Masjid Tua Katangka : Saksi Bisu Sejarah Penyebaran Islam di Kerajaan Gowa Akhir Abad 16

Masjid Tua Katangka : Saksi Bisu Sejarah Penyebaran Islam di Kerajaan Gowa Akhir Abad 16
info gambar utama

Masjid Katangka umumnya dikenal sebagai salah satu masjid tertua di daratan Sulawesi Selatan. Masjid ini disinyalir menjadi saksi bisu penyebaran islam di Kerajaan Gowa pada abad 16.

Secara administratif, masjid ini beralamat di Jl Syech Yusuf, Kec Somba Opu, Kab. Gowa. Letak masjid ini juga masih satu lokasi dengan kompleks makam raja-raja Gowa.

Seperti apa peran dan fungsinya pada masa itu ?. Mari berkelana ke masa lalu melalui tulisan singkat berikut ini.

Ada 2 Versi Sejarah Pendirian Masjid Katangka

Pendirian Masjid Katangka atau disebut juga Masjid Tua Al-Hilal ini ternyata memiliki beragam versi sejarah.

Versi pertama mengatakan bahwa masjid ini dibangun pada abad 16, oleh Raja Gowa 14 bernama I Mangarangi Daeng Manrabbia karaeng Lakiung atau orang Arab menyebutnya Sultan Alauddin I (1596 - 1639).

Sultan Alauddin adalah Raja Gowa pertama yang memeluk agama Islam. Ia juga merupakan kakek dari I Mallombassi Muhammad Bakir Daeng Mattawang Karaeng Bontomangape Tumenanga ri Balla Pangkana atau yang dikenal dengan nama Sultan Hasanuddin, Raja Gowa 16.

Versi kedua mengatakan bahwa masjid ini dibangun pada abad 18. Ini merujuk kepada sumber prasasti yang tertulis di bagian pintu utama, pintu utara, pintu tengah, dan pintu selatan masjid.

Di situ, terdapat ukiran tulisan Arab berbahasa Makassar. Tulisan tersebut menyatakan bahwa Masjid Katangka dibangun tahun 1886 M pada masa pemerintahan I Malingkaan Daeng Nyonri Karaeng Katangka atau Sultan Idris Tuminanga ri Kalabbiranna (1893-1895 M).

Asal Usul Nama dan Fungsi Masjid Katangka

Dinamakan Masjid Katangka karena berlokasi di Katangka, Kec Somba Opu, Kab Gowa. Selain itu, masjid ini disebut Katangka, karena bahan baku dasar dari masjid tersebut diyakini diambil dari pohon Katangka.

Jadi ketika Islam telah diterima oleh Sultan Alauddin, maka ditunjuklah pohon ini, untuk mendirikan masjid. Tempat tersebut adalah di mana para pedagang muslim pertama kali melaksanakan salat Jumat.

Selain sebagai rumah ibadah, Masjid Katangka juga saat itu digunakan sebagai kediaman para aristokrat yang berasal dari Pulau Jawa.

Hingga saat ini, Masjid dengan kapasitas 200 orang di dalam masjid dan hingga 1000 orang di luar masjid ini tetap digunakan sebagai tempat ibadah shalat.

Akulutrasi Budaya pada Arsitektur Masjid Katangka

Hal yang menarik dari Masjid Katangka adalah terdapat perpaduan berbagai budaya pada bangunan masjid ini.

Hal ini terlihat pada atap masjid yang menyerupai Joglo, bangunan khas suku Jawa. Lalu tiangnya dipengaruhi oleh arsitektur khas Portugis, dan bagian mimbar sangat kental dengan sentuhan kebudayaan China yang mirip atap klenteng.

Bangunan ini juga memiliki empat tiang penyangga, lima pintu masuk, enam jendela serta dua lapis atap yang mana masing - masing jumlah tersebut memiliki landasan filosofis.

Tiang yang berjumlah empat berarti empat sahabat nabi, lima pintu bermakna lima rukun Islam. Lalu enam jendela bermakna enam rukun iman dan atap dua lapis berarti dua kalimat syahadat.

Ciri khas lainnya adalah bagian dinding mesjid ini dibangun dengan batu bata itu cukup tebal, yakni mencapai 120 cm. Alasan historisnya yakni masjid ini pernah dijadikan sebagai benteng pertahanan saat Raja Gowa melawan penjajah.

Menurut takmir Masjid yang diwawancara oleh Media Indonesia, Masjid Katangka telah melewati 6 kali pemugaran sejak pertama kali didirikan. Kendati demikian, masjid ini tetap mempertahankan bentuk dan keasliannya.

Misalnya, ketika ada bagian bangunan yang rusak, maka akan diganti dengan bahan dan ukuran sama, kecuali pada bagian lantai, yang awalnya terbuat dari tanah liat. Tapi saat ini, sudah berlantai ubin keramik.

Masjid Tua Al-Hilal ini telah terdaftar sebagai benda cagar budaya Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan dan sekaligus ditetapkan sebagai benda cagar budaya nasional tahun 1999, oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan saai itu, Juwono Sudarsono.

Referensi:

https://simas.kemenag.go.id/index.php/profil/masjid/71196/#content-sejarah

https://duniamasjid.islamic-center.or.id/1231/masjid-katangka-gowa/

https://mediaindonesia.com/nusantara/399096/masjid-katangka-saksi-seabad-lebih-islam-di-gowa

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Achmad Faizal lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Achmad Faizal.

Terima kasih telah membaca sampai di sini