Pemerintah Gencarkan Imunisasi untuk Lawan Polio Merebak

Pemerintah Gencarkan Imunisasi untuk Lawan Polio Merebak
info gambar utama

Kawan, kabar buruk hadir dari anak-anak Indonesia yang terdeteksi penyakit polio. Padahal sudah delapan tahun lamanya Indonesia memiliki sertifikat bebas polio. Namun, kali ini sepertinya dicabut karena ditemukan kembali penderita polio.

Hal ini bermula dari seorang anak yang dibawa orangtuanya ke rumah sakit karena mengeluhkan pada lemahnya gerak tubuh si anak. Setelah diperiksa, dokter menyatakannya terkena polio kemudian ketika ditelusuri penderita belum pernah melakukan vaksinasi.

Kejadian ini terjadi di Provinsi Aceh, pihak Kementerian Kesehatan Indonesia dengan sigap langsung menggelar imunisasi polio pada 30 provinsi dengan target prioritas kalangan anak-anak. Kesigapan ini tentunya berdampak baik guna kembali menekan penyebaran polio.

Tahukah, Kawan, polio disebabkan oleh virus enterovirus yang bereplikasi dalam usus dan dikeluarkan melalui tinja. Polio sangat berbahaya karena menyebabkan kesulitan bernapas, kelumpuhan total pada tubuh hingga kematian.

Tak hanya menyerang anak-anak, orang dewasa hingga lansia pun juga bisa. Faktanya, polio jadi penyakit yang tak bisa disembuhkan atau dengan kata lain sekali terkena polio maka akan Kawan derita seumur hidup.

Mengerikan sekali, bukan? Oleh karena itu yang bisa dilakukan ialah melakukan pencegahan dengan cara imunisasi polio sejak dini. Jenis imunisasi polio terbagi menjadi dua, yaitu imunisasi tetes dan imunisasi suntik.

Imunisasi polio tetes atau oral polio vaccine dilakukan dengan cara menggunakan virus polio yang sudah dilemahkan kemudian diberikan pada Kawan dengan diteteskan pada area mulut. Imunisasi tetes umumnya diberikan untuk bayi.

Sedangkan imunisasi polio suntik atau inactived polio vaccine menggunakan virus polio yang dimatikan atau sudah mati lalu disuntikan pada lengan atas atau paha. Imunisasi suntik dapat diberikan untuk anak-anak hingga dewasa.

Menilik pada harganya, imunisasi tetes lebih terjangkau dibandingkan imunisasi suntik yang perlu diimpor dari negara tetangga. Jika berbicara tentang rasa, imunisasi tetes memiliki rasa manis karena lebih ditujukan untuk anak-anak.

Dalam kinerjanya, imunisasi tetes yang dimasukkan pada mulut akan langsung tercerna ke saluran cerna dan merangsang sistem kekebalan tubuh hingga membentuk perlindungan atau antibodi. Dilemahkannya virus polio ini langsung bisa mati oleh sistem imun yang sudah terbentuk.

Sebaliknya, jika melalui suntikan maka antibodi tubuh terbentuk dalam darah. Virus yang sudah mati ini masih dapat berkembang biak di dalam usus. Namun, tak perlu risau karena ini tak akan jadi virus maupun timbul gejala karena imun polio sudah terbentuk di dalam tubuh.

Efek samping setelah dilakukan imunisasi tentu ada. Apakah terjadi atau tidaknya tergantung pada sistem kekebalan tubuh masing-masing. Efek yang paling umum terjadi, meliputi bintik kemerahan pada area suntikan (jika menggunakan imunisasi polio suntik), diare (umum untuk Kawan yang menggunakan imunisasi polio tetes), dan demam.

Sebelum melakukan imunisasi juga sebaiknya jika anak-anak maka orangtua harus tahu apa saja reaksi yang mungkin ditimbulkan dari setelah anak di imunisasi. Jika anak maupun orang dewasa sedang dalam keadaan tak sehat maka tak perlu untuk memaksakan imunisasi dahulu.

Namun, kalau gejalanya ringan Kawan masih bisa melakukan imunisasi polio. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan saat ini di Indonesia memiliki empat provinsi yang masuk pada kriteria aman tidak risiko tinggi polio, yaitu Yogyakarta, sedangkan tiga lainnya Jambi, Banten, dan Bali masuk zona sedang. Harapannya provinsi lain segera menyusul menjadi zona aman bebas dari polio.

Referensi: Catch me up | Alo dokter | Halodoc

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AD
KO
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini