsi, yakni mencegah hewan pengganggu mendekati tanaman padi dengan bau tidak sedap dari keong sawah yang telah hancur sekaligus memanggil hama wereng mendekati bau busuk tersebut (hama wereng menyukai bau busuk), sehingga tidak hinggap di tanaman padi.

Alwhir mengatakan, “Di masa sekarang sudah jarang petani yang melakukan manggoro. Mereka lebih memilih mengalihfungsikan lahan pertanian mereka, khususnya yang berada dekat dengan hutan, menjadi lahan perkebunan yang ditanami tanaman berumur panjang."

"Jika tidak dialihfungsikan, biasanya para petani membabat habis tumbuhan lalang dan semak belukar di sekitar areal persawahan mereka. Lalu, membiarkan hasil panen alakadarnya sehingga lahan tersebut kurang produktif. Alasannya, karena perlulebih banyak waktu yang untuk melakukan kegiatan manggoro. Tergantung prioritas masing-masing,” beliau menambahkan.

 

Referensi: Wawancara

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini