Fakta - Fakta Sejarah Di balik Pergantian Nama Makassar Menjadi Ujung Pandang

Fakta - Fakta Sejarah Di balik Pergantian Nama Makassar Menjadi Ujung Pandang
info gambar utama

Generasi yang lahir di kota Makassar sebelum tahun 1999 akan mendapati di akta kelahirannya tertulis nama Ujung Pandang, alih-alih nama kota Makassar.

Begitupun jika kalian naik pesawat dengan tujuan atau berangkat dari kota Makassar, maka kode penerbangannya adalah "UPG" yang merupakan singkatan dari Ujung Pandang.

Yah kota ini pernah memiliki nama lain yakni Ujung Pandang. Penggunaan nama ini berlangsung selama 28 tahun lamanya sebelum akhirnya berubah kembali menjadi Makassar.

Seperti apa fakta-fakta di balik penggantian nama tersebut? Ikuti kisahnya berikut ini.

Ujung Pandang Sebenarnya Nama Asli dari Benteng Fort Roterdam

Pada masa pemerintahan Raja Gowa ke-16, didirikanlah sebuah benteng yang bernama Benteng Ujung Pandang.

Masa itu merupakan puncak kejayaan Kerajaan Gowa, meski tidak lama berselang dengan adanya perjanjian Bungaya, kerajaan terbesar di kawasan Timur Nusantara itu akhirnya menemui awal keruntuhan.

Dengan mengakui kekalahan dari Kompeni Belanda, akhirnya Benteng Ujung Pandang diserahkan pada VOC sebagai salah satu isi dari Perjanjian Bungaya yang disepakati oleh Sultan Hasanuddin tahun 1667.

Lalu Ujung Pandang diubah menjadi Fort Roterdam. Adapun nama tersebut diambil dari nama kota kelahiran panglima militer VOC dalam Perang Makassar, Laksamana Cornelis Speelman.

Nama “Makassar” Lebih Populer di Kawasan Nusantara dan Eropa daripada "Ujung Pandang"

Kata “Makassar” menurut berbagai catatan historis lebih dikenal ketimbang nama "Ujung Pandang". Termasuk nama Kerajaan Gowa yang menyematkan kata “Makassar” dibelakangnya.

Mengutip laman Tempo bahwa bahwa nama Makassar telah disebutkan dalam pupuh 14/3 Kitab Negarakertagama karya Mpu Prapanca sejak abad ke-14 sebagai daerah taklukkan.

Senada dengan itu, menurut Direktur Lembaga Sejarah Fakultas Sastra, Universitas Hasanuddin, Hamzah Daeng Mangemba yang mengatakan bahwa nama Makassar lebih ideal dipakai.

Menurutnya dari segi ekonomis, perubahan menjadi Ujung Pandang justru merugikan daerah Sulawesi Selatan sebab pelabuhan-pelabuhan untuk barang ekspor memakai cap Makassar.

Perubahan Nama Ujung Pandang Ditentang oleh Kalangan Akademisi dan Budayawan Sulsel

Jika ditinjau dari aspek politis, pergantian nama Makassar ke Ujung Pandang dianggap tidak representatif sebagai ibukota. Pertimbangannya Makassar adalah sebuah suku bangsa padahal tidak semua penduduk Kota Makassar saat itu adalah etnis Makassar.

Melansir laman pemerintah kota Makassar, bahwa antara tahun 1930-an sampai tahun 1961, jumlah penduduk meningkat dari kurang lebih 90.000 jiwa menjadi hampir 400.000 orang.

Data itu juga menyebutkan bahwa lebih daripada setengahnya pendatang baru dari wilayah luar kota. Oleh karena itu, Ujung Pandang dianggap lebih mewakili.

Selain itu, pergantian tersebut berdasarkan julukan "Jumpadang" yang selama berabad-abad telah menandai Kota Makassar bagi orang pedalaman. Nama Ujung Pandang diketahui merupakan nama sebuah kampung dalam wilayah Kota Makassar

Namun gayung bersambut, akhirnya tiga cendekiawan terkemuka Makassar saat itu diantaranya; Prof. Zainal Abidin Farid, Dr. Mattulada, dan Dg Mangemba mengeluarkan Petisi Penolakan pada pertengahan Juli 1976.

Petisi yang ditujukan kepada Wali Kota Daeng Pattompo dan DPRD Kotamadya Ujung Pandang itu meminta agar dalam waktu singkat nama Ujung Pandang dikembalikan menjadi Makassar.

Barulah pada 1999, Kota Ujung Pandang berubah namanya kembali menjadi Makassar, tepatnya 13 Oktober, berdasarkan PP Nomor 86 Tahun 1999.

Perluasan Wilayah adalah Alasan Perubahan Nama Ujung Pandang

Wali Kota Makassar yang menjabat saat itu yakni Daeng Patompo beralasan bahwa perubahan ini sebagai imbas dari perluasan wilayah.

Tak dapat dipungkiri memang saat itu Makassar tengah mengalami lonjakan penduduk dan pertumbuhan ekonomi. Sehingga hal ini “memaksa” Daeng Patompo memekarkan wilayah dengan cara mencaplok tanah tetangga.

Meski awalnya terjadi ketegangan antar petinggi daerah khususnya Gowa, Maros dan Pangkep, namun akhirnya kompromi berjalan mulus dan kesepakatan pun dicapai. Sebagian wilayah mereka akan dilepas, dengan syarat nama Makassar harus diganti.

Maka wilayah tambahan seluas 94 kilometer persegi, yang dulunya menjadi milik Kabupaten Gowa, Maros serta Pangkajene Kepulauan (Pangkep) akhirnya disedekahkan ke pemerintah kota Makassar.

Jika yang awalnya wilayah Makassar hanya seluas 21 kilometer persegi, maka setelah penambahan wilayah berubah menjadi 115,87 kilometer persegi. Selain itu, sebanyak 11 kecamatan dan lebih dari 700 ribu penduduk pun masuk ke dalam administratif Kota Makassar.

Referensi:

https://nasional.tempo.co/read/1609468/inilah-alasan-nama-ujung-pandang-berganti-jadi-makassar

https://makassarkota.go.id/sejarah-kota-makassar/

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Achmad Faizal lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Achmad Faizal.

Terima kasih telah membaca sampai di sini