Gotong Royong Indonesia Diteladani Negara G20

Gotong Royong Indonesia Diteladani Negara G20
info gambar utama

Ada satu hal yang dapat dipelajari dari Presidensi G20 yang selama satu tahun penuh telah dijalankan di Indonesia. Pelajaran tersebut adalah Indonesia yang semakin solid. Terlepas dari berbagai pendapat -terutama soal pesimisme untuk ajang G20 Indonesia ini, namun yang jelas terlihat adalah hampir segenap rakyat Indonesia bahu membahu menyukseskan ajang yang penuh kehormatan ini.

Tampak kolaborasi masyarakat dari semua lapisan bergotong royong demi suksesnya penyelenggaraan kegiatan G20. Solidaritas masyarakat yang dulu pernah terbelah lantaran perbedaan pendapat saat Pemilihan Umum 2019, kini saling mendukung demi kebaikan

Awalnya, solidaritas Indonesia tersebut diungkap oleh Paul Polman, yang menjadi Steering Committee untuk Tri Hita Karana Forum, pada side event B20. Polman mengungkapkan bahwa dirinya melihat tradisi gotong royong Indonesia telah menyebabkan perhelatan Presidensi G20 ini bisa berjalan dengan baik. Maka kemudian, dia semakin optimis bila gotong royong akan membawa keberhasilan di banyak hal. Tak hanya untuk aktivitas G20, namun juga untuk dunia.

"Saya, telah menyadari bahwa gotong royong adalah hal yang sangat penting dilakukan, terutama saat ini, dalam menangani perubahan iklim dunia. Maka kita akan melakukan gotong royong mulai dari sekarang," ungkap Polman dalam Tri Hita Karana Forum di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC), pada 12 November 2022 lalu.

Paul Polman saat memberi pandangan di B20 Tri Hita Karana Forum
info gambar

Sejalan dengan Paul Polman, Direktur Pelaksana Kebijakan Pembangunan dan Kemitraan untuk Bank Dunia, Mari Elka Pangestu, pun sepakat agar dunia bisa mulai bergotong royong untuk mengatasi masalah global yang sudah banyak terasa di seluruh dunia. Namun Mari Pangestu mengingatkan supaya gotong royong yang dimaksud adalah aksi nyata, bukan lagi di tatanan dukung mendukung ide.

"Mulailah untuk beraksi. Kami di Bank Dunia dengan senang hati menerima proposal-proposal untuk keperluan blended finance yang terutama akan digunakan untuk menangani perubahan iklim dan isu ketidakadilan,” tukas Mari Elka kepada wartawan Senin, 14 November 2022 menjelang puncak acara Presidensi G20 di Nusa Dua, Bali.

Usai Paul Polman dan Mari Elka Pangestu memberikan pandangan tentang keberhasilan gotong royong, giliran Presiden Indonesia, Joko Widodo, menyatakan kepada wartawan bahwa negara G20 sepakat akan mengikuti cara gotong royong Indonesia, dalam menuntaskan permasalahan global dan bangkit bersama-sama.

Joko Widodo, yang akrab disapa Jokowi, mengungkapkan hal itu di sela multilateral meeting Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 bersama 17 pemimpin negara di Apurva Kempinski, Selasa, 15 November 2022. "Kita menciptakan situasi win-win bukan zero-sum," ungkap Jokowi.

Menteri Koordinatior Maritim dan Investasi, Luhut Binsar Panjaitan, menilai hal itu patut menjadi kebanggaan seluruh rakyat Indonesia, untuk menunjukkan eksistensi Indonesia di mata dunia. "Kita belajar dari sini, bahwa Indonesia negara yang besar, negara yang hebat, hebat karena kita semua satu. Kita telah menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia mampu untuk mengatur dan menyelenggarakan KTT G20 dengan baik, melalui kolaborasi erat pihak-pihak terkait, serta tentunya penyertaan dari Tuhan Yang Maha Esa," ujar Luhut.

Adapun mengenai pesimisme yang sempat menghantui perjalanan aktivitas G20 Indonesia tersebut adalah kekuatiran tentang tidak lahirnya kesepakatan apapun, mengingat salah satu negara G20 yaitu Rusia sedang dalam situasi perang. Bahkan para pemimpin negara G20 kuatir jika peperangan terus berlanjut akan berimplikasi cukup berat kepada ketahanan pangan dunia.

Jika KTT G20 tidak menghasilkan apa-apa, maka kerugian terbesar ada pada Indonesia, selaku penyelenggara ajang G20. Dari sisi reputasi, dunia akan menilai bahwa Indonesia kurang memberikan kontribusi solutif sehingga tidak ada hasil dari KTT G20 tersebut. Belum lagi kerugian dari sisi anggaran yang telah keluar untuk perhelatan G20. Namun rupanya, dari penutupan KTT G20 lahir Deklarasi Pemimpin G20 yang berjumlah 52 paragraf.

Salah satunya menyepakati agar perang di Ukraina dihentikan, karena telah melanggar batas wilayah dan memperberat ekonomi global yang masih rapuh akibat masa pandemi. Di deklarasi itu juga terbentuk operasionalisasi pemulihan ekonomi di bawah Dana Moneter Internasional (IMF) sebesar US$ 81,7 miliar. Juga kesepakatan pinjaman lunak bagi Indonesia dari JETP sebesar US$ 20 miliar untuk urusan mekanisasi transisi energi.

"Deklarasi juga menyatakan bahwa 20 persen daratan dan 30 persen lautan akan sama-sama kita lindungi. Degradasi tanah juga akan dibatasi hingga 40 persen," ungkap Jokowi. Namun terlepas dari kesuksesan itu semua, Indonesia masih memiliki 'PR' besar. Yaitu merealisasikan tindaklanjut dari hasil KTT G20, baik yang dihasilkan dari kesepakatan high-level, Nota Kesepahaman (MoU) dan komitmen bersama KTT G20.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AH
KO
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini