Dosen ITB Ciptakan Modultrax, Motor untuk Solusi Distribusi Barang di Daerah Terpencil

Dosen ITB Ciptakan Modultrax, Motor untuk Solusi Distribusi Barang di Daerah Terpencil
info gambar utama

Inovasi teknologi terus berdatangan dari kalangan akademisi Indonesia. Kali ini, Institut Teknologi Bandung (ITB) memperkenalkan inovasi terbarunya bernama Modultrax, yakni kendaraan listrik yang dapat digunakan di segala medan. Inovasi tersebut lahir dari tangan dingin Dosen Program Studi Desain Produk Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ITB, Bismo Jelantik.

Modultrax ialah abreviasi dari Modular Utility Transport – All Terrain. Sesuai namanya, Modultrax merupakan inovasi di bidang transportasi berjenis motor yang bersifat utility atau sarat akan nilai guna dan manfaat. Hal itu karena Modultrax dirancang dengan rangka yang memiliki sistem kargo modular yang dapat dikaitkan dengan perkakas, seperti alat pertanian, rak pengangkut, dan lain-lain. 

Terciptanya Modultrax ini berawal dari pandemi COVID-19 yang memengaruhi kehidupan di daerah terpencil. Melansir itb.ac.id, Modultrax dibuat atas dasar kebutuhan distribusi vaksin COVID-19 ke daerah-daerah di Indonesia yang sulit untuk dijangkau. Di sisi lain, penjualan mobil dan motor terganggu akibat pandemi. 

Ide Modultrax juga seiring dengan pengembangan ekosistem pembangkit listrik modular di pulau yang belum terdistribusi bahan bakar minyak. Oleh karenanya, Bismo melihat ada peluang kerja sama untuk menyelesaikan permasalahan distribusi barang atau jasa di tanah air. Terlebih, ia juga memiliki relasi dengan pihak industri komponen otomotif.

Baca Juga: i-Car, Mobil Listrik Tanpa Pengemudi Buatan ITS

Pembuatan konsep produk Modultrax dimulai pada awal tahun 2021. Tidak tanggung-tanggung, pembuatan konsep dan desain produk tersebut telah menggunakan teknologi 3D Computer Aided Design (CAD). Guna meningkatkan keakuratan hasil, proyek ini bermitra dengan PT Ganding Toolsindo yang memiliki CNC Bending Pipe dan 3D Scan.

Bismo mengatakan, pembuatan Modultrax melibatkan banyak bidang keilmuan. Kolaborasi itu membuatnya belajar sesuatu yang berada di luar ranah ilmunya. Ia bahkan juga mempelajari standar-standar manufaktur yang digunakan di area industri.

“Pengalaman seperti ini bisa jadi masukan untuk para peneliti, kemudian dapat diteruskan sebagai bahan ajar untuk mahasiswa,” tutur Bismo.

Baca Juga: Kenali 8 Mobil Listrik Buatan Indonesia, Tidak Kalah Canggih

Awalnya, Modultrax hanya ditargetkan sampai di tahap pembuatan desain saja. Namun, pada akhirnya Bismo melanjutkan inovasinya hingga ke tahap pembuatan prototipe agar Modultrax bisa diuji coba. “Untuk melakukan uji coba tentu saja diperlukan prototipe,” ungkapnya dinukil dari itb.ac.id.

Modultrax merupakan kendaraan listrik dengan baterai sebagai sumber daya utama. Pada prototipe tahap pertama, Modultrax dapat menempuh jarak 50 km. Kendati begitu, desain modular dari motor ini memungkikan untuk memperbesar sumber daya sesuai dengan kebutuhan.

Desain Modultrax dapat dikatakan seratus persen lokal karena Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN)-nya lebih dari 75 persen. Kehadiran Modultrax sekaligus bukti keseriusan akademisi menciptakan ekosistem bangga buatan Indonesia. Desain Modultrax bahkan juga telah mengantongi Hak Kekayaan Intelektual (HAKI).

Baca Juga: Inovasi Tokoh Indonesia Pada Perkembangan Teknologi Dunia

Prototipe Modultrax tahap satu sedang diuji coba. Untuk prototipe selanjutnya, Modultrax telah memiliki kerangka (frame), tetapi belum dirakit. Bismo berharap, pada produksi selanjutnya dapat menggunakan produk lokal seutuhnya.

Sejauh ini, Modultrax sudah dipamerkan sebanyak tiga kali, salah satunya pada Pameran dan Temu Bisnis Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah yang digelar oleh Kementerian Koperasi dan UKM. 

Bismo mengaku, Modultrax mendapat respon positif dari banyak pihak. Namun, Modultrax belum bisa dipesan karena belum masuk e-catalogue. Karena itu, besar harapan Bismo agar segera mendapat izin untuk memproduksi Modultrax secara massal.

Modultrax bukanlah inovasi pertama yang diciptakan Bismo. Jauh sebelum ini, Bismo pernah memproduksi kendaraan transportasi perkebunan “SIGAP” sebagai tugas akhir sarjananya di ITB. Bismo berpesan kepada mahasiswa untuk berani berkolaborasi dengan teman dari bidang ilmu lain demi masa depan Indonesia yang mandiri dalam aspek teknologi dan industri.

Referensi: itb.ac.id

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini