Dari Kampung Kumuh Menuju Pusat Kuliner Kabupaten Banyuwangi

Dari Kampung Kumuh Menuju Pusat Kuliner Kabupaten Banyuwangi
info gambar utama

#WritingChallengeKawanGNFI #CeritadariKawan #NegeriKolaborasi #MakinTahuIndonesia

Berbangga dengan Indonesia yang kini semakin menunjukkan taringnya kepada dunia. Membawa perubahan secara nyata dari rupa setiap daerahnya hingga kesadaran masyarakat akan pentingnya memelihara lingkungan.

Jauh sebelum itu, tepatnya 15 tahun yang lalu, sebuah daerah di Banyuwangi terkenal dengan lingkungan kotor, bau amis dan sarang jagoan berani mati. Tepat seperti jargon utamanya, “Satu disakiti maka semua ikut andil”.

Namanya Kampung Mandar, secara geografis terletak dibibir Pantai Boom. Berbatasan langsung dengan Selat Bali di sisi timur, sehingga matahari terbit untuk pertama kalinya di kampung ini. Barangkali itulah sebabnya Banyuwangi lantas membuat tagline pariwisata Sunrise of Java.

Sebagian besar penduduk laki-lakinya adalah nelayan. Sementara kaum hawa menjual hasil tangkapan ikan di pasar-pasar yang ada di Kecamatan Banyuwangi Kota.

Secara lokasi memang terletak di tengah, bahkan untuk sampai ke alun-alun bisa ditempuh dengan jalan kaki. Hanya saja, wilayah ini sempat berpredikat sebagai terkotor dan bau untuk ukuran Kampung yang dekat pusat kota. Alhasil, apa yang mereka santer katakan di luar sana?

“Kampung Mandar jorok! Bau!”

“Karnaval Kabupaten Banyuwangi tidak akan melewati Kampung Mandar karena kotor dan bau!”

“Kampung Mandar sarang pendekar lokal!

Bagaimana tidak, sebelumnya masyarakat minim kesadaran akan pentingnya membuang sampah di tempat semestinya. Hasil melaut dibongkar di pinggir jalan utama, sehingga menghasilkan bau tidak sedap masuk ke rumah-rumah, mengganggu indera penciuman. Tatanan kampung yang tidak teratur, terkesan awur-awuran hingga tidak adanya petugas kebersihan.

Miris saat itu.

Lantas apa yang kemudian terjadi setelah 15 tahun berlalu?

Merintis dan mulai berbenah

Ketika terjadi pergantian pemimpin baru sekitar 12 tahun yang lalu, mengharuskan setiap daerah di Banyuwangi bebas sampah, indah dan santun. Pun termasuk Kampung Mandar yang pada akhirnya harus mengakhiri masa terburuknya.

Sedikit demi sedikit mulai berbenah, dimulai dari mengutus petugas sampah yang dibayar dari iuran warga sebesar 10 ribu rupiah per bulannya. Mereka yang kemudian menjadi Pahlawan Kebersihan dengan memungut keranjang demi keranjang berbau menyengat, berkeliling kampung setiap sore hari. Lantas mengumpulkan hasil keringatnya di area TPA khusus.

Gerakan kebersihan ini juga bertujuan agar masyarakat tidak membuang sampah di sepanjang pantai karena akan merusak ekosistem dan habitat hewan-hewan laut. Sementara di sepanjang garis jalan Pelengsengan ditumbuhi bakau sebagai penahan abrasi.

Mengeluarkan larangan membongkar ikan di jalan utama

Kampung Mandar memiliki dua ruas jalan, yakni D.I Panjaitan dan Pelengsengan yang baru dibangun sekitar tahun 2000an awal dan selesai pada 2018. Keduanya adalah jalur yang kerap digunakan oleh wirausahawan dan nelayan ikan untuk membongkar hasil tangkapan.

Akan tetapi, kini sudah tidak lagi. Pembongkaran ikan dilakukan di rumah masing-masing, sehingga mencegah adanya aktivitas tersebut secara masal di ruas-ruas jalan. Sosialisasi mengenai pentingnya menjaga kebersihan juga digalakkan dengan menghadirkan perangkat desa yang lantas disebarkan ke warga-warga.

Lihat apa yang terjadi sekarang? Tentu tidak ada lagi air-air bekas ikan berceceran di jalan, tidak ada lagi pejalan kaki yang menutup hidung dan tatanan kampung yang tampak lebih teratur serta bersih.

Geliat usaha dan UMKM

Pondok Ikan Bakar/Indah Hikmayanti
info gambar

Sadar akan pentingnya kebersihan, masyarakat Kampung Mandar kemudian mulai tergugah membuka usaha rumahan. Mengingat mayoritas warga berada di kelas menengah bawah, sehingga memperbaiki roda perekonomian adalah tindak lanjut dari keberlangsungan hidup.

Warga yang tinggal di sisi pantai atau ruas Pelengsengan mulai membuka warung kopi dan jajanan ringan. Lambat laun, puncaknya dimasa pandemi, pondok-pondok ikan bakar berjajar di sepanjang jalan tersebut. Satu, dua, tiga hingga mencapai lebih dari 5.

Masing – masing pondok dihias sedemikian rupa dengan lampu-lampu gemerlap saat malam, penyekat tiap bilik, tempat kekinian hingga beragam menu olahan laut. Pemandangan kian menarik dengan adanya jembatan bambu Pantai Boom di sebelah timur, perahu-perahu nelayan yang berjajar serta pemandangan Pulau Tikus di seberang.

Kuliner laut ini lantas mendapatkan perhatian dari pemerintah setempat dan mendapatkan dukungan penuh, sehingga promosi kian digencarkan melalui media cetak, online maupun mulut ke mulut. Dari hanya beberapa, kemudian berkembang menjadi lebih dari 10 pondok.

Awalnya hanya menargetkan keluarga yang hendak menikmati ragam olahan seafood saat musim libur, akan tetapi mulai berkembang ke berbagai kalangan, dari muda hingga tua, baik keluarga maupun tidak.

Mendorong POKDARWIS

Fish Market Mandar/Indah Hikmayanti
info gambar

Keberhasilan bisnis kuliner ikan bakar perorangan ini selanjutnya menginspirasi para anak muda yang peduli akan lingkungan, budaya dan wisata setempat atau tergabung dalam POKDARWIS. Dengan dukungan dari Kelurahan, akhirnya Kampung Mandar memiliki sentra kulinernya sendiri yang dinamai Fish Market.

Lokasi tepat berada di tengah area Kampung Mandar sisi ruas Pelengsengan, sehingga bisa ditempuh dari arah selatan maupun utara. Pusat kuliner ini bahkan mendapatkan perhatian lebih dari Dinas Pariwisata hingga PLN, sehingga tercipta sebuah tempat yang layak, bersih, indah juga kekinian.

Tujuannya sebenarnya ingin memberikan kesejahteraan ekonomi kepada masyarakat sekitar. Ikan segar dapat dipilih secara langsung di lokasi, kemudian dibakar di pondok-pondok milik warga yang turut tergabung dalam bisnis Fish Market.

Menariknya, bahkan pembeli bisa memilih ikan untuk dibakar di pondok mana. Masing-masing menyediakan menu ciri khas berbeda, contohnya seperti Ikan Bakar Dabu-dabu spesial Pondok Bang Gali, Ikan Bakar Pedas Manis spesial Pondok Bang Jo, dan lain sebagainya. Sesuai kehendak dan selera.

Itu baru bisnis ikan bakar, belum bisnis UMKM seperti oleh-oleh khas Banyuwangi, kerupuk cumi atau kerang, olahan sambal serta masih banyak lagi lainnya yang bisa didapatkan di gang-gang sempit yang kini disulap menjadi sentra oleh-oleh.

Setidaknya kini baik anak muda, dewasa dan keluarga memilih untuk berkunjung ke Kampung Mandar sebagai tempat melepas penat. Hari-hari di sini tidak pernah sepi, apalagi saat memasuki malam Minggu atau musim liburan, ribuan wisatawan domestik maupun asing datang kesini untuk menikmati pemandangan pantai, berkunjung ke sentra kuliner hingga sekadar meliput keramaian.

Kini apa yang mereka katakan tentang Kampung Mandar?

Nongkrong di Kampung Mandar saja

Kuliner seafood terbaik dan termurah hanya ada di Kampung Mandar

Referensi:Kemenparekraf | Jawa Pos

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

IH
KO
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini