Hidroponik: Alternatif Berkebun di Lahan Sempit

Hidroponik: Alternatif Berkebun di Lahan Sempit
info gambar utama

#FutureSkillsGNFI

Berkebun merupakan kegiatan menanam. Biasanya, seseorang melakukannya sebagai hobi atau pekerjaan dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas hidup.

Terbukti, Masashi Soga dari Universitas Tokyo bersama kedua rekannya, melakukan penelitian mengenai manfaat berkebun bagi kesehatan menggunakan teknik meta analisis. Analisis tersebut membuktikan bahwa berkebun bermanfaat untuk meningkatkan kualitas hidup seseorang dengan mengurangi tingkat stres dan meningkatkan aktivitas fisik serta fungsi kognitif.

Berkebun sendiri memiliki berbagai sistem yang dapat kita terapkan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan, salah satu caranya dengan metode hidroponik.

Hidroponik | Foto: Zoe Schaeffer via Unsplash.com
info gambar

Apa Itu Hidroponik?

Perbedaan hidroponik dengan cara berkebun pada umumnya adalah penggunaan media tanamnya. Budidaya tanaman hidroponik merupakan metode yang tidak menggunakan media tanah (soilless), tetapi memanfaatkan air atau larutan sebagai sumber nutrisi sebagai pengganti media tanah. Selain itu, budidaya tanaman hidroponik juga memerlukan bahan lain, seperti sabut kelapa, pasir, serat mineral, serbuk kayu, dan sebagainya.

Menanam dengan metode hidroponik merupakan bercocok tanam dengan memerhatikan pemenuhan nutrisi bagi tanaman. Selaku pegiat tanam menanam atau budidaya pertanian, Agus Subroto menjelaskan bahwa dalam berkebun dengan cara hidroponik membutuhkan berbagai jenis cairan nutrisi dan berbagai peralatan.

“Hidroponik itu menggunakan air sehingga nutrisinya berupa larutan atau bahan non-tanah yang bisa mengikat air nutrisi dalam jangka waktu yang cukup lama, misal cocopeat, arang sekam, akar pakir, dan lain-lain,” jelas Agus, saat diwawancarai melalui panggilan telepon.

Nutrisi yang harus digunakan dalam metode hidroponik harus mengandung unsur mikro dan makro, seperti fosfat, yang berguna untuk pembentukan akar dan kalium yang akan membantu proses fotosintesis. Jenis nutrisi hidroponik yang bisa kita temukan di pasaran adalah AB-Mix yang mengandung nitrogen, fosfor, kalium, kalsium, dan mangan.

Peralatan yang digunakan dalam menanam dengan metode hidroponik sederhana. Sangat mudah menemukannya karena kita bisa menggunakan barang bekas. “Untuk wadahnya bisa pakai botol atau gelas plastik bekas. Kemudian, ditaruh di box styrofoam atau pakai ember bekas,” tambah Agus.

 

Ilustrasi | Foto: Daniel Funes via Unsplash.com
info gambar

Solusi Berkebun Daerah Perkotaan

Berkebun pada umumnya identik dengan media tanah sehingga aktivitas tersebut cukup sulit dilakukan di daerah perkotaan yang padat bangunan karena minimnya lahan kosong.Karena tidak membutuhkan media tanah, metode hidroponik dianggap mampu menjadi alternatif bercocok tanam di lahan yang sempit dalam skala rumah tangga, terutama pada area perkotaan.

“Dalam skala rumah tangga, hidroponik bisa jadi pengganti ketika tidak ada lahan. Tetapi untuk skala produksi, pada akhirnya juga membutuhkan lahan yang luas dan instalasinya cukup mahal,” jelas Agus.

Dalam skala rumah tangga, menanam secara hidroponik tidak membutuhkan lahan yang luas karena dapat meletakkannya di belakang rumah atau tergantung pada dinding rumah. Pemberian nutrisi tanaman hidroponik dalam skala rumah tangga dapat dilakukan dengan sistem tetes atau drip system. Selain itu, metode hidroponik dapat diterapkan untuk banyak jenis tanaman dan hasil tanam dapat juga dikonsumsi.

“Tanaman yang bisa (ditanam melalui hidroponik) itu kangkung, pakcoy, selada, atau tomat. Pokoknya tanaman jangka pendek, bukan tanaman tahunan atau jangka panjang, seperti buah jeruk,” tambah Agus.

Hidroponik dalam skala rumah tangga mampu memberikan manfaat bagi manusia karena memberikan suplai oksigen dan meminimalisir polusi udara. Keuntungan yang didapatkan dari berkebun secara hidroponik tidak hanya dalam segi ekologi, tetapi juga kesehatan masyarakat.

 

Referensi: Wawancara | National Library of Medicine | Merdeka

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini