Aset Baru dari Tanah Baduy

Aset Baru dari Tanah Baduy
info gambar utama

#WritingChallengeKawanGNFI #CeritadariKawan #NegeriKolaborasi #MakinTahuIndonesia

Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tidak dibentuk oleh satu suku saja. Ada banyak suku yang hidup dan berkembang di tanah air, di antaranya suku Jawa, Sunda, Batak, Bugis, Bali, dan masih banyak lagi suku-suku yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia sebagai bentuk keberagaman. Keberagaman yang ada menjadi simbol persatuan dan kesatuan yang dikemas dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika. Indonesia tidak hanya beragam dalam hal suku saja, tetapi juga beragam dalam hal agama, ras, dan anggota golongan. Bahkan dalam KTT Asia Afrika, Indonesia dijadikan rujukan untuk mengelola keberagaman yang ada dalam suatu negara.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik pada 2010, tercatat 1.340 suku, 2.500 bahasa daerah, dan 6 agama menjadi faktor utama adanya keberagaman di Indonesia. Sebagai negara kepulauan yang memiliki banyak wilayah dengan ciri khasnya masing-masing, setiap daerah mempunyai cara tersendiri untuk dikenal di mata nasional. Ada daerah yang mengunggulkan wisata alamnya, ada daerah yang memperkenalkan diri dengan produk atau kerajinan yang tidak ada di tempat lain, dan berbagai cara yang dilakukan pemerintah daerah setempat untuk memperkenalkan daerahnya kepada masyarakat Indonesia, atau bahkan masyarakat internasional.

Begitu juga yang dilakukan oleh pemerintah daerah Kabupaten Lebak yang terus berupaya mengembangkan wisata alam dari tanah Sunda, yaitu suku Baduy. Sebagai salah satu wilayah dari Provinsi Banten, Kabupaten Lebak memiliki berbagai potensi alam serta kebudayaan yang tidak kalah unik dari daerah lain. Sebagian masyarakat pasti pernah mendengar suku Baduy.

Suku Baduy merupakan komunitas yang hidup secara terisolir dari dunia luar. Mereka terbagi atas dua kelompok, yaitu suku Baduy luar dan suku Baduy dalam. Secara penampilan, suku Baduy dalam memakai baju dan ikat kepala serba putih, sedangkan suku Baduy luar memakai pakaian hitam dan ikat kepala berwarna biru. Meskipun hidup secara terisolir, pada kenyataannya hanya suku Baduy dalam yang benar-benar tidak tersentuh kemajuan dunia luar, sementara suku Baduy luar sudah beradaptasi dengan kemajuan zaman karena pengaruh wisatawan yang datang ke tempat tersebut

Ciri khas yang menonjol dari suku Baduy adalah mereka hidup secara sederhana dan menyatu dengan alam. Untuk itu, suku Baduy sangat berusaha menjaga kelestarian alam. Bahkan ada semboyan yang mengatakan: gunung ulah dilebur, Lebak ulah dirusak, yang artinya gunung jangan dihancurkan dan lembah sebagai penampung air jangan dirusak. Hal itu sebagai kewajiban bagi masyarakat Baduy untuk melestarikan dan menjaga alam.

Keunikan suku yang terletak di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten ini tidak hanya terlihat dari gaya hidupnya yang serba tradisional. Tetapi juga pada produk yang mereka hasilkan. Selain berjualan madu dan hasil alam yang dibawa ke kota, masyarakat suku Baduy juga menghasilkan kerajinan kain tenun sebagai ciri khas suku tersebut. Jika di Batak ada kain ulos, di Banjar ada kain sasirangan, dan di Palembang ada kain songket, maka di tanah Pasundan ada kain tenun Baduy yang tidak kalah eksis.

Proses pengerjaan kain tenun Baduy
info gambar

Kabar baiknya, kain Baduy telah resmi menjadi warga Lebak. Melalui postingan instagram bupati Lebak (@viajayabaya) beliau hadir menerima surat pencatatan Inventarisasi Kekayaan Intelektual Komunal Pengetahuan Tradisional di Jakarta pada 21 November 2022. Sungguh, ini merupakan sebuah kebanggaan bagi masyarakat Lebak dan suku Baduy itu sendiri karena kain Baduy telah diakui di skala nasional sebagai kekayaan intelektual komunal.

(Pencatatan Inventarisasi Kekayaan Intelektual Komunal Pengetahuan Tradisional di Jakarta)
info gambar

Tak cukup sampai di situ, warga Baduy kembali menunjukkan keunggulannya dengan menyabet juara harapan satu dalam acara Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2022 yang di selenggarakan oleh Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) di kategori 5 Terbaik Desa Wisata Kategori Daya Tarik Pengunjung ADWI 2022. Banyaknya potensi yang dimiliki suku Baduy semakin menyadarkan pemerintah dan warga setempat untuk semakin mengenalkan berbagai keunikan kabupaten Lebak ke mata nasional bahkan internasional. Itulah kabar baik yang datang dari daerahku. Semoga ke depannya akan ada kabar baik lain menyusul dari kabupaten Lebak dan kabupaten-kabupaten lain di Indonesia.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

DR
KO
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini