5 Fakta Sosok Raja Ali Haji yang Dirayakan oleh Google Doodle Hari Ini

5 Fakta Sosok Raja Ali Haji yang Dirayakan oleh Google Doodle Hari Ini
info gambar utama

Jika kalian membuka google hari ini, 5 November 2022, maka kalian mendapati seorang pria berpeci hitam dan berkacamata bulat yang terpampang di sebuah buku.

Dialah Raja Ali Haji, seorang sastrawan yang mahsyur di abad 19 karena atas jasanya dalam meletakkan penyusunan dasar-dasar tata bahasa Melayu, yang kemudian menjadi embrio bahasa nasional Indonesia.

Perlu diketahu bahwa Google Doodle adalah perubahan logo Google yang ditujukan untuk merayakan liburan dan peristiwa penting, serta memperingati kehidupan para seniman, pelopor, dan ilmuwan terkenal.

Maka hari ini, Google mengganti logonya dengan wajah Raja Ali Haji yang juga bertepatan waktu penyematan gelar pahlawan nasional Indonesia 18 tahun silam.

Seperti apa kiprah beliau? Mari menyelami 5 fakta singkat di bawah ini.

Raja Ali Haji adalah Keturunan Bangsawan Bugis - Melayu

Dialah Raja Ali Haji bin Raja Haji Ahmad atau yang lebih akrab dengan nama penanya yakni Raja Ali Haji lahir pada 1808 silam dan wafat pada 1873.

Secara silsilah, ia merupakan keturunan bangsawan sekaligus cucu dari Raja Ali Haji Fisabilillah,Yang Dipertuan Muda IV, seorang bangsawan dari Kesultanan Lingga-Riau

Mengutip buku Mengenal Pahlawan Indonesia oleh Arya Ajisaka, ia juga merupakan keturunan La Madusilat, raja Bugis pertama yang memeluk Islam.

Karena besar di lingkungan kesultanan dengan tradisi keilmuan Islam yang kuat, sekaligus pernah menimbah ilmu hingga ke Mekkah dan Madinah, maka tak heran Raja Ali Haji menjadi ulama terkemuka di negerinya.

Raja Ali Haji adalah Peletak Pertama Penyusunan Dasar- Dasar Tata Bahasa Melayu

Raja Ali Haji terkenal karena jasanya dalam memprakarsai penyusunan tata bahasa Melayu pada pertengahan abad 19 melalui buku Pedoman Bahasa; buku yang menjadi standar bahasa Melayu.

Bahasa Melayu standar (juga disebut bahasa Melayu baku) inilah yang kemudian dalam Kongres Pemuda Indonesia 28 Oktober 1928 ditetapkan sebagai bahasa nasional Indonesia.

Gurindam Dua Belas: Mahakarya Raja Ali Haji yang Sarat Nasihat

Tak hanya ahli di bidang keagamaan, Raja Ali Haji juga seorang sastrawan sekaligu pujangga dengan segudang karya berbentuk prosa dan puisi berlatar tema yang beragam, antara lain bahasa, hukum, sastra, dan keagamaan.

Pada 1847, Raja Ali Haji menulis sebuah karya yang berjudul Gurindam Dua Belas. Karyanya tersebut meledak dan sangat terkenal, terutama di negara-negara Melayu.

Kemudian pada 1858, ia menulis Kitab Pengetahuan Bahasa. Kitab inilah yang menjadi pelopor perkamusan monolingual bahasa Melayu.

Selain dua judul tersebut, karya Raja Ali Haji lainnya di antaranya adalah Syair Abdul Muluk, Silsilah Melayu Bugis, Syair Hukum Nikah, Tsamarat al-Muhimmah, Tuhfat al Nafis, dan Gemala Mustika Alam.

Karya-karyanya tersebut lebih banyak diterbitkan di Malaysia. Di Indonesia, hanya Syair Abdul Muluk dan Gurindam Dua Belas yang pernah diterbitkan secara komersial.

Raja Ali Haji Diberi Gelar Pahlawan Nasional Indonesia pada 2004

Karya-karya Raja Ali Haji dianggap sebagai pelopor atau cikal-bakal terbentuknya bahasa Nasional Indonesia melalui kongres Pemuda 1928.

Maka tak heran jika pemerintah Indonesia menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepadanya lewat lewat Surat Keputusan Presiden No. 089/TK/Tahun 2004, tepatnya pada 5 November 2004.

Kisah Perjalanan Hidup Raja Ali Haji Diabadikan Lewat Film Populer

Mata Pena Mata Hati Raja Ali Haji adalah film Indonesia yang dirilis pada 2 Mei 2009 di bawah asuhan sutradara Gunawan Paggaru dan dibintangi oleh Alex Komang, Henidar Amroe, Cok Simbara, Al azhar, Andi Anhar Chalid, dan Teja Alhabd.

Film ini mengangkat perjalanan kesusastraan Melayu yang menampilkan tiga sekuel: masa Raja Haji Fisabilillah, masa Engku Putri Raja Hamidah, dan masa Raja Ali Haji.

Film ini pun dimaksudkan untuk mengingatkan masyarakat Indonesia bahwa Raja Ali Haji adalah tokoh penting dalam perjalanan kesusastraan Melayu dengan karya terkenalnya “Gurindam 12″ tersebut.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Achmad Faizal lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Achmad Faizal.

Terima kasih telah membaca sampai di sini