Mengenal Rayap Pembangun Katedral di Ujung Timur Indonesia

Mengenal Rayap Pembangun Katedral di Ujung Timur Indonesia
info gambar utama

Di ujung timur wilayah Indonesia, tepatnya di Kabupaten Merauke, Provinsi Papua, terdapat gundukan-gundukan tanah yang bentuknya menyerupai katedral, seperti di negara Eropa. Uniknya, gundukan tanah yang tingginya bisa sampai lima meter atau lebih tersebut, tidak dibuat oleh tangan-tangan manusia, melainkan rayap.

Keajaiban ini tidak akan ditemukan di tempat lain di Indonesia. Gundukan tanah serupa hanya bisa ditemui di bagian utara Australia atau savana Afrika.

Gundukan-gundukan itu ternyata merupakan rumah rayap raksasa yang berada di Taman Nasional Wasur. Bagi Suku Marind Anim, suku terbesar di Merauke, rumah rayap ini dinamakan bomi. Secara umum di Merauke, rumah rayap itu lebih populer disebut musamus, serta dijadikan nama dan logo Universitas Musamus di Merauke.

Meski demikian, banyak orang yang menyangka masamus adalah rumah semut. Padahal, sebenarnya masamus adalah rumah rayap [termite mound] dari genus Macrotermes.

Para ilmuwan mencatat, terdapat lebih kurang 330 spesies rayap dari genus Macrotermes yang tersebar dari Afrika hingga Asia Tenggara dan Australia. Rumah rayap sendiri merupakan upaya adaptasi rayap Macrotermes terhadap lingkungan alam yang ekstrim. Para ahli menyebut, Macrotermes merupakan ahli membangun gundukan yang paling spektakuler di antara jenis-jenis rayap lainnya.

“Khusus untuk Merauke, rumah rayap ini hanya ditemukan di vegetasi Eucalyptus dan hutan dataran rendah. Dikarenakan Merauke merupakan dataran rendah yang sangat sulit untuk mendapatkan batu, oleh Suku Marind Anim, bongkahan rumah rayap sering dijadikan media dalam tradisi memasak bakar batu,” kata Hari Suroto, arkeolog Papua dari BRIN [Badan Riset dan Invoasi Nasional], akhir Maret 2022.

Rumah rayap ini lebih populer disebut musamus. Foto: Dok. Hari Suroto/BRIN
info gambar

Cara untuk membuat bakar batu, orang-orang dari Suku Marind Anim membakar bongkahan rumah rayap/bomi dengan kayu. Setelah merah membara, bongkahan bomi disusun di permukaan tanah. Semua jenis makanan, baik itu tepung sagu, daging kanguru, daging rusa yang telah dibungkus daun pisang, diletakkan di atas bakaran bomi. Kemudian, di atas makanan ditaruh lagi bomi panas, lalu ditutup rapat dengan kulit kayu bus, tidak boleh ada celah atau asap keluar.

“Setelah 30 hingga 45 menit, dibuka atau dibongkar, makanan siap dinikmati,” ungkapnya.

Hari menjelaskan, rayap rayap tanah ini juga dikenal dengan nama katedral termit, yang merupakan serangga sosial. Rayap ini saling berinteraksi antara satu dengan yang lain dalam upaya mempertahankan koloninya.

Disebut katedral termit karena merupakan serangga kecil yang buta namun memiliki keahlian luar biasa dalam membangun rumah kokoh dan spektakuler, yang sepintas mirip arsitektur bangunan katedral pada abad pertengahan di Eropa.

Rayap tersebut hidup berkelompok, dipimpin seekor ratu. Mereka adalah pemakan tumbuhan dengan kebiasaan unik. Mereka selalu memberikan makanan bercampur mikro organisme ke rayap lain. Hal ini dikenal sebagai proses proctodeal trophallaxis.

Rayap mengeluarkan kotoran bercampur mikroba lewat anusnya dan rayap di belakangnya akan memakan kotoran tersebut.

“Rayap tersebut mengandalkan bakteri simbiosis dari protozoa untuk membantu rayap mencerna selulosa tumbuhan yang menjadi makanan utamanya. Makanan utama ini berupa rumput jenis alang-alang yang melimpah di vegetasi dataran rendah Wasur,” jelas Hari.

Kasta rayap

Menurutnya lagi, selain mirip bangunan katedral, sepintas rumah rayap ini seperti Candi Prambanan. Bahan pembuat rumah rayap terdiri dari pasir kuarsa, tanah liat, dan lumpur. Sebagai perekatnya digunakan kotoran dan air liur rayap itu sendiri. Banyak sedikitnya jumlah rayap, tergantung luas rumah.

Dalam satu rumah rayap dihuni tiga kasta, yaitu: pekerja, prajurit, dan reproduksi. Kasta pekerja berukuran panjang 5 milimeter, tubuh pucat, warna cokelat, dan tidak ada sayap. Kasta prajurit, berukuran 5 milimeter, kepala bulat lonjong, rahang besar, moncong panjang, mengeluarkan ludah untuk melawan musuh. Kasta reproduksi atau ratu rayap, memiliki sayap, kepala bulat, panjangnya 5 milimeter.

Rumah rayap atau masamus di Merauke. Tingginya bisa mencapai dua kali ukuran orang dewasa. Foto: Ridzki R Sigit
info gambar

Kasta pekerja, tugasnya memotong tangkai rumput-rumputan dan menyimpannya dalam ruangan-ruangan bagian terluar dari gundukan sarang. Kemudian, kumpulan potongan rumput tersebut ditutup lagi dengan tanah. Kasta prajurit mempertahankan sarangnya dengan mengeluarkan cairan lengket sebagai perangkap predator seperti semut. Sementara kasta reproduksi menghasilkan telur untuk koloni.

“Rumah rayap ini berdiri sangat kokoh, mampu bertahan hingga puluhan tahun. Bentuknya mengerucut bagian atas dan membesar di bawah. Bangunan ini tangguh menghadapi terpaan air hujan, angin, panas mentari, dan gangguan predator,” ujar Hari.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Akhyari Hananto lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Akhyari Hananto.

Terima kasih telah membaca sampai di sini