Strategi Jamur Tiram Melalui Teknik Kearifan Lokal dalam Mewujudkan Ketahanan Pangan

Strategi Jamur Tiram Melalui Teknik Kearifan Lokal dalam Mewujudkan Ketahanan Pangan
info gambar utama

#WritingChallengeKawanGNFI #CeritadariKawan #NegeriKolaborasi #MakinTahuIndonesia

Tidak banyak orangg menyadari, realitasnya kearifan lokal merupakan salah satu komponen kekakyaan di negara Indonesia, yang dapat dipergunakan menjadi modal dalam mewujudkan ketahanan pangan melalui ekonomi kreatif. Bahkan dapat disebutkan, bahwa ketahanan pangan dan kearifan lokal adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lain. Hal ini dilatarbelakangi, oleh adanya tradisi dari berbagai daerah dalam mengelola pangan baik dengan cara memproduksinya maupun mengonsumsinya

Tradisi yang berlangsung turun-temurun inilah yang menjadi dasar bagi kelompok masyarakat untuk menjadikannya perilaku dan budaya dalam kehidupan sehari-hari. Penerapan teknik kearifan lokal ini dapat dilihat pada sektor pertanian khususnya untuk pengelolaan tanaman pangan. Hal inilah yang membuktikan kearifan lokal sangat berkontribusi dalam ketahanan pangan. Di daerah Papua Barat memiliki beragam jenis pangan alternatif pengganti daging, salah satunya jamur tiram.

Tidak banyak orang menyadari, realitasnya kearifan lokal merupakan salah satu komponen kekayaan di negara Indonesia, yang dapat dipergunakan menjadi modal dalam mewujudkan ketahanan pangan melalui ekonomi kreatif. Bahkan dapat disebutkan, bahwa ketahanan pangan dan kearifan lokal adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain. Hal ini dilatarbelakangi, oleh adanya tradisi dari berbagai daerah dalam mengelola pangan baik dalam cara memproduksinya maupun mengonsumsinya.

Tradisi yang berlangsung turun-temurun ini menjadikan dasar bagi kelompok masyarakat untuk menjadikannya sebagai perilaku dan budaya dalam kehidupan sehari-hari. Penerapan teknik kearifan lokal ini dapat dilihat pada sektor pertanian khususnya untuk pengelolaan tanaman pangan. Hal inilah yang membuktikan kearifan lokal sangat berkontribusi dalam ketahanan pangan. Di daerah Papua Barat memiliki beragam jenis pangan alternatif pengganti daging, salah satunya jamur tiram.

Upaya pemanfaatan pangan lokal ini dapat mendorong pengembangan pangan pokok sumber protein dengan beragam jenis olahan yang mampu disandingkan dengan daging, yang bahan utamanya berasal dari jamur tiram sebagai pangan lokal. Maka dari itu, diperlukan peningkatan pemahaman dan kesadaran masyarakat untuk mengubah pola konsumsi pangan selain daging. Upaya yang dapat dilakukan yaitu sosialisasi dan promosi disverivikasi pangan non daging kepada masyarakat. Selain itu juga, adanya kontribusi pemerintah dalam memberikan modal dan investasi serta kemudahan dalam perizinan sangat membantu kelancaran ketahanan pangan melalui jamur tiram.

Jamur Tiram | Foto: Kompas.com
info gambar

Ketahanan pangan sangat berkaitan erat dengan isu kemiskinan yang terjadi di Indonesia. Hal ini disebabkan oleh pendapatan masyarakat yang dibawah standar sehingga kebutuhan pangan sulit terpenuhi. Berkurangnya kecukupan asupan kebutuhan masyarakat akibat penurunannya daya beli, berpengaruh terhadap kebutuhan gizi mereka. Ketahanan pangan bergantung pada tiga elemen utama yaitu, kesediaan stok pangan dengan jumlah dan kualitas yang mencukupi, perolehan pangan, dan pemanfaatan pangan agar hidup dengan sehat melalui kualitas dan gizi.

Menurut Direktorat Jenderal Hortikultura, Kementerian Pertanian RI, produksi jamur tiram sangat meningkat pesat namun konsumsi jamur tiram masih sangat rendah. Akan tetapi saat ini muncul fenomena kenaikan harga pangan yang mengakibatkan harga pangan daging sangat melejit. Hal ini disebabkan oleh adanya krisis energi yang berimbas kepada krisis pangan, terutama pangan impor. Komoditas pangan daging di Indonesia masih menggunakan pangan impor sehingga tidak dapat dipungkiri harganya sangat melonjak. Di Papua Barat sendiri harga daging sapi perkilo mencapai Rp140.000 dan daging ayam mencapai Rp40.000 perkilo sedangkan jamur tiram perkilo Rp30.000.

Jamur tiram yang dikembangkan di Sorong merupakan salah satu komoditas yang menggunakan teknik kearifan lokal. Dimana para produsennya memanfaatkan beragam alat dan bahan yang alami dalam memproduksinya. Bahan-bahan tersebut sangat ramah lingkungan dan mereduksi sampah organik seperti serbuk kayu dan katul padi sehingga tidak membutuhkan pestisida. Jamur tiram juga menjadi produk yang kaya nutrisi dan memberikan dampak positif terhadap tubuh serta lingkungan. Menurut Frengki Duwith selaku produsen jamur tiram asal Papua Barat menyatakan, jamur tiram memiliki kandungan antioksidan yang tinggi sehingga mampu menangkal radikal bebas seperti meningkatkan imunitas dan kolagen, serta mengurangi risiko kolesterol dan mencegah kanker.

Bahkan emisi serbuk jamur tiram juga kaya akan manfaat yang mampu menjadi media tanam untuk tanaman seperti seledri. Berdasarkan penelitian Puslitbang Sosial Ekonomi dan Perubahan Iklim pada tahun 2019 menyatakan, bahwa budidaya jamur mampu mengalihkan ketergantungan masyarakat pada hutan, menurunkan penebangan liar dan meningkatkan konservasi hutan. Selain itu juga, upaya ini dapat mengurangi suatu daerah atas ketergantungan impor bahan pangan sehingga dapat meminimalisir kenaikan harga produk pangan.

Jamur tiram selain memiliki harga yang ekonomis, juga dapat diolah menjadi beragam jenis olahan makanan yang sama dengan daging misalnya seperti nugget, bakso, dan lain-lain yang berbahan protein nabati. Jamur tiram menjadi solusi di tengah gempuran isu resesi untuk menjaga ketahanan pangan. Karena dengan harga yang sangat ekonomis serta kandungan gizi yang setara dengan daging menjadikannya sangat diminati semua kalangan. Untuk itu, ayo Kawan GFNI kita upayakan penggunaan bahan pangan lokal yakni jamur tiram dalam meningkatkan ketahanan pangan di tengah isu krisis pangan.

Referensi

Anissa, L. (2022, Oktober 23). https://www.kemenkeu.go.id/informasi-publik/publikasi/berita-utama/Strategi-Pemerintah-Dorong-Ketahanan-Pangan. Retrieved from Kontan.co.id: https://nasional.kontan.co.id/news/krisis-pangan-mengancam-begini-kesiapan-kementan

Indonesia, C. (2022, September 22). Ada Ancaman Krisis Pangan, Supply Daging Sapi Impor RI Aman? Retrieved from CNBC Indonesia: https://www.cnbcindonesia.com/news/20220922094136-8-374075/ada-ancaman-krisis-pangan-supply-daging-sapi-impor-ri-aman

Kemenkeu. (2022, September 14). Ini Strategi Pemerintah Dorong Ketahanan Pangan untuk Hadapi Dinamika Global. Retrieved from Kementerian Keuangan Republik Indonesia: https://www.kemenkeu.go.id/informasi-publik/publikasi/berita-utama/Strategi-Pemerintah-Dorong-Ketahanan-Pangan

Saskiawan, I. (2020, November 10). Pentingnya Jamur untuk Ketahanan Pangan di Masa Pandemi Covid-19. Retrieved from Kompas.com: https://www.kompas.com/sains/read/2020/11/10/200500723/pentingnya-jamur-untuk-ketahanan-pangan-di-masa-pandemi-covid-19?page=all

Tjokrokusumo, D. (2008). JAMUR TIRAM (Pleurotus ostreatus) UNTUK MENINGKATKAN KETAHANAN PANGAN DAN REHABILITASI LINGKUNGAN. JRL, 53-62.

Yewen, N. (2020, Agustus 2020). Frengki Duwit, Usaha Jamur Tiram Tak Hanya soal Duit. Retrieved from Mongabay.com: https://www.mongabay.co.id/2020/08/09/frengki-duwit-usaha-jamur-tiram-tak-hanya-soal-duit/

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

GH
KO
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini