Kue Rasidah Khas Melayu: Rasa Manis dan Gurih Saling Bersinergi

Kue Rasidah Khas Melayu: Rasa Manis dan Gurih Saling Bersinergi
info gambar utama

#WritingChallengeKawanGNFI #CeritadariKawan #NegeriKolaborasi #MakinTahuIndonesia

Sumatra Utara yang beribu kota di Medan dengan jumlah penduduk terbesar keempat di Indonesia memiliki beraneka ragam budaya, adat-istiadat, wisata, dan kuliner yang menggugah hati para penikmatnya. Sejarah Medan berawal dari sebuah kampung yang didirikan oleh Guru Patimpus di pertemuan Sungai Deli dan Sungai Babura. Kota ini menjadi pusat pemerintahan Kesultanan Deli, sebuah kerajaan Melayu. Salah satu warisan budaya dari tanah Deli yang akan saya bahas di sini adalah Kue Rasidah. Kue ini tidak mudah ditemui di pasaran karena Rasidah adalah kue khas Melayu yang biasanya dihidangkan dalam pesta-pesta adat Melayu maupun pesta pernikahan.

Seorang pembuat kue Rasidah, Siska Hasibuan, Owner Mumubutikue kota Medan, memberikan banyak informasi pada saya tentang kue Rasidah yang masih asing terdengar. Sejarah kue Rasidah memiliki cerita yang berbeda-beda di masyarakat Melayu. Namun, ada satu cerita unik dari seorang pembuat kue Rasidah yang sudah senior atau sepuh (lanjut usia). Menurut beliau, sejarah kue Rasidah ini sangat mengharukan, yang mana nama Rasidah diambil dari nama seorang perempuan Melayu yang cantik dan pandai membuat kue. Perempuan ini sangat mengagumi Sultan (tidak disebutkan nama sultannya) dan rasa kagumnya yang luar biasa membuatnya merasakan patah hati. Saat itu tersebarlah berita bahwa sang Sultan akan menikah dengan perempuan lain dan dia didaulat membuat kudapan/kue untuk pesta adat di pernikahan sang Sultan, laki-laki yang dia kagumi. Perasaan bercampur aduk. Rasa sedih yang sangat mendalam di hatinya membuat perempuan ini memerlukan waktu yang lama untuk menyelesaikan kudapan yang akan dihidangkan di pesta adat sang Sultan. Sambil menangis, dia tetap menjalankan tanggung jawabnya sebagai orang yang dipercayai oleh Sultan. Sampai akhirnya, jadilah kue Rasidah. Ini adalah salah satu cerita rakyat diantara cerita lainnya tentang sejarah kue Rasidah.

Kue Rasidah | Dokumentasi Pribadi
info gambar

Kalau dilihat dari segi bentuk, tekstur, dan bahan-bahan pembuatan kue Rasidah, kue ini memiliki filosofi yang cukup tinggi. Bahan-bahan yang digunakan dalam membuat kue ini adalah tepung terigu, gula, minyak, air, dan ditambah topping bawang goreng. Menurut Siska Hasibuan, kue ini melambangkan perdamaian. Karena dalam pembuatan kue Rasidah, minyak dan air dapat bersatu, rasa manis dari gula dan gurih dari bawang goreng saling bersinergi sehingga menyatu dan nikmat di lidah. Ada hal-hal yang tidak mungkin terjadi menjadi mungkin dalam kue Rasidah. Kue ini juga menjadi sangat spesial karena proses pembuatan yang membutuhkan effort lebih, terutama cara mengaduk yang konsisten memerlukan ketelitian dan kesabaran yang luar biasa. Tidak ada hal yang tidak inspiratif dari sejarah, proses pembuatan, dan hasil akhir dari kue Rasidah.

Tepat di tahun 2022, Siska Hasibuan juga mengatakan bahwa kue Rasidah yang beliau produksi menjadi nominasi warisan budaya tak benda yang mewakili kota Medan, Sumatra Utara ke UNESCO. UNESCO sendiri adalah Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB. Warisan budaya tak benda diwariskan dari generasi ke generasi yang secara terus-menerus diciptakan kembali oleh masyarakat dan kelompok dalam menanggapi lingkungan sekitar, interaksi mereka dengan alam dan sejarah mereka, dan memberikan rasa identitas yang berkelanjutan untuk menghargai perbedaan budaya dan kreativitas manusia. Maka dari itu, kue Rasidah merupakan budaya yang hidup sehingga dikategorikan ke dalam nominasi warisan budaya tak benda.

Melalui kue Rasidah, Siska Hasibuan juga sudah menjaga kelestarian budaya Indonesia yang beraneka ragam melalui cita rasa lokal dan menjadikannya mendunia. Dengan sangat konsisten, beliau menjaga dan mempertahankan kuliner khas Melayu Deli di tengah arus masuknya berbagai makanan asing/luar asing.

Referensi:Sumut Indozone | Wikipedia | Instagram Mumubutikue | Wawancara Narasumber Siska Hasibuan S.Sos, M.Pd, Dosen LP3I Medan, Universitas Islam Negeri Sumatera Utara dan pemilik Mumubutikue Medan.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan. Artikel ini dilengkapi fitur Wikipedia Preview, kerjasama Wikimedia Foundation dan Good News From Indonesia.

NM
KO
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini