Ratu Elizabeth II dan Akhir dari Era Imperium Inggris

Ratu Elizabeth II dan Akhir dari Era Imperium Inggris
info gambar utama

Ratu Elizabeth II telah mangkat pada 8 September 2022 lalu. Beliau menjadi penguasa terlama dalam sejarah kerajaan Inggris, yakni 70 tahun sejak dinobatkannya pada tahun 1952. Nenek buyutnya, Ratu Victoria yang berkuasa selama 64 tahun (1837-1901), ada di urutan ke-2 sebagai penguasa terlama kerajaan yang berada di sebelah barat daratan Eropa tersebut. Selama 70 tahun pemerintahannya, Ratu Elizabeth II telah melihat sejumlah besar perubahan di dunia, tetapi mungkin tidak ada perubahan yang lebih besar mempengaruhi hidupnya dibandingkan dengan menurunnya secara drastis wilayah kekuasaan Kerajaan Inggris.

Pertanyaan yang paling mendasar adalah, sebenarnya kapan imperium Inggris berakhir?

Dua peristiwa yang biasanya digunakan oleh para sejarawan untuk menandakan berakhirnya kekuasan luas Kerajaan Inggris adalah Kemerdekaan India pada tahun 1947 atau berakhirnya kekuasaan Inggris di Hong Kong pada tahun 1997.

Penobatan Raja George V di India | wikimedia commons
info gambar

Setelah Perang Dunia Kedua menjadi jelas bahwa Inggris tidak lagi dapat mempertahankan sebagian besar kekaisaran. Banyak wilayah-wilayah koloni Inggris yang tanpa henti melakukan gerakan kemerdekaan yang aktif, dan melawan mereka tentu tidak mungkin. Apalagi, Inggris juga baru saja menyudahi perang yang menghabiskan sumber daya mereka melawan Nazi Jerman. India memperoleh kemerdekaan pada tahun 1947 dan lalu dilakukan partisi, yang menciptakan Pakistan dan Pakistan Timur (yang nantinya akan menjadi negara Bangladesh). Sejak kehilangan India yang sering dinyatakan sebagai "the jewel in the crown" atau "Permata pada Mahkota", atau wilayah jajahan paling berharga bagi Inggris , raja/ratu Inggris tak lagi disebut "Emperor / Empress".

Meski India telah lepas, ketika Elizabeth II dinobatkan pada tahun 1952, Inggris masih memiliki kerajaan yang nyata, dengan lebih dari 70 wilayah yang tersebar jauh di berbagai belahan bumi. Pada tahun tersebut, pasukan Inggris terlibat dalam berbagai operasi dalam memerangi gerakan-gerakan kemerdekaan di Mesir dan Kenya. Keduanya pun tak lama setelahnya menjadi lepas dan sepenuhnya menjadi neagra merdeka.

Pada tahun 1979, wilayah kekuasaan kerajaan Inggris kembali berkurang dan saat ini hanya tertinggal beberapa wilayah kecil saja di beberapa bagian dunia. Namun, penyusutan tersebut tidak berhenti. Ketika Hong Kong dikembalikan ke China pada tahun 1997, putra Ratu Elizabeth II, Pangeran Charles (kini Raja Charles III, menggantikan posisi Elizabeth II), menjuluki hari itu sebagaisebagai "The End of The Empire" atau "akhir dari Imperium (Inggris)." Pada tahun 2015, Inggris memiliki 14 wilayah di luar negeri yang tersisa. Di luar tanah Inggris di Antartika, yang luas tetapi sebagian besar tidak berpenghuni, wilayah seberang laut Inggris terbesar yang tersisa adalah Kepulauan Falkland di seberang laut Argentina.

Kembalinya Hong Kong ke China | NYT
info gambar

Pada tahun 2021, negara kecil di kawasan Karibia, Barbados, resmi mengumumkan bahwa mereka lepas dari bayang-bayang Inggris, dan resmi memutus kesetiaan dari monarki Inggris Raya. Negara ini lalu bertransformasi menjadi republik. Pada Maret 2022, Jamaika juga sempat mengungkapkan keinginan mereka untuk lepas dari Persemakmuran Inggris.

Masa kejayaan Imperium Inggris
info gambar

Setelah mewarisi takhta dari Ratu Elizabeth II, Raja Charles III harus langsung mendapatkan beban baru dari beberapa negara yang ingin melepaskan diri dari Persemakmuran Inggris. Antigua dan Barbuda menjadi negara paling baru yang menyatakan keinginan mereka untuk lepas dari Persemakmuran Inggris. Selain keduanya, Grenada, Bahama, Belize, St. Kitts dan Nevis juga ingin menjadi bangsa yang benar-benar merdeka, menyusul Barbados. Keinginan itu diutarakan tak lama setelah Raja Charles mewarisi takhta usai Ratu Elizabeth meninggal dunia pada pekan lalu.

Di masa puncaknya pada 1921, Imperium Inggris memerintah di hampir seperempat dari seluruh wilayah di dunia. Kala, itu ada ungkapan bahwa "the sun never set on the Empire", atau matahari tak pernah terbenam di wilayah kerajaan (Inggris), sebuah gambaran betapa luas dan masifnya kekuasaan Inggris kala itu.

Inggris masih menjadi negara yang kuat, dan masih menjadi salah satu superpower di dunia, dan privielege ini masih akan bertahan lama. Namun, tentu Inggris tak sendirian, bangsa-bangsa besar, bermartabat, dan kuat, kini juga bermunculan di wilayah yang dulu mereka kuasai.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Akhyari Hananto lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Akhyari Hananto.

Terima kasih telah membaca sampai di sini