Tegaknya Rumah Joglo: Hunian Kaum Bangsawan dan Aristokrat Jawa

Tegaknya Rumah Joglo: Hunian Kaum Bangsawan dan Aristokrat Jawa
info gambar utama

Ketika berkunjung ke kawasan Yogyakarta, Surakarta, atau mungkin ke beberapa tempat lainnya di Jawa Tengah atau Jawa Timur, bangunan rumah dengan arsitektur joglo dengan mudah dapat dijumpai.

Dipaparkan dari Kompas, ciri khas dari rumah joglo dapat dikenali pada atapnya yang berbentuk tajug atau semacam atap piramida yang mengerucut. Rumah ini umumnya dibangun dengan menggunakan kayu jati.

Istilah joglo sendiri berasal dari kata tajug dan loro, kemudian disingkat juglo yang memiliki makna penggabungan dua tajug. Dalam perkembangannya, penyebutan juglo berubah menjadi joglo.

Rumah joglo selain sebagai salah satu rumah adat khas Jawa. Rumah ini juga simbol status sosial masyarakat Jawa pada zaman dahulu. Karena itu, meski dikenal sebagai rumah orang Jawa, tetapi tidak semuanya bisa membangun.

Bahkan secara khusus, rumah adat ini dahulu hanya dimiliki oleh para bangsawan, raja dan orang-orang terpandang. Karena orang yang mampu memiliki rumah joglo adalah masyarakat yang status sosialnya tinggi dan ekonominya lebih.

Arsitektur Jengki, Langgam Indonesia Simbol Kebebasan Terhadap Pengaruh Belanda

Hal ini dikarenakan bahan yang digunakan untuk membangun rumah joglo adalah kayu jati yang kualitasnya sangat bagus dan harganya mahal. Selain itu biaya pembangunannya sangat tinggi karena waktu yang dibutuhkan untuk mendirikannya sangat lama.

Rumah adat sendiri merupakan hasil produk pemanfaatan peralatan dan teknologi suatu masyarakat. Setiap masyarakat tentunya memiliki bentuk rumah adat yang khas sesuai dengan kebudayaannya.

Pada modul Beda Tapi Sama: Harmoni dalam Keberagaman (2017) yang dimuat Tirto, variasi rumah adat timbul karena adanya perbedaan geografis. Misalnya rumah adat di daerah di dataran tinggi akan berbeda dengan di dataran rendah.

“Perbedaan itu juga dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari ketersediaan bahan-bahan bangunan, hingga kepercayaan dan sistem adat yang di suatu masyarakat,” tulis Yonada Nancy dalam Keunikan Rumah Joglo Jawa Tengah: Bagian, Filosofi, dan Jenisnya.

Filosofi dalam bangunan

Mengutip dari buku Filosofi Rumah Joglo karya Asti Musman yang dimuat Kumparan, struktur bangunan rumah joglo berbentuk persegi panjang dengan tiga pintu depan. Rumah ini juga memiliki empat tiang utama sebagai penyangga atap yang disebut soko guru.

Sementara pintunya yang berjumlah tiga juga memiliki makna sendiri. Pintu rumah terletak di tengah, sedang dua lainnya berada di sisi kanan dan kiri. Tata letak ini tidak sembarangan karena melambangkan seekor kupu-kupu yang sedang berkembang di keluarga besar.

Di bagian lainnya, rumah joglo terdiri atas pendopo, pringgitan, dan juga omah ndalem atau omah njero. Selain itu, biasanya di dalam rumah joglo juga terdapat sebuah ruangan khusus yang diberi nama gedongan.

Bagian ini umumnya digunakan oleh kepala keluarga untuk mencari ketenangan batin, tempat beribadah, juga kegiatan sakral lainnya. Kuatnya bentuk arsitektur ini membuatnya sangat populer.

Keunikan rumah joglo bisa langsung dilihat dari bentuk arsitekturnya. Kekhasan arsitektur bangunan joglo sering diwujudkan melalui elemen-elemen fisik pembentukannya, termasuk bahan hingga permukaan bangunan.

Karena arsitekturnya ini, Tri Prasetyo Utomo dalam jurnal Transformasi Nilai Estetika Rumah Joglo di Kawasan Kotagede Yogyakarta menyebutkan dibandingkan dengan rumah Jawa lainnya, bentuk joglo adalah yang paling sempurna.

“Bangunan joglo merupakan salah satu perwujudan arsitektur Jawa yang memiliki bentuk paling ideal dan sempurna di antara yang lain,” paparnya.

Runtuhnya Rumah Landhuizen, Simbol Kemewahan Para Pejabat VOC di Hindia Belanda

Selain itu, bangunan tradisi ini juga sangat lekat dengan nilai historis di kalangan atas masyarakat Jawa. Hal ini disebutkan oleh Desi Khanifah Narwati yang menyatakan joglo ditinggali oleh keluarga priyayi aristokrat.

“Secara bentuk, joglo menyerupai keraton, singgasana raja-raja Muslim Jawa, hanya saja ukurannya jauh lebih kecil. Di bawah atapnya, para priyayi bangsawan meniti kehidupannya,” tulis dalam skripsi berjudul Budaya Priyayi Baru (Studi Gaya Hidup Priyayi Baru di Societeit Harmonie Surakarta 1920-1930) yang dimuat National Geographic.

Sementara itu, Profesor Pendidikan Seni Rupa Universitas Sebelas Maret Surakarta, Slamet Subiyantoro menyebut bahwa rumah joglo dalam pemahaman Jawa merupakan cerminan sikap, wawasan, serta tingkat ekonomi sosial-kultural masyarakat.

Dalam jurnal Bahasa & Seni berjudul Rumah Tradisional Joglo dalam Estetika Tradisi Jawa yang terbit pada tahun 2011 dirinya menulis bahwa ada refleksi dengan gaya hidup seseorang yang mendiaminya.

Rumah joglo ucapnya dipandang sebagai simbol kedigdayaan dan keunggulan seorang priyayi aristokrat Jawa. Orang yang hidup di bawah atap joglo dianggap punya tingkatan sosial yang lebih tinggi dibanding dengan para saudagar.

“Dari segi ukiran, ada simbol kemenangan dan kebanggaan yang diperlihatkan dengan bentuk kekayaan, di samping dalam bentuk ukiran yang menghiasi gebyok rumahnya, tulis Ashadi dalam jurnal NALARs yang berjudul Jejak Keberadaan Rumah Tradisional Kudus: Sebuah Kajian Antropologi-Arsitektur dan Sejarah.

Ruang spiritual

Slamet menggambarkan bahwa rumah joglo juga sering disebut tikelan (patah) karena atap rumahnya seolah-olah patah menjadi tiga bagian yakni brunjung, penanggap, dan panatih, di dalamnya terdapat pendapa, pringgitan, dalem, dapur, gandhok dan gadri.

Sedangkan susunan secara vertikal, lanjut Slamet juga terbagi ke dalam tiga bagian, yakni atap, tiang atau tembok, dan bawah atau ompak. Menurutnya susunan dalam arsitektur ini memiliki nilai yang dalam.

“Susunan ini merupakan transformasi candi ditafsirkan sebagai lambang dunia atas (dewa), dunia tengah (kehidupan), dan dunia bawah (kematian),” sambung Slamet.

Pendapa diilustrasikan sebagai imaji, mendapat tempat sentral dalam kehidupan tradisi masyarakat Jawa. Pendapa joglo ini disebut oleh Slamet digunakan sebagai tempat pengendalian diri di mana bagi para priyayi dianggap sebagai kebijaksanaan.

Hal yang sama ditulis oleh Sartono Kartodirdjo yang menafsirkan pendapa joglo memiliki sifat yang teratur, selaras, dan stabil. Struktur falsafah di tempat ini dapat digambarkan dari pertemuan priyayi dengan para abdi dalem-nya.

Struktur lantai pendapa tersusun atas tiga tingkat yang melambangkan stratifikasi sosial Jawa. Pada lantai atas pendapa digunakan sebagai tempat duduk priyayi aristokrat, sedangkan emper digunakan untuk priyayi rendahan dan para abdi dalem duduk di luar.

“Meski hari ini bangunan joglo sudah banyak dipandang sebelah mata, tetapi nilai historis menjawab keagungannya di masa lampau,” tulis Galih Pranata dalam Bernaung di Bawah Atap Joglo: Hunian Para Priyayi Aristokrat Jawa.

Setelah pendapa, terdapat pringgitan atau bagian tengah yang terletak antara pendapa dan rumah dalam (omah njero). Pada bagian pringgitan ini biasanya berupa lorong yang digunakan untuk jalan masuk.

Selain itu, lorong ini biasanya digunakan untuk menggelar pertunjukan wayang kulit atau kesenian lainnya. Penampilan dari pringgitan seperti serambi berbentuk tiga persegi dan menghadap ke arah pendapa.

Pada bagian utama rumah, terdapat kamar-kamar yang disebut senthong. Senthong terdiri dari tiga bili saja. Kamar pertama untuk laki-laki, kamar kedua untuk perempuan, sedangkan kamar ketiga dikosongkan sebagai tempat pemujaan kepada Dewi Sri atau Dewi Padi.

“Kamar kosong tersebut disebut dengan krobongan dan dianggap sebagai tempat paling sakral di dalam rumah,” tulis Lukman Hadi Subroto dalam Sejarah dan Filosofi di Rumah Joglo.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini