Kaledo – Filosofi dari Lezatnya Kuliner Etnik Kaili

Kaledo – Filosofi dari Lezatnya Kuliner Etnik Kaili
info gambar utama

#WritingChallengeKawanGNFI #CeritadariKawan #NegeriKolaborasi #MakinTahuIndonesia

Seperti yang Kawan GNFI ketahui, bahwa budaya di Indonesia sangatlah beragam. Memiliki 1.340 suku yang tersebar di penjuru nusantara, mencatatkan ribuan warisan kuliner yang menjadi daya tarik warga lokal maupun wisatawan. Kita mungkin lebih familier dengan Gudeg dari Jogja, Rendang dari Sumatera Barat, atau Sate Lilit dari Bali. Beberapa contoh kuliner khas tadi tentu memiliki nilai historis dan filosofinya masing-masing. Tapi, apakah daerah lain di Indonesia juga memiliki kuliner unik nan lezat? Tentu saja, namun kuliner-kuliner tersebut belum dikenal secara luas, seperti halnya kaledo yang berasal dari etnik Kaili. Etnik kaili merupakan kelompok masyarakat asli dari provinsi Sulawesi Tengah, tepatnya di daerah Palu, Sigi, dan Donggala.

Tulang Kaki Sapi ⌊ iStock
info gambar

Perlu Kawan GNFI pahami, bahwa masakan kaledo punya ciri khas yang membedakannya dari jenis olahan daging sapi lainnya. Yah, kuliner satu ini menggunakan bahan utama berupa tulang kaki sapi, yang dipadukan dengan cita rasa gurih, asam dari asam jawa, dan sedikit pedas dari cabai. Masyarakat etnik Kaili menyantap kaledo bersama singkong (kasubi) atau pisang mengkal yang sudah dikukus. Pada zaman sekarang, banyak yang mengartikan kaledo dengan sebutan “Kaki Lembu Donggala”, yang sesuai dengan bahan utamanya. Tapi sebenarnya nama kaledo bukan tercipta dari singkatan tiga kata tadi lho!

Nah yang uniknya lagi, kaledo tidak hanya lezat dari segi rasa lho! tapi kaledo juga punya kisah dan filosofi di baliknya yang penuh makna. Hal yang terkandung dalam latar belakang kaledo dapat merepresentasikan kehidupan etnik Kaili di Sulawesi Tengah. Apa saja? Simak penjelasan berikut.

1. Kisah di Balik Nama Kaledo

Menurut para tokoh budaya Kaili, bahwa zaman dulu ada seorang laki-laki yang datang terlambat pada acara pembagian daging sapi yang dilakukan oleh seorang dermawan yang kaya. Kisah tersebut mengingatkan kita dengan tradisi yang masih dilakukan di masa sekarang, yaitu hari raya qurban. Karena keterlambatannya itu, laki-laki tersebut hanya mendapat potongan pada bagian kaki sapi. Dengan perasaan kecewa, ia pun pulang ke rumah dan memberikan kaki sapi tadi kepada istrinya untuk dijadikan hidangan. Saat ia sedang mencicipi masakan istrinya, si istri pun bertanya “Naka’a?” yang berarti keras, dan ia pun menjawab “Ledo!” yang berarti tidak. Karena penyebutan dua kata tadi, akhirnya terciptalah nama makanan yaitu "kaledo", yang memiliki arti "tidak keras". Jadi, kata Kaledo bukanlah “Kaki Lembu Donggala”, melainkan pemaknaan dari ‘tidak keras’ akibat proses memasak yang lama.

2. Kaledo Berhubungan dengan Hari-hari Besar

Seperti halnya masakan dari daerah lain yang hanya dimasak saat perayaan tertentu, begitu pula dengan kaledo. Makanan khas ini awalnya hanya dihidangkan oleh masyarakat Kaili pada saat hari-hari besar saja, seperti Pernikahan, syukuran, maupun lebaran. Masyarakat etnik Kaili meyakini bahwa kaki sapi merupakan simbol kekuatan dan proses ketabahan dalam menjalani kehidupan. Tapi, seiring dengan berjalannya waktu, masyarakat Kaili mulai mengolah kaledo pada hari-hari biasa, bahkan mulai mengganti singkong dan pisang yang menjadi pelengkap hidangan dengan burasa (nasi dan santan yang dibungkus daun pisang).

3. Berangkat dari Sebuah Kepercayaan pada Hal Gaib

Mayoritas masyarakat etnik Kaili masih sangat percaya akan keberadaan makhluk gaib. menganggap bahwa bukan hanya manusia yang mendiami dunia, melainkan ada entitas lainnya. Berangkat dari kepercayaan itu, masyarakat etnik Kaili yakin bahwa dengan memakan kaledo dapat terhindar dari jin ataupun setan. Hal itu karena jeruk nipis, asam jawa, dan garam yang digunakan sebagai bahan tambahan Kaledo dapat menjadi penangkal serangan jahat jin ataupun setan. Hal yang sama juga ada pada kepercayaan masyarakat di Jawa, mengenai garam sebagai penangkal makhluk gaib.

4. Tungku yang Memiliki Makna

Proses memasak kaledo dengan menggunakan tonda (tungku) khas Kaili yang disebut talusi. Hal tersebut diyakini dapat membuat cita rasa kaledo menjadi lebih nikmat. Penggunaan talusi bukan tanpa alasan, selain proses memasak dengan tradisional, masyarakat etnik Kaili percaya bahwa talusi memiliki nilai luhur dari etnik mereka. Nilai dan makna yang dimaksudkan adalah kesatuan dan gotong royong. Hal tersebut dapat terlihat di mana batu penyangga pada tungku berjumlah tiga buah. Maksudnya adalah, apabilah salah satu batu penyangganya tidak ada (hilang), maka wadah di atasnya tidak akan seimbang dan kaledo akan tumpah ke tanah. Itulah nilai yang diilhami masyarakat etnik Kaili, bahwa gotong royong akan menjaga kehidupan dari adanya perpecahan.

Demikian penjelasan mengenai kuliner khas dari tanah Kaili tadi. Indonesia memang memiliki banyak emas kuliner yang belum banyak di telusuri, bahkan oleh orang Indonesia itu sendiri. Selain karena rasa yang mampu menggetarkan lidah, makanan tradisional apapun tentu memiliki kisah dan filosofi yang menjadi identitas daerah asalnya.

Jadi, apakah Kawan GNFI tertarik untuk mencoba kaledo langsung ke kota Palu?

Jika iya, jangan lupa untuk memberikan ulasan ya, agar kaledo makin dikenal dipenjuru nusantara hingga seluruh dunia.

Referensi:IDN Times | Traveling Yuk | Wikipedia

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan. Artikel ini dilengkapi fitur Wikipedia Preview, kerjasama Wikimedia Foundation dan Good News From Indonesia.

DG
KO
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini