Alternatif Wisata, Yuk Menengok Kampung Kerbau di Ngawi

Muhammad Miftakul Falakh

Membaca Positif Membantu Meringankan Beban Hidup

Alternatif Wisata, Yuk Menengok Kampung Kerbau di Ngawi
info gambar utama

Dusun Bulak Pepe di Desa Banyubiru, Kecamatan Widodaren, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, sekilas seperti kampung pada umumnya. Masyarakatnya mayoritas menjadi petani. Hilir mudik mencari penghidupan dari hasil olah tanah khas warga pedesaan.

Namun ada satu yang menarik. Selain kampung ini berada di tengah kawasan hutan jati Perhutani, Dusun Bulak Pepe juga menjadi rumah bagi ratusan ekor kerbau yang merupakan hewan ternak warga setempat. Atas fenomena itu, Dusun Bulak Pepe juga tenar disebut Kampung Kerbau.

Sedikitnya ada 900-an ekor kerbau. Hewan ternak mirip sapi ini, oleh warga setempat dijuluki Rojo Koyo. Istilah Jawa yang merujuk pada kebudayaan. Rojo yang berarti raja, dan Koyo yang berarti kekayaan.

Kerbau salah satu dari sekian jenis hewan yang masuk daftar Rojo Koyo masyarakat Jawa. Yakni hewan ternak yang memberikan nilai tambah selain dari hasil pertanian. Selain kerbau, ada sapi dan kambing yang jadi daftar Rojo Koyo masyarakat Jawa.

Akses yang cukup mudah

Perjalanan untuk menuju Kampung Kerbau bukan sesuatu yang sulit. Akses menuju dusun Bulak Pepe cukup mudah. Dari pusat Kabupaten Ngawi hanya berjarak sekira 45 menit perjalan darat. Dapat diakses dengan kendaraan roda dua (motor) atau empat (mobil).

Sesaat memasuki dusun ini, bentangan lahan hutan jati menjadi pemandangan yang dominan. Sesekali, lahan terbuka juga nampak ada. Lahan terbuka itu dikenal sebagai Mbaon. Istilah lahan terbuka diantara pepohonan jati yang biasanya digunakan untuk bertani. Terkadang ditanami kacang tanah, jagung, hingga palawija.

Di Dusun Bulak Pepe, ratusan kerbau hidup ditengah masyarakat. Para warga, umum memiliki sebuah rumah khusus yang dijadikan kandang kerbau. Rata-rata, satu keluarga memiliki 2-5 ekor kerbau. Tapi ada juga yang memiliki puluhan ekor.

Memelihara kerbau sudah menjadi tradisi masyarakat Bulak Pepe. Di tengah perkembangan zaman, warga setempat tetap gigih menjaga tradisi leluhur beternak kerbau, alih-alih beralih memelihara sapi.

Sisi menarik lainya, setiap kelahiran Gudel atau anak kerbau, masyarakat setempat memberikan penghormatan dengan menggelar selamatan. Sebagai tanda syukur bertambahnya hewan ternak yang dimiliki. Tradisi itu masih dijaga hingga sekarang.

Festival tahunan Gumbrekan Mahesa

Dari tradisi itu, berkembang festival tahunan. Warga setempat menamai Gumbrekan Mahesa. Festival itu digelar satu tahun sekali, yang pada intinya dilakukan untuk memperingati hari kelahiran gudel si anak kerbau.

Setiap festival Gumbrekan Mahesa, acara berlangsung meriah. Menjadi tontonan banyak masa. Tidak hanya turis lokal, tapi juga menarik penonton dari luar daerah. Tujuannya tidak lain untuk menyaksikan ratusan kerbau diarak keluar kampung. Berduyun-duyun memenuhi tanah lapang dusun setempat.

Terlepas dari festival Gumbrekan Mahesa, kerbau di Dusun Bulak Pepe juga termasuk hewan yang menjaga kebersihan. Di kala pagi, mamalia ini secara serempak akan keluar kandang. Digiring oleh penggembala untuk berendam di aliran sungai dusun setempat.

Puas berendam, oleh penggembala, kerbau akan dibawa ke hutan. Merumput seharian hingga tengah hari. Lalu, para kerbau akan kembali pulang ke kandang. Istirahat sejenak hingga matahari condong di barat.

Jelang sore hari, rombongan kerbau kembali lagi ke hutan. Sebelumnya, kerbau-kerbau juga akan berendam kembali. Setelahnya, baru diarak ke hutan untuk merumput hingga senja tiba.

Aktivitas sehari-hari kerbau di Dusun Bulak Pepe ini menjadi tontonan menarik. Tidak jarang, ada serombongan orang yang sengaja datang berkunjung demi melihat kerbau dan beragam aktivitasnya.

Dusun Bulak Pepe telah bertransformasi menjadi daya tarik tersendiri. Dengan potensi hewani, dan suasana asri pedesaan, tak jarang menggugah orang-orang untuk bertamasya ria. Apalagi, tidak banyak daerah yang memiliki koloni kerbau. Sementara di Kampung Kerbau Ngawi, ada ratusan ekor.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Muhammad Miftakul Falakh lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Muhammad Miftakul Falakh.

Tertarik menjadi Kolumnis GNFI?
Gabung Sekarang

MF
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini