Pesona Bendhung Lepen, Wisata Anyar di Tengah Kota Yogyakarta

Pesona Bendhung Lepen, Wisata Anyar di Tengah Kota Yogyakarta
info gambar utama

#WritingChallengeKawanGNFI #CeritadariKawan #NegeriKolaborasi #MakinTahuIndonesia

Pagi yang cerah kala itu, hangatnya sinar mentari begitu terasa. Masyarakat Yogyakarta mulai sibuk dengan berbagai aktivitasnya. Jalan raya menjadi begitu ramai dan padat dengan kendaraan. Deru mesin kendaraan pun menjadi teman perjalanan saya, suami, serta anak, menuju suatu tempat rekreasi yang terbilang anyar di tengah Kota Yogyakarta. Bendhung Lepen, namanya. Lokasinya berada di Kampung Mrican, Giwangan, Kapanewon Umbulharjo, Kota Yogyakarta. Mudahnya, Bendhung Lepen ini berada di sebelah utara Terminal Giwangan. Butuh waktu sekitar 30 menit bagi kami untuk sampai ke sana dengan mengendarai kendaraan roda dua.

Lokasinya mudah ditemukan karena di depan gang masuk terpasang spanduk bertuliskan "Bendhung Lepen". Kami hanya perlu mengikuti jalan masuk yang agak menurun, kemudian belok kanan sesuai penanda arah ke Bendhung Lepen, dan memarkirkan sepeda motor di sana. Lahan parkirnya cukup luas dan teduh. Bendhung Lepen tidak jauh dari lokasi parkir, hanya perlu berjalan sebentar untuk menuju ke sana.

Sekilas tentang Bendhung Lepen

Bendhung Lepen Kini | Foto : Dokumentasi Pribadi
Bendhung Lepen Kini | Foto : Dokumentasi Pribadi

Dahulu, Bendhung Lepen adalah saluran irigasi yang kotor dan tidak terurus, serta banyak sampah berserakan di sekitar saluran air. Pada tahun 2019, warga setempat dan pemuda karang taruna akhirnya berinisiatif untuk membersihkan saluran irigasi secara bertahap hingga bersih dan mengisinya dengan bibit ikan air tawar. Kini saluran irigasi tersebut telah berubah menjadi lebih bersih dan cantik, bahkan menjadi tempat rekreasi baru favorit warga Yogyakarta. Dinamakan Bendhung Lepen karena sesuai dengan nama karang taruna Kampung Mrican, yaitu Mrican Youth atau Komunitas Bendhung Lepen.

Mengelilingi Bendhung Lepen

Ribuan Ikan Nila Bendhung Lepen | Foto : Dokumentasi Pribadi
Ribuan Ikan Nila Bendhung Lepen | Foto : Dokumentasi Pribadi

Pintu masuk berupa gapura bertuliskan "Bendhung Lepen" berdiri gagah. Tidak terlihat loket tiket masuk atau petugas yang menarik biaya masuk, karena memang tidak ada retribusi alias gratis. Namun, di lokasi parkir disediakan kotak untuk diisi, setidaknya Rp 2.000 untuk bayar parkir roda dua.

Waktu menunjukkan pukul 08.30 WIB. Bendhung Lepen terlihat masih sepi pengunjung. Suara gemericik air terdengar menyejukkan hati. Warna oranye terlihat mendominasi saluran air dengan panjang sekitar 50 meter itu, ada ribuan ikan nila yang hidup dan berenang bebas di sana. Beberapa warga setempat terlihat sedang memberi makan ikan-ikan, menimbulkan suara riuh air karena ikan yang saling berlomba mendapatkan makanan. Tidak perlu khawatir kepanasan karena di sekitar saluran air sudah terpasang beberapa kanopi. Warna-warni dan hiasan berupa mural pada dinding bangunan sekitar menambah pesona Bendhung Lepen.

Tidak hanya ada ikan nila, tetapi ada juga ikan koi, gurame, dan patin yang ukurannya cukup besar. Memberi makan ikan-ikan menjadi hal yang menyenangkan. Cukup dengan uang Rp 2.000, kami bisa membeli satu gelas plastik pelet ikan yang dijajakan di beberapa lapak sekitar. Tidak ada yang menjaga lapak, sehingga harus mengambil sendiri pelet ikannya, sedangkan uang ditaruh dalam wadah yang sudah disediakan.

Wisata yang berada di tepi Sungai Gajahwong ini juga menyediakan area pemancingan dengan harga sewa pancingan dan umpan sebesar Rp 5.000. Ikan-ikan yang ada di sana juga untuk konsumsi warga setempat, biasanya akan ada panen ikan pada waktu tertentu. Warga luar Kampung Mrican boleh untuk membeli ikan pada saat panen, tetapi memang diprioritaskan dahulu untuk warga setempat. Setelah panen selesai, bibit ikan akan ditebar kembali.

Fasilitas yang ditawarkan oleh wisata anyar ini cukup lengkap seperti mushola, taman bermain, pendopo, toilet, tempat cuci tangan, serta kios-kios makanan dan minuman. Ada berbagai macam makanan dan minuman yang dijual, seperti bakso, soto, gorengan, milur gulung, minuman saset, teh, dan lain-lain. Harga makanan dan minuman yang dijual pun termasuk murah dan wajar. Menariknya, para pedagang makanan dan minuman di Bendhung Lepen ini berasal dari warga setempat.

Walaupun ada cukup banyak kios makanan dan minuman, tetapi ketika kami ke sana baru ada satu kios yang buka. Waktu operasional wisata Bendhung Lepen yaitu setiap hari pukul 07.00 hingga 19.00 WIB. Puas mengelilingi Bendhung Lepen, akhirnya kami berhenti di dekat taman bermain, di mana bisa melihat bendungan Sungai Gajahwong yang alirannya begitu deras.

Bendungan Gajahwong | Foto : Dokumentasi Pribadi
Bendungan Gajahwong | Foto : Dokumentasi Pribadi

Bendhung Lepen bisa menjadi tempat yang cocok untuk sejenak melepas kepenatan karena rutinitas sehari-hari. Mengajak si Kecil melihat ribuan ikan yang berenang bebas, tentu menjadi hal yang menyenangkan. Terlebih lagi, si Kecil juga bisa memberi makan ikan-ikan di sana, sekaligus mengenalkan beberapa jenis ikan air tawar. Jangan lupa untuk selalu mengawasi si Kecil, karena tidak ada pagar pembatas di tepi saluran air. Jangan lupa juga untuk tetap selalu menjaga kebersihan lingkungan tempat wisata, ya!

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AD
KO
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini