5 Indonesianis Kondang : Orang Asing yang Mengkaji Indonesia Selama Puluhan Tahun

5 Indonesianis Kondang : Orang Asing yang Mengkaji Indonesia Selama Puluhan Tahun
info gambar utama

Apakah kamu pernah mendengar istilah Indonesianis ?.

Indonesianis adalah orang non-Indonesia yang memiliki ketertarikan penuh dan mendedikasikan waktunya bertahun-tahun untuk meriset dan menulis di berbagai bidang tentang Indonesia.

Umumnya jejak -jejak mereka dapat dilacak melalui tindakan maupun karya - karya sebagai bagian dari karier mereka.

Tak ada data pasti berapa jumlah Indonesianis. Merujuk jumlah peserta pada acara tahunan Kongres Indonesianis Sedunia 2021 yang digagas oleh Kemenlu Indonesia hanya mencatat sebanyak 250 peserta.

Dari ratusan orang Asing yang sangat cinta terhadap segala hal tentang Indonesia itu, setidaknya ada 5 Indonesianis yang paling terkemuka dan paling sering dikutip dalam jurnal-jurnal penelitian tentang Indonesia.

Siapa sajakah mereka? Simak rangkuman berikut ini

1. Benedict Anderson : Pakar Kajian Politik Indonesia

Siapa yang tak kenal dengan Benedict Anderson ?. Bernama lengkap Benedict Richard O'Gorman Anderson dan lebih populer dipanggil Ben Anderson ini adalah ilmuwan kelahiran Amerika.

Buku-buku yang ditulis profesor dari Universitas Cornell, Amerika Serikat ini telah ikut mewarnai dinamika pemikiran dunia tentang Indonesia dan menjadi rujukan utama

Ben Anderson mulai dikenal sejak ia melancarkan kritik-kritiknya terhadap Orde Baru. Imbasnya, Ia pernah dilarang masuk ke Indonesia oleh Soeharto dan baru datang lagi ke Indonesia pasca kejatuhan rezim Soeharto.

Karyanya yang mengusik Orde Baru adalah "The Cornell Paper" yang diterbitkan pada 1 Januari 1966 adalah berisi analisis tentang peristiwa G30S.

Ia menyimpulkan G30S adalah persoalan internal Angkatan Darat dan Partai Komunis Indonesia tidak terlibat langsung.

Seumur hidupnya, Ben Anderson telah menulis lebih dari 400 publikasi yang telah diterjemahkan ke lebih dari 20 bahasa. Ia meninggal pada 13 Desember 2015 di Batu, Malang.

2. Robert Hefner : Pakar Kajian Islam dan Politik Kebudayaan Indonesia

Robert Hefner adalah profesor Antropologi di Universitas Boston, AS. Dedikasinya selama puluhan tahun meriset di Indonesia telah menghasilkan sekitar 21 buku yang membahas tentang keIndonesiaan.

Tema yang menjadi perhatian Profesor Hefner berkisar pada sejarah Islam, masyarakat Muslim, kerukunan dalam masyarakat pluralistik dan juga politik. Untuk itu, dia menghabiskan waktu lama di daerah-daerah berbasis pesantren.

Ia tinggal di pedesaan dan meneliti hubungan masyarakat minoritas Hindu dan mayoritas Muslim. Hasil riset tersebut mengantarkannya meraih gelar master di Universitas Michigan, AS.

Dalam satu wawanara, Ia mengatakan bahwa pertama kali mengenal Indonesia melalui mata kuliah sejarah dan kebudayaan Asia Tenggara, dan di dalamnya terdapat topik tentang Indonesia.

3. Anthony Reid : Pakar Sejarah Aceh dan Indonesia Modern

Profesor Sejarah kelahiran Selandia Baru tahun 1939 ini pernah memperoleh Anugerah Kebudayaan Kategori Perorangan Asing 2016.

Dia adalah Anthony Reid, seorang indonesianis yang karya-karyanya banyak mengkaji sejarah Aceh, terutama sejak berdirinya Kesultanan Aceh.

Reid juga cukup intens mendalami sejarah tentang Sulawesi Selatan, sejarah modern Hindia Belanda/Indonesia pada abad ke-20, dan secara umum Ia juga dikenal sebagai pakar sejarah Asia Tenggara.

Perkenalannya dengan Asia Tenggara diawali pada tahun 1952. Ketika itu ia ikut ayahnya yang bertugas sebagai diplomat di Jakarta. Pengalaman ini membuat dirinya ingin keluar dari belenggu “British” yang sangat kental mewarnai Selandia Baru dan Australia saat itu.

4. Clifford Geertz : Pencetus Istilah Islam Priyayi dan Abangan

Kalian pernah dengar istilah Islam “Priyayi” dan “Abangan” ?. Yah Ilmuwan inilah yang menelurkan istilah tersebut.

Adalah Clifford James Geertz, Antropolog berkebangsaan Amerika yang banyak melakukan penelitian mengenai Islam Indonesia, perkembangan ekonomi, struktur politik tradisional, serta kehidupan desa dan keluarga.

Terkait kebudayaan Jawa, dialah yang mempopulerkan istilah “priyayi” saat melakukan penelitian tentang masyarakat Jawa pada tahun 1960-an di kecamatan Pare, Kediri, dan mengelompokkan masyarakat Jawa ke dalam tiga golongan; priyayi, santri, dan abangan.

Sejak tahun 1970, Geertz menjabat sebagai profesor emeritus di Fakultas Ilmu Sosial di Institute for Advanced Study. Ia juga pernah menjabat sebagai profesor tamu di Departemen Sejarah Universitas Princeton, dari tahun 1975 hingga 2000.

Karya paling monumentalnya adalah “The Religion of Java” (Agama Jawa). Ia sendiri lahir di San Francisco pada 23 Agustus 1926, dan meninggal di Philadelphia pada 30 Oktober 2006.

5. Merle Calvin Ricklefs : Pakar Sejarah Jawa dan Kerajaan Islam di Jawa

Prof. Merle Calvin Ricklefs, Ph.D. adalah sejarawan kontemporer Australia kelahiran 1943. Ia dianggap memiliki otoritas dalam kajian sejarah Jawa (dan Indonesia), terutama pada periode 1600-an hingga 1900-an.

Ia adalah sejarawan asing pertama yang menulis sejarah Jawa dengan menggunakan sumber Jawa sebagai sumber utama.

Ricklefs telah mencurahkan hidupnya untuk mempelajari Mataram, Kartasura, Yogyakarta, Surakarta, Jawa Tengah, dan sejarah berdirinya Indonesia modern sejak 1200 hingga 2008.

Gelar doktor diperolehnya dari Universitas Cornell, dan kemudian memimpin Program Kajian Ketimuran dan Afrika, Universitas Monash.

Ia pun mengajar di Program Kajian Timur Tengah dan Asia Universitas London, Universitas Nasional Australia (ANU), Universitas Melbourne, dan Universitas Nasional Singapura (NUS).

Fokus utama penelitiannya adalah mengenai sejarah kerajaan-kerajaan Islam di Jawa dan pengaruhnya pada kerajaan-kerajaan lain di Nusantara.

Ia banyak mengungkap aspek pergulatan masyarakat Jawa dalam menghadapi perubahan budaya pada masa 1600 hingga kini akibat masuknya pengaruh kebudayaan Islam dan Barat.

Beberapa buku tulisannya sekarang menjadi rujukan utama berbagai penelitian mengenai perkembangan Islam di Jawa dan Indonesia.

Ia menghembuskan nafas terkahirnya 3 tahun lalu yakni pada 29 Desember 2019 di Australia.

Referensi:

https://nasional.tempo.co/read/727346/siapa-indonesianis-ben-anderson-ini-profil-dan-karyanya

https://www.bbc.com/indonesia/dunia-60893560

https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/ditwdb/pakar-sejarah-aceh-dan-indonesia-modern-anthony-reid/

https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/mkn/clifford-geertz/

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Achmad Faizal lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Achmad Faizal.

Terima kasih telah membaca sampai di sini