Magisnya Titian Aka, Jembatan Kuno Rajutan Alam di Sumatera Barat

Magisnya Titian Aka, Jembatan Kuno Rajutan Alam di Sumatera Barat
info gambar utama

#WritingChallengeKawanGNFI #CeritadariKawan #NegeriKolaborasi #MakinTahuIndonesia

Sebuah gerbang fenomenal menyambut saya sore itu. Batang beringin besar melengkung serupa kaki yang terbuka lebar, membentuk semacam portal. Sulur-sulur menjalar liar, mengantarkan pandangan saya jauh ke seberang. Sebuah pohon lain menancap dengan keajaiban yang sama. Mereka menyatu bagaikan satu tubuh yang terhubung di tengah. Tak lagi terlihat seperti dua pohon yang terpisah.

Jembatan Akar
info gambar
Portal alam
info gambar

Suasana syahdu langsung terasa. Barangkali karena awan mendung yang menggelayut, atau pengaruh dedaunan rimbun di barisan pepohonan sekitar sungai. Suasananya magis bagai di dalam film saat para tokoh memasuki portal ajaib menuju negeri dongeng nan eksotis.

Menuju negeri dongeng
info gambar

Asal muasal tempat itu bermula dari dua abad yang lalu. Alkisah, ada kampung Puluik-Puluik yang berdampingan dengan kampung Lubuk Silau di Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Penduduk kedua kampung ingin berinteraksi, tapi dipisahkan oleh Batang Bayang, sungai panjang yang alirannya sangat deras. Tak seorang pun berani melintasinya. Bahkan, jembatan bambu yang pernah ada, selalu hancur diterjang air.

Tokoh masyarakat Lubuk Silau bernama Pakiah Sokan berinisiatif membangun jembatan yang lebih kokoh agar murid mengajinya dari kampung sebelah bisa ikut menuntut ilmu. Masyarakat Minangkabau sangat tergantung pada alam, seperti digambarkan pepatah Minang, “Alam takambang jadi guru.” Melihat pohon beringin yang kokoh di pinggir sungai, Pakiah Sokan dan beberapa penduduk terinspirasi untuk memanfaatkannya. Dimulailah kegiatan merajut akar menjadi jembatan pada 1890. Penduduk kedua kampung bergotong royong mengerjakannya.

Perlu waktu 26 tahun untuk menyelesaikan jembatan sepanjang 25 meter dan lebar 1,5 meter. Selain dengan ketekunan, mereka juga harus bersabar karena tak hanya menganyam akar yang ada, juga sambil menunggu tumbuhnya akar baru. Lama-kelamaan, pohon beringin membesar, akarnya semakin kokoh, dan jembatan dapat digunakan penuh pada 1916.

Jembatan akar, atau Titian Aka dalam bahasa lokal, terbentang sepuluh meter di atas permukaan sungai. Papan sederhana direkatkan di antara jalinan untuk pijakan. Berjalan di atasnya dihiasi sensasi goyang-goyang bila angin bertiup kencang. Terkadang, suara menggelegar Batang Bayang turut menghiasi, dan butiran airnya menyiprat sampai ke atas.

Jembatan bergoyang-goyang bila dihembus angin
info gambar

Saya mengikuti aba-aba penduduk untuk menunggu orang yang sedang menyeberang sampai dulu sebelum saya ikut naik. Demi keamanan, hanya dua sampai tiga orang yang diperbolehkan melintasi jembatan secara bersamaan. Itu pun dengan anjuran berjalan pelan dan hati-hati. Membuka alas kaki lebih disarankan untuk mengurangi risiko tergelincir.

Saya menaiki jembatan setelah seorang penduduk lokal mendahului. Saya pegang tali pengaman di kanan kiri, tapi tak lama karena adanya di bagian ujung saja. Saya semakin hati-hati melangkah setelahnya. Terbersit rasa sesal karena memakai celana legging serupa stoking yang membalut hingga telapak kaki. Akibatnya, pijakan saya menjadi licin.

Jembatan tiba-tiba bergoyang hebat saat saya sampai di tengah. Angin pembawa hujan bertiup kencang. Astaga! Jembatan terombang-ambing seperti akan terbalik. Saya gelagapan mencari pegangan. Tapi, tak ada apa-apa selain jalinan akar yang tingginya hanya sebetis. Ya Tuhan!

Saya yang panik hanya bisa termangu. Bukannya meneruskan perjalanan, malah mengulang-ulang, "Baa ko?!" (Bagaimana ini?!)

Orang di depan saya mencoba menenangkan dengan berteriak, "Cari akar yang besar, pegang kuat-kuat."

Saya kebingungan. Apa dia ingin saya merangkak?! Karena semakin ke tengah, jalinan akar semakin pendek saja posisinya.

"Pegang sambil merunduk. Jangan lihat ke bawah," teriaknya lagi.

Tak bisa memikirkan opsi lain, saya ikuti saja sarannya meskipun jantung rasanya seperti mau copot. Berbalik arah sudah tidak mungkin. Jarak ke depan jauh lebih dekat daripada ke belakang.

Saya mantapkan hati untuk menyelesaikan titian. Saya merunduk, tangan bergetar mencari akar yang kokoh untuk bertumpu. Mata saya condongkan ke atas agar derasnya sungai tak terlihat dari bawah mata. Untungnya, semua aksesoris sudah saya amankan di dalam tas saat akan menyeberang tadi. Tak usahlah memikirkan foto-foto aesthetic di tengah jembatan, ini perkara hidup dan mati!

Meskipun rasanya sudah bergerak cepat, ternyata gerakan saya hanya beringsut seperti siput. Inci demi inci saya lewati sambil berdoa agar cepat sampai.

Akhirnya saya bisa bernapas lega setelah kaki menginjak tanah lagi. Kita ini manusia, bukankah kodratnya memang menginjak tanah, bukan akar?!

Bila bisa bicara, barangkali jalinan-jalinan akar akan menertawai saya.

"Tak usah banyak alasan kau. Bapak dari kampung depan lewat sambil bawa dua karung goni besar, santai-santai saja tuh!"

Barangkali akan seperti itu kalimat ejekannya.

Mungkin akan ditambahkannya pula dengan,"Ibu kampung sebelah tenang-tenang saja menitiku. Sambil naik sepeda motor, lho!"

Ah, sudahlah, jembatan. Harusnya kau tahu pepatah Minang, "Alah bisa karena biasa."

Mereka yang terpaksa harus melewati jembatan akar pastilah lama-lama putus urat rasa takutnya. Ketika aneka kewajiban menanti dan tak ada pilihan lain, otomatis manusia pun akan jadi berani.

Saya sudah di kampung seberang saat menyaksikan bapak berkarung goni dan ibu bersepeda motor itu lewat. Tak berapa lama, saya mengajak keluarga turun melalui anak tangga yang disemen. Kami menikmati quality time di alam terbuka yang asri. Anak metropolitan akan menyebutnya sebagai momen healing supaya tidak burnout. Bagi kami, perjalanan itu bagai napak tilas. Meskipun tinggal di Kota Padang, papa saya sebetulnya orang asli Pesisir Selatan. Kampungnya di Tarusan, tak jauh dari Bayang. Sudah lama ia tak pulang kampung.

Saya duduk di samping pohon beringin tua yang menjulang. Akarnya yang menancap ke tanah jauh lebih banyak daripada yang terjalin di jembatan. Ada pula akar angin yang menjuntai seperti tirai di udara. Saya membayangkannya seperti bulu hidung panjang yang membantu raksasa beringin menyerap udara dan air saat bernapas.

Akar angin atau akar gantung
info gambar

Sembulan batu besar dan derasnya air di waktu tertentu membuat Batang Bayang cocok untuk berarum jeram. Bila debit air sedang rendah, penduduk juga mandi-mandi di sungai berair jernih itu.

Bila ingin mengunjunginya, harus dengan kendaraan pribadi karena tak dilalui transportasi umum. Berjarak dua jam perjalanan dari Kota Padang, tempat ini bisa ditempuh dengan kendaraan roda dua maupun empat. Dari tempat parkir, harus berjalan sekitar 50 meter menaiki tangga dan jalan setapak.

Wisata jembatan akar
info gambar
Jalan menuju jembatan
info gambar

Bunyi gelegak air sudah berkurang sekarang. Kicauan burung mengalun merdu dari pepohonan sekitar, bercampur dengan kecipak air berhias kelabatan ikan-ikan larangan. Siapa yang berani menangkap mereka?

Pohon beringin tua masih kokoh berdiri di pinggir. Menjadi saksi aneka sejarah yang meliputi negeri di sekitar Batang Bayang. Mungkin akan terus begitu hingga beberapa ratus tahun yang akan datang.

Tempat healing ala anak milenial
info gambar

Referensi:

Situs resmi Pemerintah Kab. Pesisir Selatan | OkeZone

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

ME
KO
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini