Tak Melulu Lumpia, Hidangan Ini Jadi Incaran Saat Mampir ke Kota Semarang

Tak Melulu Lumpia, Hidangan Ini Jadi Incaran Saat Mampir ke Kota Semarang
info gambar utama

Kuliner merupakan elemen budaya suatu bangsa (Utami, 2018). Keberagaman kuliner menggambarkan suatu identitas dari bangsa. Indonesia terkenal dengan kulinernya yang kaya akan rempah. Wangi bumbu dapur khas Nusantara merasuk lezat di berbagai olahan makanan Indonesia, baik olahan nabati maupun hewani selalu memanjakan lidah para penikmatnya. Tak hanya rasa yang lezat, tetapi juga warna yang beragam menambah keberagaman dunia kuliner bumi pertiwi.

Menurut dataindonesia.id tercatat ada 514 kabupaten dan kota di Indonesia, hal inilah yang mendorong ramainya kuliner di Nusantara. Perbedaan geografi tiap daerah mendorong munculnya berbagai olahan makanan, contohnya saja Bali yang terkenal akan pesisirnya, salah satu olahan asal daerah tersebut adalah ikan bumbu bali dan tentu saja bahan utamanya adalah ikan, sedangkan Dieng yang merupakan dataran tinggi, salah satu olahan khas Dieng adalah manisan carica, tanaman ini hanya bisa tumbuh di atas 1400-2400 meter diatas permukaan laut (Maghfiroh, 2017).

Nasi Ayam Semarang | Foto: Traveling Yuk
info gambar

Semarang, tidak hanya terkenal karena merupakan ibukota dari Jawa Tengah, tetapi juga karena kulinernya yang beragam. Jika mendengar nama Semarang kebanyakan orang akan menyebutkan makanan khasnya seperti lumpia, bandeng presto, wingko babat, lapis legit, tahu petis, dan lain sebagainya tapi tidak banyak orang yang tahu jika nasi ayam juga berasal dari Semarang, bahkan 3 dari 10 orang Semarang yang telah diwawancarai pun mengira jika nasi ayam berasal dari daerah lain.

Mungkin dari namanya olahan ini terdengar sederhana tetapi sebenarnya hidangan ini istimewa. Kuah kuning bersantan yang gurih didampingi sayur labu siam merah yang pedas juga semur telur cokelat yang manis berpadu sempurna bersama nasi hangat diatas piring berlapis daun pisang. Jangan lupa sajian ayam dan kulit sapi (krecek) sebagai lauk pelengkap menambah sempurna hidangan ini.

Aneka gorengan juga melengkapi hidangan ini. Usus goreng yang ditusuk menjadi lilitan sate, sate telur puyuh yang sudah direndam dengan bumbu gula merah dan aneka rempah, juga tahu bacem manis biasanya tersaji rapi diatas meja. Konsumen dipersilakan mengambil sendiri berbagai lauk tersebut.

Kuliner ini sudah ada sejak tahun 1960. Dulu para pedagang nasi ayam menjajakan dagangannya dengan cara berkeliling memanggul bakul berisi sayur dan lauk, seiring perkembangan zaman para pedagang lebih memilih mendirikan warung dan tenda di daerah perkotaan agar pelanggan juga bisa menikmati hidangan dengan nyaman dan tidak kesulitan untuk mencari nasi ayam langganannya.

Biasanya para pedagang menjajakan dagangannya di pinggir jalan raya atau di pusat kuliner kota Semarang seperti di salah satu ikon kota Semarang, yaitu Simpang Lima. Tampak warung nasi ayam biasanya dilengkapi dengan bangku kayu panjang dan meja kayu khas warung sederhana, ada juga pedagang yang menyediakan gelaran tikar untuk pelanggan yang lebih menyukai makan lesehan ketimbang duduk di kursi, beberapa pelanggan beranggapan jika menikmati hidangan tempo dulu dengan bersila terasa lebih nikmat dan nyaman.

Walaupun hidangan ini sudah lama ada bukan berarti sudah kuno atau tidak zaman, nyatanya banyak pelancong bahkan anak muda yang mencari nasi ayam ketika berkunjung ke Semarang, harganya yang ramah dikantong dengan rasa otentik membuat nasi ayam ini sangat digemari. Bahkan kebanyakan pelanggan nasi ayam memesan piring kedua saking lezatnya hidangan ini. Jika berkunjung ke Semarang silakan mampir untuk menicicipi hidangan nasi ayam khas kota atlas ini, jangan lupa nikmati dengan segelas jahe hangat jika kawan berkunjung di malam hari.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

DP
KO
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini