Dewa 19, Kisah Band Termahal Lintas Usia dan Lintas Negara

Dewa 19, Kisah Band Termahal Lintas Usia dan Lintas Negara
info gambar utama

Beberapa hari lalu, media sosial Kuala Lumpur dibikin hiruk pikuk oleh band dari Indonesia, Dewa 19. Bukan karena mereka mengeluarkan album baru, pun bukan karena kisah asmara anggota band veteran tersebut, bukan. Melainkan, tiket konser Dewa 19 yang akan digelar 10 September 2022 di Kuala Lumpur, ludes hanya dalam waktu kurang dari satu jam.

Selanjutnya mudah ditebak, banyak Baladewa (sebutan untuk fans Dewa 19) yang meluapkan kekecewaan dan frustasi mereka di sosmed, karena sudah menunggu lama, dan ketika loket tiket dibuka (online), mereka tak dapat masuk.

Dan tahu-tahu, ketika mereka berhasil masuk, tiket sudah sold-out untuk semua kategori, dari kelas festival hingga kelas VVIP.

Media arus atas di negeri jiran pun tak ketinggalan memberitakan hal tersebut, yang pada intinya, "Dewa 19 akan konser di KL sebulan ke depan, dan tiket sudah habis dalam satu jam saja".

Banyak yang terkejut dan tidak menyangka melihat fenomena ini. Promotor pun mungkin terkejut mengetahui hal tersebut, karena yang dia datangkan bukan Cold Play ataupun BTS, melainkan 'hanya' band dari Indonesia.

Responnya cepat. Dia segera menghubungi Ahmad Dhani (sang pentolan sekaligus pendiri Dewa 19), agar mempertimbangkan mengadakan konser ke-2 di hari lain. Tujuannya jelas, agar para calon-calon penonton Malaysia yang kemaren gagal membeli tiket (karena kehabisan), bisa mendapatkan kesempatan ke dunia.

Ahmad Dhani setuju, dan konser pun ditambah 1 hari (kini 9 dan 10 September), dan penjualan tiket online dibuka kembali. Sold-out lagi? Tentu saja, semua tiket lagi-lagi terjual ludes dalam hitungan kurang dari 3 jam.

Kisah yang sama terjadi di Indonesia. Tahun ini, Dewa 19 merayakan 30 tahun berkareirnya, dengan mengadakan tour konser 30 kota di Indonesia--dan Kuala Lumpur, Malaysia.

Rangkaian konser tersebut masih berlangsung saat tulisan ini diketik, dan dari yang saya perhatikan (melalui IG, dan Tiktok), semua kota antusias menyambutnya.

Bagaimana tidak? Tak hanya venue selalu penuh, namun juga tiket selalu sold-out, dalam waktu singkat, jauh sebelum hari konser dilaksanakan.

Konser Dewa 19 di Bandung | @officialdewa19
info gambar

Hebatnya, kita tentu faham, bahwa tiket konser dewa tidaklah murah. Salah satu contohnya adalah konser pembuka di Surabaya, 27 Mei 2022, yang tiket pre-salenya habis hanya dalam waktu 3 hari sejak penjualan online dibuka, padahal penjualan dibuka menjelang lebaran, saat semua orang Indonesia "berhemat" untuk kebutuhan mudik dan merayakan Lebaran.

Sebagai informasi, harga tiketnya beneran mahal. Tiket VVIP konser tersebut berharga Rp5 juta per tiket, VIP Rp2,5 juta, dan kelas festival Rp500 ribu.

Tentu saja, banyak yang tak kebagian tiket, dan terpaksa mencari-cari tiket dari pembeli lain yang berhasil mendapatkan tiket, yang kemudian menjualnya dengan harga berlipat-lipat.

Hal yang sama terjadi di kota-kota lain yang disinggahi Dewa 19, dan dari feed instagram resminya, seringkali terbaca komentar-komentar dari banyak orang yang menyatakan mereka tak kebagian tiket.

Yang terbaru adalah tiket konser mereka di pelataran Candi Prambanan, Yogyakarta, 6 Agustus 2022 nanti. Konser di Jogja ini tergolong paling istimewa ketimbang konser di kota-kota lain dalam rangkaian Tour 30 kota ini, karena diadakan outdoor, dan berlatang belakang situs bersejarah, Candi Prambanan.

Yogyakarta dan sekitarnya, yang bukanlah kota-kota kaya di Indonesia, 'mampu menyerap' tiket konser Dewa 19 yang berharga jutaan tersebut (dari VIP Rp2,5 juta hingga kelas festival Rp250.000) dalam waktu singkat, dan sudah sold-out sejak dua minggu lalu, sebulan sebelum konser berlangsung.

Ada hal lain yang kiranya penting saya sampaikan.

Saya beruntung mendapatkan tiket konser perdana di Surabaya Mei 2022 lalu. Dari ribuan penonton, saya mengharapkan akan bertemu dengan Baladewa yang rata-rata kini sudah bekerja, berkeluarga, punya anak, dan berpendapatan menengah.

Ternyata saya salah.

Bagi saya cukup mengejutkan bahwa sebagian besar penonton adalah anak-anak muda yang, menurut pendapat saya, 'terlalu muda' untuk menjadi fans Dewa 19.

Mengapa? Waktu band tersebut mengeluarkan album perdana, bisa jadi anak-anak muda ini belum lahir. Pun album-album hits Dewa 19 yang lain, yang menjadi hits di dunia musik Indonesia (album terakhirnya adalah Kerajaan Cinta tahun 2007), mereka juga masih sangat muda. Sehingga bagi saya sangat 'mengherankan dan takjub" bahwa mereka sing-along sepanjang konser, hafal semua lirik dan nada lagu.

Pertanyaan saya berikutnya adalah, siapa anak-anak muda itu? Dan lagi-lagi, dari mana mereka mendapatkan uang untuk membeli tiket yang mahal itu? Pertanyaan itu terjawab tanpa sengaja beberapa waktu kemudian, ketika beberapa anak muda menyampaikan di story IG dan Tiktok mereka.

Ada yang menyatakan bahwa mereka tidak jadi beli sesuatu (online), karena mereka sudah membelanjakan uangnya untuk membeli tiket konser Dewa 19. Atau di postingan yang lain, ada anak anak muda yang baru saja menonton konser band tersebut, dan menulis "tidak sia-sia menabung 3 bulan, belum bisa move on dari konser semalam nih".

Kita mungkin kemudian membayangkan, adakah di Indonesia band atau musisi yang memiliki reputasi serupa, saat ini? Yang ketika mengadakan konser, orang dari lintas generasi akan menyerbu pembelian tiketnya, tak peduli berapapun harganya?

Mungkin ada, namun kemungkinan besar, untuk saat ini, tidak ada. Konser Noah (dulu Peterpan) mungkin juga akan semeriah konser Dewa 19, namun umumnya harga tiket konser Noah tak semahal konser Dewa19. Pun juga, Noah sudah jarang konser tahun-tahun ini.

Lalu Sheila on 7, pun belum semeriah konser Dewa 19. Konser band-band juga musisi Indie, memang gegap gempita, penuh sesak, namun harga tiket masih terjangkau, dan mereka pun belum tentu bisa menjadi se-melegenda Ahmad Dhani, Andra, dan kawan-kawan.

Lalu sebenarnya apa resep Dewa 19 hingga bisa 'sebesar' saat ini?

Menurut banyak orang yang saya kenal menyukai Dewa 19, mereka umumnya menyatakan bahwa lagu-lagu Dewa 19 berkarakter seperti lagu-lagunya Queen, yang tak lekang oleh waktu. Relevan dan tetap enak didengar hingga kini.

Makin sering didengar, makin terdengar keindahannya, begitu kira-kira. Selain itu, lirik-liriknya juga puitis dan dalam, dan mampu menyuarakan perasaan (cinta maupun luka) begitu banyak orang, dulu hingga kini. Ditambah lagi musikalitas lagu-lagunya mewah, sulit, dan tidak asal jadi.

Menurut saya, semua pendapat di atas benar. Saya sempat menghitung-hitung, berapa banyak lagu Dewa 19 yang menjadi hit? Dan hasil temuan saya cukup mengejutkan, yakni ada setidaknya 60 lagu dewa yang (pernah) menjadi hits, jumlah yang akan sulit ditandingi oleh band manapun di Indonesia, dulu hingga sekarang.

Konser online Dewa 19 featuring musisi lain | YT Video Legend
info gambar

Masih menurut saya, musikalitas, lirik, dan personifikasi mereka, ditambah dengan branding Dewa 19 sebagai 'band terbaik di Indonesia' mereka bangun selama bertahun-tahun.

Kalau pembaca memperhatikan setiap kali tampil ke publik, personil Dewa selalu tampil perlente, formal memakai jas dan dasi mirip The Beatles, sopan, atau elegan sekalian (memakai jaket panjang) mirip baju-baju bangsawan Eropa masa lalu, bahkan batik lengan panjang.

Percaya atau tidak, itu salah satu branding effort mereka sejak dulu, dan branding mereka berhasil.

Berbatik lengan panjang | Celebrities.id
info gambar

Selain itu, tentu saja inovasi dan kerja keras. Kita masih ingat, hampir semua band Indonesia vakum dari aktifitas selama pandemi, dan 'sekedar' menunggu sampai Covid-19 berlalu, baru bergerak lagi.

Tidak dengan Dewa 19. Sejak awal-awal pandemi, dan sejak konser dilarang, mereka langsung menggelar konser online setiap minggu melalui platform Youtube, dan mereka berhasil mendapatkan sponsor dari berbagai perusahaan.

Hasilnya jelas.

Pertama, ada pendapatan buat band member mereka, dan seluruh pekerja seni yang bekerja bersama tim Dewa 19 bahkan saat pendemi.

Kedua, Dewa 19 sadar peluang, dan peluang saat pandemi tak lain dan tak bukan adalah melalui platform digital, toh mereka punya fans setia yang tinggal diajak nonton Youtube, gratis pula. Juga syukur-syukur, bisa mendapatkan fans baru (sesuatu yang kini terbukti sangat berhasil). Dari konser online ini, Dewa 19 mampu mendatangkan jutaan views, dan banyak dari mereka bukan Baladewa.

Ketiga, tentu saja untuk branding. Meskipun Dewa 19 adalah band yang sudah berusia 3 dekade, mereka faham betul apa artinya menjadi 'top of mind'. Untuk mencapai tujuan ini, selain melakukan konser online tiap minggunya, Dewa 19 juga rela merogoh kocek untuk mengundang berbagai musisi untuk menyanyikan lagu-lagu Dewa 19 dengan warna musik mereka sendiri.

Maliq n D'essentials, NTRL, Endank Soekamti, Burgerkill, Pamungkas, dan banyak musisi lain, menyambut ajakan ini dengan antusias. Fans-fans dari musisi-musisi tersebut diharapkan mengenal (atau lebih mengenal) Dewa 19.

Inovasi-inovasi itu membuahkan hasil. Dewa 19 adalah band yang paling sering tampil konser di layar kaca di saat pendemi, dan menjadi salah satu yang banyak dibicarakan di dunia musik Indonesia.

Dan ketika pandemi sudah hampir berlalu, dan pemerintah mulai mengijinkan konser, band ini langsung bergerak cepat konser ke 30 kota, menyapa para fansnya, dan mendulang pendapatan, dan menegaskan posisinya sebagai band terkaya di Indonesia.

Kini, penikmat musik Tanah Air sedang menikmati (lagi) dibukanya izin-izin konser, dan Dewa 19 termasuk yang pertama kali menjadi beneficiary pasca pandemi ini.

Meski harga tiket begitu mahal, penggemar musik mereka tetap membelinya dengan antusias. Bagi mereka, yang paling mahal bukan tiketnya, namun pengalaman menyaksikan konser band legendaris, dan bernyanyi bersama mereka, itulah yang mahal. Priceless.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Akhyari Hananto lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Akhyari Hananto.

AH
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini