Mengenal Artropoda Darat Terbesar di Dunia, Hidup di Indonesia

Mengenal Artropoda Darat Terbesar di Dunia, Hidup di Indonesia
info gambar utama

Jika anda berkunjung ke Ternate, kota terbesar di Propinsi Maluku Utara, anda akan mendapati sajian kuliner yang lain dari yang lain. Selain karena harganya mahal, karena bahan sajiannya sendiri didapat dari salah satu satwa yang makin susah didapat, yaitu kepiting kenari.

Kepiting kenari (Birgus latro) atau juga sering disebut kepiting kelapa adalah artropoda darat terbesar di dunia. Meskipun disebut kepiting, hewan ini bukanlah kepiting.

Satwa ini sebenarnya adalah termasuk jenis umang-umang yang sangat maju dalam hal evolusi. Jadi mungkin ia lebih tepat disebut umang-umang kenari. Namun demikian penduduk Maluku Utara sudah terbiasa menyebutnya dengan kepiting kenari.

Kepiting ini dikenal karena kemampuannya mengupas buah kelapa dengan capitnya yang kuat untuk dimakan isinya. Satwa yang wujudnya ‘menggetarkan’ ini adalah satu-satunya spesies dari genus Birgus.

Sayangnya, keberadaan kepiting ini makin lama makin jarang ditemui. Deddy Delano, salah seorang pegiat lingkungan di Ternate mengatakan bahwa di masa kecilnya, dia cukup sering melihat kepiting kelapa di berbagai kawasan di Ternate. Kini, kepiting tersebut hampir-hampir tak pernah dijumpainya di pulau Ternate.

Waktu kecil dulu, kawasan-kawasan yang dipenuhi dengan pohon kelapa, selalu dia dapati kepiting kenari, karena salah satu makanan utamanya memang kelapa. Orang Inggris menyebutnya robber crab karena menganggap kepiting tersebut mencuri kelapa pada malam hari saat pemilik pohon sedang tidur lelap.

Ketam kenari di Pulau Maratua, Kalimantan Timur. Ketam kenari (Birgus latro) atau disebut kepiting kelapa, merupakan artropoda darat terbesar di dunia. Foto :Wisuda
info gambar

Kepiting kenari juga mahir memanjat kelapa bahkan yang batangnya tinggi dan tegak, dengan ujung kakinya yang runcing sebagai tangan pemeluk batang. Menurut Deddy, saat sudah berhasil memetik kelapa, kepiting ini akan menjatuhkan buah itu ke tanah dan kemudian turun untuk menguliti buah dengan capitnya yang kuat.

Sesudah dikuliti, buah akan dibawa lagi naik pohon, dan dari atas pohon buah itu dijatuhkan ke tanah agar pecah. Barulah ia turun lagi untuk makan buah yang sudah pecah. Ia tidak pernah makan buah di atas pohon.

Meski begitu, kelapa bukanlah satu-satunya makanan kepiting kenari. Kepiting kenari dewasa juga memakan buah-buahan, kacang-kacangan, biji-bijian, dan empulur pohon tumbang, bahkan memakan bangkai hewan dan bahan organik.

Kepiting kelapa (Birgus latro) dengan makanan utama kelapa. Orang Inggris menyebutnya robber crab karena menganggap kepiting itu mencuri kelapa untuk makanannya. Foto : wikimedia commons
info gambar

Satwa luar biasa ini diburu oleh manusia di habitat-habitat mereka, dan di berbagai tempat, keberadaan mereka dilindungi oleh hukum.

Kini, Deddy tak pernah lagi melihatnya.”Sudah puluhan tahun saya tak lagi melihat kepiting itu di kawasan yang penuh dengan pohon kelapa di Ternate,” katanya.

Deddy menyebutkan warung-warung makan di Ternate yang menyajikan kepiting kenari dengan harga selangit, karena memang mereka didapatkan dari luar pulau Ternate, dan sudah makin jarang.

“Makin sulit ditemui. Di Ternate saja harganya bisa mencapai Rp600 ribu hingga Rp800 ribu untuk satu porsi” lanjutnya.

Kepiting kelapa (Birgus latro) yang makin langka karena perburuan. Foto : wikimedia
info gambar

Mongabay sempat mendatangi sebuah warung yang cukup terkenal di Ternate yang menyajikan menu kepiting kenari. Salah seorang pengelola warung tersebut yang menolak menyebutkan nama mengatakan bahwa kepiting-kepiting tersebut dikirim dari Halmahera Selatan, cukup jauh dari Ternate.

“Tak banyak yang dikirim. Mungkin karena sudah makin jarang” kata sang ibu pengelola tersebut.

Mongabay meminta izin untuk melihat bagaimana mereka ‘menyimpan’ kepiting-kepiting tersebut di bagian belakang warung yang cukup besar tersebut.

Kepiting kelapa (Birgus latro) disalah satu warung makan di kota Ternate, Maluku Utara. Kepiting ini makin langka karena perburuan. Foto : Akhyari Hananto
info gambar

Ternyata, mereka disimpan dikandang-kandang sempit dan diberi makan potongan-potongan kelapa. beberapa diantara kepiting-kepiting itu masih berukuran kecil.

“Yang kecil pun mereka kirim. Yang besar-besar mungkin makin susah didapat” lanjutnya.

Ukuran kepiting kenari dewasa bisa sangat besar dan bisa mencapai 1 meter (dihitung dari ujung kaki ke ujung kaki lainnya), dan jika dibiarkan, mereka bisa mencapai umur 40 hingga 60 tahun, saat ukuran mereka menjadi sangat besar.

Kepiting-kepiting muda yang ditemukan di warung tersebut berwarna coklat dengan loreng (bintik) hitam di kakinya, sedangkan yang berukuran cukup besar (tua) berwarna lembayung muda bercampur coklat dan ungu tua.

Kepiting kelapa (Birgus latro) disalah satu warung makan di kota Ternate, Maluku Utara. Kepiting ini makin langka karena perburuan. Foto : Akhyari Hananto
info gambar

Kepiting kenari ditemukan di pulau-pulau di Samudera Hindia dan sebagian dari Samudra Pasifik dimana terdapat pohon kelapa; dan dikabarkan telah punah dimana populasi manusianya signifikan, termasuk daratan Australia dan Madagaskar.

Sejauh ini, belum diketahui predator kepiting kenari selain kawanan mereka sendiri, dan manusia. Ukurannya yang besar dan kualitas dagingnya, membuatnya selalu diburu oleh manusia.

Peta persebaran kepiting kelapa. Sumber : wikimedia
info gambar

IUCN menempatkannya sebagai species yang rentan pada tahun 1981, namun pada 1996 status itu dibatalkan karena kurangnya data biologis. Kini status di IUCN adalah “data efficient”.

Di Indonesia sendiri, kepiting kenari dimasukkan dalam daftar satwa dilindungi sesuai dengan SK Menteri Kehutanan No.12/KPTS-II/Um/ 1987 dan PP No.7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa.

Di wilayah Maluku utara,masyarakat telah cukup lama mengkonsumsi kepiting kenari. Lambat laun, reputasinya makin dikenal, dan permintaan pasar akan kepiting raksasa ini terus menininggi, dan berbanding terbalik dengan ketersediaan satwa ini di alam.

Eksploitasi kepiting kenari yang tidak didukung dengan upaya konservasi dan pengelolaan yang tepat tentu bisa menyebabkan kepunahan atau kelangkaan.

Apalagi, kepiting kenari adalah satwa berumur panjang dan memiliki laju pertumbuhan dan kematangan reproduksi yang perlahan.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Akhyari Hananto lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Akhyari Hananto.

Terima kasih telah membaca sampai di sini