Berkat Orang Spanyol, Tanaman Cabai Membakar Masakan Minahasa

Berkat Orang Spanyol, Tanaman Cabai Membakar Masakan Minahasa
info gambar utama

Cabai (Capsicum spp) dalam catatan sejarah telah digunakan sebagai bumbu masak sejak 6.000 tahun lalu. Perkiraan itu berdasarkan bukti arkeologis di Ekuador Barat Daya, dekat perbatasan Peru.

Arkeolog melihat jejak butir cabai yang menempel pada peralatan masa penduduk Indian kuno. Penemuan itu diklaim membuktikan bahwa penduduk asli di Ekuador Barat Daya adalah komunitas pertama yang menggunakan cabai dalam masakannya.

Kurang lebih 5.000 - 7.000 tahun lalu, orang Indian membudidayakan tanaman cabai dengan cara mencangkok atau menyetek. Dari budidaya ini, penyebaran cabai terkunci di Amerika hingga Christopher Columbus sampai ke Benua Amerika tahun 1490.

Sejak kedatangan orang-orang Eropa, tanaman itu makin menyebar ke Mesoamerica (Meksiko, Nikaragua, Guatemala, Honduras, El Salvador, dan Belize) serta Karabia. Tanaman pedas ini kemudian diperkenalkan ke Spanyol pada tahun 1493.

Sejarah Hari Ini (14 Februari 1946) - Peristiwa Merah Putih di Bumi Minahasa

Kemudian orang Spanyol dan Portugis menyebarluaskan cabai ke sejumlah koloni dan daerah yang pernah disinggahinya ketika berdagang rempah, seperti India, China, Korea, Jepang, Filipina, Malaka dan Nusantara, salah satunya di wilayah Minahasa.

Sejarawan Minahasa, Fendy E W Parengkuan menuturkan Portugis mulai masuk ke Minahasa yang dulu berada di bawah hegemoni Ternate-Tidore pada tahun 1563, diikuti Spanyol pada tahun 1580.

Spanyol menjadikan Pulau Manado Tua sebagai tempat persinggahan untuk memperoleh air tawar. Dari pulau itu, Spanyol masuk lebih ke dalam ke wilayah Amurang, Manado, dan Kema yang kemudian menanam cabai untuk memberi makan para budak dan pelautnya.

“Dari itulah, orang Minanghasa mulai berkenalan dengan cabai,” tulisnya yang dimuat dalam Sengatan Pedas Minahasa diterbitkan Kompas.

Mengubah cita rasa

Fendy mengatakan sebelum mengenal cabai, masakan Minahasa menggunakan jahe sebagai sumber rasa pedas. Kini sumber rasa pedas diambil alih cabai rawit atau rica, sengatan rica ini membuat masakan Minahasa sangat pedas.

Menurutnya selera makan makanan pedas yang dibawa para pelaut Spanyol itu ternyata cocok dengan lidah orang Minahasa. Sejak saat itu, cita rasa rica tidak lepas dari lidah orang Minahasa.

“Selanjutnya, masakan Minahasa menggunakan dua sumber rasa pedas sekaligus, goraka dan rica, yang rasanya sama-sama membakar,” paparnya.

Jefta Sinombor (48 tahun) mengambil segenggam rica. Dia memasukan cabai rawit berwarna oranye dan merah itu ke dalam lumpang. Lantas dirinya tumbuk bersama bumbu ayam buluh lainnya, seperti kunyit, jahe, bawang merah, dan bawang putih.

Mengingat Leluhur Orang Minahasa Lewat Ukiran Wajah di Bukit Kasih

“Ricanya harus banyak supaya masakan jadi enak,” kata Jefta warga Desa Elusan, Amurang Barat, Kabupaten Minahasa.

Tak lama kemudian, bumbu yang Jefta tumbuk sudah siap. Dirinya kemudian mengaduk ayam dengan bumbu itu dan memasukkannya satu per satu ke dalam buluh atau bambu. Saat waktu makan tiba, ayam buluh dituangkan ke atas piring.

Takaran rica yang digunakan Jefta bagi sebagian orang Minahasa masih tergolong moderat. Dwita Rembet (45 tahun), warga Desa Kayu Uwi, Tompaso bisa menggunakan seliter rica untuk memasak satu ekor ayam.

Bisa memicu inflasi

Rica yang digunakan oleh orang Minahasa agak berbeda dengan rica yang ditanam di Jawa. Rica Minahasa bentuknya lebih ramping dan panjang dengan rasa yang jauh lebih menyengat dibandingkan di Jawa.

“Rica semacam itu disebut rica anjing yang membuat penyantapnya bisa “terkaling-kaling" tersengat pedasnya,” papar Fendy.

Olife Raranta (45 tahun) warga Desa Kakas, juga bisa memasak masakan dengan takaran rica yang luar biasa banyak. Menurutnya cabai segenggam tidak cukup untuk bikin sambal bagi tiga orang, minimal dua genggam.

Tidak heran, masakan apa pun pasti diberi banyak rica, mulai dari dabu-dabu, tumis kembang pepaya, pampis, woku, cakalang garo rica, sup ikan, bubur manado, rintek wuuk (bubu halus), tinoransak, hingga ayam buluh.

Pa torang pe lidah, daun apa pun, kecuali daun pintu, hewan berkaki atau tidak, bahkan kuntilanak, so makang deng rica so sadap,” seloroh Johanes Rambing, warga Pineleng Minahasa.

Asyiknya Selfie dan Menyelam di Desa Tumbak Sulut

Bahkan pisang goreng serta jagung dan singkong rebus yang disantap sebagai teman minum kopi dan teh pun dicocol dengan dabu-dabu alias sambal. Di kawasan Wisata Bukit Kasih, Kanonang menyediakan kuliner tersebut.

Kini rica seolah menjadi bahan makanan pokok di tanah Kawanua. Data Badan Pusat Statistik Provinsi Sulawesi Utara menyebutkan konsumsi rica per kapita per bulan masyarakat Sulawesi Utara lebih tinggi dari konsumsi cabai nasional.

Karena tingkat konsumsi rica yang tinggi inflasi sejumlah daerah di Sulut banyak disumbang kenaikan harga rica. Tidak hanya menyumbang inflasi, kenaikan harga rica membuat orang Manado dan Minahasa merana.

“Sewaktu harga rica naik sampai Rp100.000 per kilogram, saya terpaksa mengurangi makan rica. Lidah rasanya kelu, nafsu makan berkurang. Rasanya seperti orang sakit saja,” kata Dwita.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini