Suling Tambur dan Sirih Pinang , Tradisi Masyarakat Papua yang Tak Lekang Waktu

Suling Tambur dan Sirih Pinang , Tradisi Masyarakat Papua yang Tak Lekang Waktu
info gambar utama

#WritingChallengeKawanGNFI #CeritadariKawan #NegeriKolaborasi #MakinTahuIndonesia

Papua menjadi tempat yang tiada habisnya akan keberagaman, keunikan, dan ciri khas tersendiri. Mulai dari makanan hingga adat dan kebiasaan di sana. Nah, berbicara tentang Papua, pernahkah kawan GNFI mendengar tentang suling tambur?

Sekilas membayangkan pasti yang muncul di benak orang yang mendengarnya adalah alat musik. Akan tetapi, suling tambu lebih daripada sekadar alat musik atau seni musik.

Suling tambur merupakan salah satu adat atau tradisi masyarakat Papua dari Raja Ampat yang sudah turun-temurun dari sebagai warisan budaya dari nenek moyang Raja Ampat.

Apabila biasanya kawan GNFI sering melihat festival atau acara penyambutan dengan alat musik modern di Papua, suling dan tambur menjadi alat musik untuk mengiringi perarakan atau perayaan penyambutan. Lalu, akan diikuti dengan tari-tarian.

Perayaan dengan menggunakan Suling Tambur melibatkan suatu kelompok besar yang terdiri dari banyak orang, ada yang memainkan suling, tambur, ada pula tari-tarian. Di belakang rombongan barisan akan diikuti oleh orang penting yang sedang disambut, hingga keluarga yang ingin melakukan antar harta.

Perlu diketahui buat kawan GNFI, suling tambur menjadi budaya yang sangat menarik di daerah Papua. Saat ada keluarga atau pihak yang melaksanakan suling tambu, biasanya warga sekitar di tempat tersebut akan berbondong-bondong berkumpul untuk menonton dan menikmati adat tersebut, mulai dari anak kecil hingga orang tua.

Tidak jarang anak kecil bahkan ikut larut dalam kemeriahan suling tambu sehingga ikut bergoyang mengikuti alunan musik suling dan tambur. Di Raja Ampat, suling tambu sudah sering dijadikan sebagai festival. Tentu saja hal ini merupakan langkah positif untuk terus mempertahankan eksistensi adat dan budaya dari leluhur.

Selain itu, di tengah arus globalisasi ini remaja, khususnya para generasi muda dari Raja Ampat dapat tetap mengenal dan menjaga adat dan budaya daerah sendiri. Untuk alat musik tambur sendiri, masyarakat Raja Ampat biasanya memakai kulit hewan seperti kambing ataupun rusa sebagai pengganti apabila tidak ada bahan dari pohon tikar atau kulit ikan pari.

Adat atau tradisi lainnya yang sampai sekarang sudah menjadi kebiasaan masyarakat Papua sehari-hari juga adalah makan sirih dan pinang. Lalu adakah hubungannya dengan suling tambu? Tentu saja.

Misalnya, ketika ada antar harta kepada mempelai perempuan, selain ada suling tambu untuk memeriahkan perayaan, akan disajikan pula sirih pinang untuk dimakan.

Di Papua, makan sirih dan pinang sudah menjadi kebiasaan masyarakat yang tidak dapat dipisahkan. Sirih dan pinang seakan sudah menjadi camilan yang sering dimakan. Komponen lengkap nya terdiri dari sirih, pinang, dan kapur, yang biasanya disebut pinang ojek.

Biasanya di daerah sana, akan mudah untuk menemukan pinang ojek karena sering dijual di pasar maupun di beberapa tempat atau lokasi tertentu. Pada umumnya harga yang dijual sekitar Rp2000 rupiah tergantung ukuran pinang dan sirih nya.

Ketika kawan GNFI mencoba untuk makan sirih pinang pertama kali tentu akan sedikit tidak terbiasa dengan rasa khas yang muncul dari campuran pinang, sirih, dan kapur.

Sirih, Pinang dan Kapur yang Biasa Dimakan Masyarakat Papua
info gambar

Selain itu, saat dikunyah, campuran ketiga bahan tersebut akan menghasilkan cairan berwarna merah dan dapat meninggalkan bekas warna merah di mulut. Hal tersebut tidak berbahaya tentunya, malah dapat menguatkan gigi. Banyak masyarakat Papua yang walau sudah lanjut usia, masih memiliki gigi yang kuat dari kebiasaan makan sirih pinang.

Tradisi makan sirih pinang ini tidak hanya dilakukan oleh orang dewasa, bahkan hingga anak-anak yang sudah dikenalkan orang tua nya tentang sirih pinang tentu akan mulai mengikuti tradisi ini. Selain itu campuran sirih, pinang, dan kapur saat dimakan juga memiliki aroma khas tersendiri yang saling bercampur.

Tradisi turun-temurun ini pun telah benar-benar tertanam dan berakar dalam keseharian masyarakat Papua. Pinang dan sirih tidak hanya disediakan dalam acara penting saja, tetapi menjadi makanan yang dapat dimakan masyarakat di sana kapan saja.

Hal ini tentu berdampak baik, karena anak cucu dan generasi berikutnya dari masyarakat Papua akan terus menggenggam dan menjaga keberlangsungan adat dan tradisi nenek moyang, serta tidak akan lekang oleh waktu, begitupun dengan tradisi Suling Tambur.

Referensi:Lokadata | Info Publik

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

GD
KO
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini