Bakpia Pathok - Camilan Legend Khas Jogjakarta Sejak Tahun 1940-an

Bakpia Pathok - Camilan Legend Khas Jogjakarta Sejak Tahun 1940-an
info gambar utama

Bakpia Pathok merupakan camilan khas Daerah Istimewa Yogyakarta yang tak boleh kalian lewatkan tatkala berkunjung ke wilayah penghasil Gudeg ini.

Bakpia pada dasarnya semacam kue yang berisikan kacang hijau atau ubi dan dilapisi tepung yang dipanggang hingga menghasilkan tekstur dan rasa tertentu.

Menariknya, Bakpia Pathok ini hanya boleh dibeli di Jogja sebagai oleh-oleh khas, sehingga kalian tidak akan menemukan cabangnya di daerah lain.

Dibalik rasanya yang manis, Bakpia Pathok telah melewati berbagai lintasan zaman hingga dapat dikenal hari ini. Seperti apa kisahnya?, Simak paparan historinya berikut ini,

Sejarah Bakpia Pathok Jogjakarta

Menyadur laman kompas.com bahwa Bakpia sebenarnya berasal dari kata “tou luk pia” yang berarti kue pia kacang hijau.

Namun sebelum adanya Bakpia Pathok yang berisi pasta kacang hijau ini, kue yang terpengaruh dari kuliner Tiongkok ini aslinya bernama Hokkien, yang secara harfiah berarti kue dengan isi daging babi.

Kemudian Kwik Sun Kwok, inisiator kue Bakpia Pathok, berinisiatif untuk mengubah isi dari Bakpia ini dengan kacang hijau dan mulai diproduksi di kampung Pathuk Yogyakarta sejak tahun 1948.

Kala itu Bakpia masih dijual secara sistem eceran. Pengemasannya pun tanpa label dan menggunakan besek. Peminatnya juga masih dari kalangan terbatas.

Adapun kemunculan kemasan bakpia berlabel merek dagang mulai sekitar tahun 1980. Maka sejak saat itulah bakpia mulai dikenal di masyarakat, khususnya di Jogjakarta.

Perbedaan Bakpia Kering dan Bakpia Basah

Terdapat dua jenis bakpia yang umum dijual, yakni bakpia basah dan kering. Meski dari segi bentuk dan isian sama tetapi bakpia kering dan bakpia basah memiliki perbedaan.

Salah satu perbedaan bakpia kering dan bakpia basah yakni pada proses pembuatannya. Pada Bakpia kering kadar zat cairannya biasanya dikurangi, baik dari minyak maupun airnya.

Tak hanya itu, proses pemanggangan bakpia kering pun lebih lama. Api yang digunakan biasanya juga lebih besar agar betul-betul kering.

Kemudian tekstur kulit pada bakpia kering lebih gurih tatkal dikunyah, sedangkan bakpia basah kulitnya cenderung lembap dan lembut.

Selain tekstur kulit, ketahanan bakpia kering dan bakpia basah juga berbeda. Bakpia basah yang berkulit lembap lebih mudah berjamur dibanding bakpia kering.

Untuk masa simpannya sendiri, bakpia basah sekitar empat sampai lima hari. Sementara, bakpia kering bisa 10 hari.

Perbedaan Bakpia Pathok 25 dan Bakpia Pathok 75

Dari sekian banyak merek dagang bakpia yang telah merintis dari dekade 80-an, hanya Bakpia 25 dan Bakpia 75 yang mampu eksis dan dikenal luas hingga kini.

Melansir dari laman jogja.suara.com bahwa Bakpia Patuk 75 didirikan pada tahun 1948 oleh keluarga Liem Bok Sing yang berawal dari usaha keluarga membuat kue basah, dan salah satunya adalah bakpia.

Sementara Bakpia Pathok 25 dirintis oleh Tan Aris Nio dan dilanjutkan oleh anaknya, Arlen Sanjaya. Sama seperti pesaingnya, Bakpia Pathok 25 juga berawal dari bisnis rumahan yang dikerjakan oleh satu pegawai dan lima anak pemiliknya.

Harga dan Varian Rasa Bakpia Pathok

Melansir laman resmi Bakpia 25 bahwa terdapat beragam varian rasa Bakpia, mulai dari Kacang Hijau, Cokelat, Keju, Nanas, Durian, Cappucino, Kumbu (kacang merah), Green Tea, Telo Ungu, Tiramisu, Susu, Recheese (keju manis).

Untuk harganya, ada yang 35 ribu untuk yang original dan 50 ribu untuk premium. Dan kue ini dapat bertahan 4 hingga 10 hari tergantung varian rasanya.

Adapun Bakpia Pathok 75 yang isi kacang hijau klasik untuk satu kemasan berisi 15 butir dijual 35 ribu.

Referensi: kompas.com | bakpia25.com | jogja.suara.com

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Achmad Faizal lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Achmad Faizal.

Terima kasih telah membaca sampai di sini