Clickbait: Definisi dan Kiat Cerdas Menghindarinya

Clickbait: Definisi dan Kiat Cerdas Menghindarinya
info gambar utama

Pernahkah GoodMates mengeklik judul berita dan merasa dibohongi karena isi berita berbeda jauh dengan tajuknya? Itulah clickbait, sebuah fenomena di bidang jurnalisme yang marak terjadi dan kian berkembang seiring masifnya pemberitaan berbasis internet. Kabar baiknya, clickbait bisa dikenali agar terhindar dari jebakan merugikan tersebut.

Clickbait ramai ditemukan di media online. Penelitian Hadiyat (2019) berjudul Clickbait di Media Online Indonesia mengatakan bahwa clickbait digunakan oleh media supaya pembaca tertarik mengeklik judul tersebut. Clickbait dijadikan sebagai strategi naratif untuk mengumpulkan pembaca agar statistik kunjungan (views) ke media tersebut meningkat.

Dalam arti lain, clickbait merupakan salah satu strategi media, khususnya media online, untuk mencari keuntungan. Pada dasarnya, strategi ini tidak salah karena bagaimanapun media membutuhkan pembaca yang banyak untuk menghidupi sisi ekonomi media. Namun, tidak sedikit media yang keliru dalam menggunakan clickbait, sehingga sering kali menjebak pembaca.

Baca Juga: Mengenal Pentingnya Empat Keterampilan Berbahasa

Definisi Clickbait

Dalam buku Jurnalistik Online: Panduan Mengelola Media Online yang ditulis oleh Romli (2020), secara harfiah clickbait diartikan sebagai ‘umpan klik’, yakni umpan yang menjadi pancingan agar pembaca mengeklik suatu judul berita. Menurut Romli, istilah clickbait kini berkonotasi negatif karena digunakan untuk menjebak pembaca. Sebab itu, clickbait juga diartikan sebagai ‘jebakan klik’.

Judul yang bersifat clickbait ialah judul-judul yang terkesan menyimpan rahasia, sehingga membuat orang yang membacanya menjadi penasaran. Clickbait bekerja dengan memanfaatkan rasa penasaran tersebut. Rasa penasaran dalam ranah clickbait muncul akibat adanya kesenjangan informasi antara apa yang diketahui pembaca dan apa yang ingin pembaca ketahui. 

Teori Information Gap oleh Loewenstein (1994) mengatakan, kesenjangan informasi memiliki konsekuensi emosional yakni timbulnya perasaan kehilangan sesuatu. Lantaran merasa kehilangan informasi, maka individu termotivasi untuk mendapatkan informasi yang hilang tersebut. Itulah yang dimanfaatkan oleh media melalui clickbait dengan membuat judul-judul yang menarik perhatian dan memanipulasi emosi, seolah-olah pembaca tidak boleh melewatkan judul tersebut.

Bahaya Clickbait

Clickbait bagaikan dua sisi mata pisau. Sejatinya, clickbait memiliki dampak positif khususnya bagi pihak media. Judul-judul yang berhasil menarik perhatian pembaca akan meningkatkan statistik kunjungan. Dengan begitu, pendapatan media juga turut meningkat.

Namun pada taraf ekstrem, clickbait justru menjebak audiens dalam kubangan informasi keliru. Tidak heran, hoaks semakin marak terjadi. Selain itu, clickbait juga dapat membuat audiens terbiasa dengan konten-konten yang tidak berkualitas. Pada akhirnya, audiens akan kehilangan hak untuk mendapatkan informasi berkualitas dari media.

Baca Juga: Rekomendasi TED Talks untuk Pengembangan Diri

Cara Menghindari Clickbait

Saat ini, clickbait tidak hanya ditemukan di media online saja, melainkan juga di berbagai platform digital lain seperti media sosial. Hal ini tentu menjadi tantangan yang lebih besar untuk pembaca dalam menghindari jebakan klik tersebut. Selain pekerja media yang harus berbenah, pembaca juga harus melakukan tindakan preventif. 

Peneliti ilmu komunikasi menyarankan, audiens atau pembaca harus meningkatkan literasi media agar tidak mudah terjebak dalam artikel-artikel clickbait. Pembaca perlu menghindari kebiasaan mudah menerima informasi sebagai kebenaran yang mutlak, kemudian menyebarluaskan informasi tersebut tanpa melakukan konfirmasi lanjutan.

Terlepas dari itu, langkah awal yang dapat dilakukan pembaca agar tidak terjebak clickbait adalah dengan mengenali ciri-cirinya. Dirangkum dari berbagai sumber, berikut ciri-ciri clickbait yang perlu GoodMates kenali.

  • Judul sensasional dan berlebihan (hiperbola)
  • Judul berupa kalimat tanya
  • Menggunakan kata penunjuk, seperti “ini”, “inilah”, atau “ini dia”
  • Menggunakan kata seru atau interjeksi, seperti “wow!”, “keren!”, “duh!”, “astaga!”
  • Menggunakan angka dan daftar (list)
  • Memuat kata ganti orang pertama atau kedua tunggal, seperti “saya”, “kamu”, atau “Anda”
  • Memanfaatkan momen viral
Baca Juga: Fenomena Career Switch Makin Merebak, Kamu Salah Satunya?

Judul-judul di atas memang menjadi ciri-ciri clickbait, tetapi tidak semua artikel atau berita dengan judul tersebut yang menjebak pembaca. Oleh karenanya, GoodMates perlu membiasakan diri untuk membaca secara utuh, tidak hanya memindai. Pada akhirnya, satu-satunya yang bisa membantu pembaca selamat dari jebakan clickbait ialah dirinya sendiri. 

Referensi: Hadiyat, Yayat D. (2019) | Romli, Asep Syamsul M. (2020). Jurnalistik Online: Panduan Mengelola Media Online. Bandung: Nuansa Cendekia | BBC.com

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini