Agroedukasi Caping Merapi, Kawasan Edukasi Tentang Urban Farming

Agroedukasi Caping Merapi, Kawasan Edukasi Tentang Urban Farming
info gambar utama

#WritingChallengeKawanGNFI #CeritadariKawan #NegeriKolaborasi #MakinTahuIndonesia

Kota Yogyakarta yang identik dengan kota wisata karena keindahan alam, sosial, budaya, serta keramahan warganya membuat kota ini kerap menjadi tujuan utama wisatawan domestik maupun mancanegara.

Berbagai macam objek wisata banyak ditemukan di kota ini, salah satunya Agroedukasi Caping Merapi yang wajib dikunjungi ketika berkunjung ke kota pelajar ini karena mengusung konsep agroedukasi yang sangat cocok bagi wisatawan yang ingin mencoba pengalaman berwisata yang baru.

Agroedukasi Caping Merapi terletak di di Jalan Raya Tajem KM 2.5 Wedomartani, Ngemplak, Sleman, Yogyakarta. Caping Merapi merupakan salah satu kebun agro edukasi terbaik di Jogja. Afroedukasi Caping Merapi memperkenalkan wisatawan terhadap pertanian organik melalui pelatihan, bisa dalam bentuk urban farming, budidaya sayur organik, sampai dengan pengolahan hasil panen. Selain itu, Caping Merapi juga menyediakan bibit, benih, dan aneka macam jenis sayuran alami yang dapat wisatawan beli.

Praktik urban farming di Agroedukasi Caping Merapi terlihat dari penerapan konsep permakultur. Agroedukasi Caping Merapi mempunyai bedengan tanaman yang ditutupi oleh mulsa organik berupa daun bambu. Kemudian, terdapat tempat pengelolaan gulma menjadi pupuk kompos, vertical garden, dan peternakan hewan.

Agroedukasi Caping Merapi | Foto: Impessa.id
info gambar

Agroedukasi Caping Merapi sangat aktif melakukan kegiatan pelatihan, penjualan, budidaya sayur sehat, dan wisata edukasi. Kegiatan urban farming yang dilakukan oleh Agroedukasi Caping Merapi dapat tercermin dalam kegiatan pelatihan ini, dimana wisatawan akan diajari praktik urban farming dengan mengenalkan vertikultur, akuaponik, hidroponik dan tanaman yang cocok untuk urban farming

Pesatnya arus urbanisasi yang selalu meningkat di tiap tahunnya, mempengaruhi ketersediaan lahan di perkotaan yang semakin terbatas luasnya. Meningkatnya konversi lahan secara langsung menjadi ancaman keberlangsungan pembangunan di masa yang akan datang. Maka dari itu, hadirlah pertanian perkotaan atau sering disebut dengan “urban farming” yaitu kegiatan yang memanfaatkan lahan maupun ruang untuk memproduksi hasil pertanian di perkotaan (Mayasari. 2016).

Tujuan dari adanya urban farmingadalah untuk menyokong pembangunan berkelanjutan, menangani masalah perkotaan hingga pemenuhan kebutuhan pangan (Ula, dkk. 2015).

Seperti yang kita ketahui, urban farming dapat memberikan kontribusi ketahanan pangan dan sarana pendidikan untuk membantu anak-anak agar bisa mengembangkan dunia pertanian secara maksimal.

ara wisatawan juga dapat terlibat dalam aktivitas bercocok tanam dengan menggunakan media tanam non-tanah yang tidak merusak lingkungan serta bagus untuk tanaman, seperti sekam, cocopeat, pupuk kandang, pupuk kompos organik, dan pupuk cair dengan cara bertanam vertical garden dan planter bag.

Wisatawan pun boleh terlibat dalam pembuatan pupuk serta pestisida organik dan pengelolaan hasil panen menjadi produk olahan dengan nilai ekonomi yang lebih baik.

Wisata agroedukasi yang menerapkan urban farming merupakan sebuah konsep pertanian yang dilakukan karena banyaknya lahan pertanian yang dialih fungsikan sebagai daerah pemukiman, industri, dan perkotaan dengan jumlah penduduk yang banyak.

Penerapan konsep urban farming di sekitar perkotaan dapat memberikan kontribusi untuk ketahanan dan keamanan pangan dalam 2 (dua) cara, yakni urban farming dapat meningkatkan jumlah ketersediaan pangan untuk masyarakat yang tinggal di kota dan menyediakan sayur-sayuran maupun buah-buahan segar untuk dikonsumsi oleh masyarakat kota.

Saat ini, Caping Merapi adalah satu-satunya perusahaan yang fokus pada program agroedukasi di area Yogyakarta dan sekitarnya.

Prinsip etika lingkungan juga harus diterapkan dan menjadi pedoman bagi perilaku sehari-hari manusia. Prinsip seperti menghargai keberadaan alam di sekitar manusia, peduli terhadap kelestarian alam, hidup selaras sengan alam, bertanggung jawab secara moral terhadap alam yang perlu manusia perjatikan ketika berinteraksi dengan alam sekitarnya.

Oleh karena itu, jika kita sebagai manusia dapat menjaga dan melestarikan alam di sekitar kita maka alam juga akan memberikan manfaat yang besar bagi kehidupan manusia.

Referensi:

Mayasari, K. 2016. Konsep Urban Farming sebagai Solusi Kota Hijau. https://jakarta.litbang.pertanian.go.id/ind/index.php/publikasi/artikel/639-konsepurban-farming-sebagai-solusi-kota-hijau, diakses pada 10 Desember 2022.

Ula, Mas, Sa’Adah Sa’Adah, dan Muhammad Kholiqul Amiin. 2014. Sustainable Agriculture System (SAc-S): Inovasi Konsep Pertanian Urban Sebagai Pembangunan Berkelanjutan dan Upaya Penanganan Masalah Perkotaan. Diakses dari https://www.neliti.com/id/publications/169910/sustainable-agriculture-system-sac-s-inovasi-konsep-pertanian-urban-sebagai-pemb, diakes pada 10 Desember 2022.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

NP
KO
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini