Menengok 5 Jenis Gender dalam Masyarakat Bugis yang Eksis Sejak Abad 17

Menengok 5 Jenis Gender dalam Masyarakat Bugis yang Eksis Sejak Abad 17
info gambar utama

Suku Bugis adalah suku bangsa terbesar di daratan Sulawesi Selatan yang secara geografis menyebar ke arah Utara dari daerah Maros, Pangkep, hingga Pinrang, dan juga tersebar ke arah Timur di Bulukumba hingga Bone.

Dalam tradisi Masyarakat Bugis dikenal gender kelima bernama Bissu. Secara historis, mereka telah ada sebelum Islam masuk di bumi Sulawesi dan menjadi agama kerajaan Gowa-Tallo pada abad 16 M.

Kemudian secara gender, mereka tidak digolongkan laki-laki maupun perempuan, sebab mereka adalah manusia suci yang diyakini turun dari langit (To manurung) bersama Raja Luwuk, Batara Guru, sebagaimana dijelaskan dalam kitab I Laga Ligo, karya sastra terpanjang di dunia.

Selain Bissu, terdapat variasi gender lain yang telah lama diyakini eksistensinya oleh masyarakat Bugis. Apa sajakah itu? Simak ulasan singkat berikut ini.

Apa Saja Jenis Gender yang Diakui oleh Masyarakat Bugis ?

Menurut penelitian Antropolog Australia, Sharyn Graham, dalam Sex, Gender, and Priests in South Sulawesi, Indonesia (2002), dijelaskan bahwa dalam tradisi masyarakat Bugis terdapat 5 gender yang diakui, yakni;

  • Laki-Laki (Oroane)
  • Perempuan (Makunrai)
  • Perempuan yang berpenampilan seperti laki-laki (Calalai)
  • Laki-laki yang berpenampilan seperti perempuan (calabai)
  • Bissu(Pemimpin Kepercayaan Masyarakat Bugis)

Untuk gender laki-laki (oroane) dan perempuan (makunrai) tidak mendapat penjelasan lebih jauh sebab keduanya sama dengan konsep laki-laki dan perempuan pada umumnya.

Adapun Calalai adalah gender ketiga yang diakui dalam kebudayaan suku Bugis. Calalai ini merupakan perempuan yang berpenampilan seperti laki-laki.

Secara fisik adalah perempuan, tetapi ia mengambil peran sosial sebagai laki-laki dalam kehidupan kesehariannya. Misalnya mereka bekerja sebagai pandai besi, merokok, dan keluar rumah pada malam hari, yang bagi perempuan biasa hal ini masih tabu.

Sementara untuk Calabai sendiri merupakan istilah bagi laki-laki yang berpenampilan seperti perempuan. Mengutip Latief (2005), bahwasanya Calabai dibedakan menjadi 3, yakni;

  • Calabai tungke’na lino:Memiliki derajat paling tinggi dan berhak menyandang gelar Bissu.
  • Paccalabai:Mereka dapat berhubungan dengan laki-laki maupun perempuan.
  • Calabai kedo-kedonami:Mereka golongan terendah. Gaya berpakaiannya menyerupai perempuan, tetapi sesungguhnya mereka adalah lelaki tulen.

Meskipun Calabai berpenampilan seperti wanita, tetapi mereka tidak menganggap dirinya sebagai wanita sebagaimana waria. Mereka juga tidak ingin menjadi wanita melalui proses operasi kelamin (transeksual).

Khusus untuk Bissu, mereka sejatinya adalah perpaduan dari 4 gender tersebut. Sehingga mereka bukanlah laki-laki, bukan perempuan, bukan pula waria atau gay dan juga bukan lesbian.

Secara etimologis, Bissu berasal dari kata “bessi” yang artinya bersih atau suci. Ia tidak menikah, haid, melahirkan, atau menyusui.

Sedangkan menurut Pelras dalam bukunya Manusia Bugis (2006), istilah Bissu berasal dari kata Bhiksu (pendeta atau pimpinan agama Budha).

Pada masa pra Islam, agama Budha sudah berkembang di tengah masyarakat Bugis, sehingga ada kemungkinan bahasa Sanskerta juga meresap ke dalam bahasa Bugis. Hal ini juga ditandai oleh fungsi Bhiksu yang hampir sama dengan Bissu.

Kemudian secara kebudayaan, Bissu menempati posisi sakral dan derajat sosial yang tinggi sebab mereka menjadi perantara spiritualitas antara masyarakat Bugis pra-Islam dan para Dewata di langit.

Penghormatan yang tinggi kepada Bissu bukan pada aspek gendernya, tetapi pada peran sosialnya sebagai pelestari tradisi dan budaya masyarakat Bugis.

Peran Sosial Calalai, Calabai dan Bissu dalam Masyarakat Bugis

Ketiga gender yang dianggap tidak umum ini bagi masyarakat luas ternyata memiliki peran sosial di tengah masyarakat Bugis. Dengan kata lain, eksistensi mereka dibutuhkan sejauh menyangkut urusan adat istiadat.

Misal untuk Calabai, mereka selalu dilibatkan dalam acara pernikahan masyarakat Bugis. Mereka dikenal dengan istilah Indo Botting. Mulai dari penentuan tanggal pernikahan, dekorasi tenda dan gaun pengantin hingga penyajian makanan melibatkan peran Calabai.

Sementara untuk Bissu sendiri, ia memiliki derajat sosial yang tinggi di masa kerajaan, meskipun keberadaanya kini semakin terancam punah.

Berikut beberapa peran sosial Bissu;

  • Menyetujui semua kebijakan dan keputusan Raja, misalnya soal perang.
  • Memimpin upacara-upacara adat seperti upacara panen, pernikahan, kehamilan, kelahiran, kematian (to rialu).
  • Merawat dan menjaga pusaka kerajaan, yang disebut ‘Arajang.
  • Membina pengetahuan suci dan gaib seputar ilmu kosmologi Bugis kuno (panrita, sulesana, to bettu).
  • Melantik dan Mendampingi Raja dan perangkat Kerajaan (paddanreng arung).
  • Mengobati penyakit (sanro, kajangeng, samaritu)
  • Juru rias pengantin (indo botting)
  • Juru ramal masa depan (to boto)
  • Menangkal penyakit dan bencana (mattola’ bala)

Sejarah Kelam Bissu yang Dibantai oleh Pasukan DI/TII

Kehidupan para Bissu mengalami titik nadir pada masa munculnya gerakan kelompok radikal DI/TII di Sulawesi Selatan yang dipimpin oleh Kahar Muzakkar tahun 1950-an.

Atas nama pemurnian ajaran-ajaran Islam, Kelompok DI/TII menganggap aktivitas Bissu sebagai hal yang menyalahi aturan agama Islam dan dianggap perbuatan musrik.

Para anggota kelompok DI/TII menghancurkan peralatan upacara milik para Bissu. Bahkan banyak Bissu yang dibunuh, karena dianggap menyalahi kodrat dan tidak mau bertobat. Masa ini merupakan masa yang kelam bagi kehidupan Bissu (Latief, 2004).

Pada masa awal pemerintahan Orde Baru tahun 1966, para Bissu berlanjut mendapat tekanan dari pemerintah karena mereka dianggap bagian dari PKI.

Sehingga Pemerintah Orde Baru juga ikut mengadakan Operasi Toba (Operasi Taubat) yang memaksa para Bissu menjadi laki-laki tulen. Akhirnya para Bissu diburu dan banyak juga yang dibunuh.

Masyarakat pada saat itu tidak bisa berbuat banyak untuk melindungi para Bissu tersebut karena khawatir dengan keselamatan diri sendiri.

Bissu yang tersisa saat ini adalah Bissu yang berhasil bersembunyi dan juga diselamatkan oleh masyarakat yang masih menaruh harapan padanya.

Harapannya Pemerintah Daerah di Sulawesi Selatan lebih memperhatikan keberadaan para Bissu agar tetap eksis di tengah gempuran kebudayaan modern maupun tindakan intoleransi dari berbagai kelompok keagamaan.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Achmad Faizal lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Achmad Faizal.

Terima kasih telah membaca sampai di sini