9 Profesor Diaspora Indonesia yang Mengajar di Kampus Top Dunia

9 Profesor Diaspora Indonesia yang Mengajar di Kampus Top Dunia
info gambar utama

Diaspora Indonesia atau Orang Indonesia perantauan adalah istilah yang disematkan bagi orang-orang keturunan Indonesia yang menetap di luar Indonesia.

Mereka yang menetap di luar negeri bisa untuk selamanya atau hanya sementara. Begitupun dengan status kewarganegara-annya, ada yang masih berstatus WNI maupun telah menjadi WNA.

Dari sekitar 8 jutaan diaspora Indonesia, ada puluhan profesor yang sukses berkiprah menjadi tenaga pengajar di kampus-kampus top dunia.

Siapa sajakah mereka? Berikut ini sosoknya.

1. Prof Ariel Heryanto

Prof Ariel Heryanto adalah sosiolog dan sejarawan berkebangsaan Indonesia yang lahir di Malang pada 1954. Ia tercatat sebagai salah satu guru besar di School of Culture, History and Language di The Australian National University (ANU), Australia.

Sebelumnya Ariel, sapaan akrabnya, pernah menjabat sebagai Ketua Southeast Asian Studies Centre di universitas yang sama. Ia juga menjadi Dosen Senior di beberapa kampus top lainnya seperti Melbourne University, National University of Singapore.

Saat ini, Ariel menjabat sebagai Herb Feith Professor untuk Studi Indonesia di Universitas Monash Australia sejak awal 2017.

2. Prof Benny Eko Tjahyono

Prof Benny Tjahyono merupakan Professor of Supply Chain Management di Conventry University, UK yang lahir di Surabaya pada 1971

Kiprah dan rekam jejak risetnya tak perlu diragukan lagi. Ia telah memenangkan sejumlah hibah penelitian dari berbagai lembaga pendanaan asing, diantaranya;

  • Engineering & Physical Research Council (EPSRC)
  • Economic and Social Research Council (ESRC)
  • Academy of Medical Sciences (ACMEDSCI)
  • InnovateUK
  • European Union
  • Dan lembaga pendanaan sektor industri Inggris lainnya.

3. Prof Sumanto Al Qurtubi

Prof Sumanto Al Qurtubi adalah seorang akademisi kelahiran Batang, Jawa Tengah, yang saat ini menjadi dosen antropologi di King Fahd Petroleum University, Arab Saudi. Sebelumnya, ia mengajar di Universitas Notre Dame dan Universitas Boston.

Sumanto memperoleh gelar PhD dari Boston University, dengan spesialisasi antropologi Islam dan masyarakat Muslim.

Selama karir akademisnya, ia telah dianugerahi beberapa beasiswa penelitian dan pengajaran seperti dari University of Notre Dame, National University of Singapore, Mennonite Central Committee, Kyoto University, National Science Foundation (USA), Earhart Foundation ( USA), dan Universitas Oxford,

4. Prof Sulfikar Amir

Prof Sulfikar Amir adalah seorang pengajar tetap di School of Social Sciences, Nanyang Technological University, khususnya di bidang science, technology, and society.

Wilayah kepakarannya adalah Science and Technology Studies (STS), Technological Politics, Development and Globalization, Risk and Disaster, Resilience, City and Infrastructure Studies.

Selain menjadi dosen, pria yang mendapat gelar Doktor di Rensselaer Polytechnic Institute (RPI) ini juga merupakan seorang peneliti aktif dan telah menerbitkan puluhan jurnal pendidikan bertaraf internasional.

5. Prof Ismail Fajri Atalas

Ismail Fajrie Atalas adalah dosen di bidang Sejarah dan Antropologi di New York University dan juga sekaligus suami dari politikus PSI Tsamara Amany

Pria yang lahir di Semarang pada 18 September 1983 ini berhasil memperoleh gelar master di bidang sejarah di National University of Singapore, dan mendapat gelar doktor dalam bidang Sejarah dan Antropologi di University of Michigan.

Ismail juga memiliki channel YouTube pribadi di mana ia mengunggah video edukatif tentang Sejarah Islam.

6. Prof Ken Kawan Soetanto

Prof Ken Kawan Soetanto adalah dosen berkebangsaan Indonesia yang berhasil menyandang empat gelar doktor di Jepang.

Pria kelahiran Surabaya tahun 1951 ini berprofesi sebagai pengajar sekaligus ketua dari program Biomedical Engineering, Department of Control dan System Engineering, School of International Liberal Studies (SILS)

Ia juga merupakan mantan dekan urusan Internasional Devisi Waseda University. Sangat luar biasa bukan?

7. Prof Nelson Tansu

Prof Nelson Tansu adalah salah satu professor termuda di Amerika Serikat. Ia bahkan berhasil menyabet 11 penghargaan dan 3 hak paten atas penelitiannya. Kini ia berkarir sebagai pengajar di Fakultas Teknik, Leigh University.

Pada awalnya, pria ini adalah penerima beasiswa Bohn’s Scholarship yang membiayainya untuk berkuliah di Universitas Winsconsin-Madison.

Prestasi serta kemampuan akademiknya yang berkualitas membuatnya terus-menerus mendapat beasiswa hingga ia meraih gelar doktor dalam bidang Electrical Engineering di universitas yang sama.

8. Prof Agus Pulung Sasminto

Prof Agus Pulung Sasminto adalah profesor di Jurusan Teknik Pertambangan McGill Canada. Ia juga dijuluki professor termuda dunia sebab pada tahun 2013 atau saat berusia 32 tahun ia telah berhasil mendapatkan gelar professorship tersebut.

Pria kelahiran Wonosobo Jawa Tengah pada 1983 ini adalah lulusan Teknik Fisika Universitas Gadjah Mada (UGM). Ia kemudian mendapatkan beasiswa ASEAN University Network untuk melanjutkan S3 jurusan teknik mesin di National University of Singapore.

Prestasi dan karya-karyanya yang bereputasi Internasional tak perlu diragukan lagi.

9. Prof Nadirsyah Hosen

Prof Nadirsyah Hosen adalah seorang akademisi Indonesia yang mengajar di Fakultas Hukum, Monash University sejak tahun 2015.

Pria yang lulus dari IAIN Syarif Hidayatullah (kini UIN Syarif Hidayatullah Jakarta) merupakan kelahiran 8 Desember 1973. Ia ternyata berhasil meraih dua gelar master sekaligus, yakni Master of Arts di University of New England dan Master of Laws di University of Nothern Territory.

Ia kemudian juga meraih dua PhD di luar negeri, yakni PhD di bidang Ilmu Hukum di University of Wollongong dan PhD dalam bidang Hukum Islam di National University of Singapore.

Itulah sepenggal profil dan kisah dari beberapa profesor yang sukses berkiprah di kampus-kampus top luar negeri.

Para ilmuwan tersebut telah mengajar, meneliti, dan menghasilkan temuan yang bermanfaat bagi masyarakat luas.

Semoga kisah mereka dapat menginspirasi kawula muda di negeri ini khususnya kalian yang ingin menjadi tenaga pengajar di Indonesia.

Referensi: Dikelola dari berbagai sumber

https://theconversation.com/profiles/benny-tjahjono-1319987/activities

https://www3.ntu.edu.sg/home/Sulfikar/sulfikaramir-vitae.pdf

https://sumantoalqurtuby.com/

https://nadirhosen.net/profil/

https://arielheryanto.com/video/

https://edukasi.sindonews.com/read/606447/211/sederet-profesor-asal-indonesia-mengajar-di-universitas-dunia-nomor-2-suami-tsamara-1637554281?showpage=all

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Achmad Faizal lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Achmad Faizal.

Terima kasih telah membaca sampai di sini