Dambus, Mengenal Alat Musik Kesenian dari Melayu Bangka

Dambus, Mengenal Alat Musik Kesenian dari Melayu Bangka
info gambar utama

#WritingChallangeKawanGNFI #CeritadariKawan #NegeriKolaborasi #MakinTahuIndonesia

Masyarakat Indonesia adalah kelompok mayarakat heterogen, hal ini juga dapat dijumpai di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Masyarakat Di Bangka Belitung khususnya di pulau Bangka didominasi oleh suku Melayu, Tionghoa dan beberapa dari pulau Jawa, Sumatera, Madura dan lainnya. Adanya heterogenitas ini membuka peluang proses akulturasi kebudayaan yang menjadi ciri khas tertentu. Salah satunya keunikan yang ada di pulau Bangka adalah alat kesenian bernama Dambus.

Dambus adalah alat musik yang mengakar pada budaya Melayu, sejak dahulu mengalami akulturasi dengan kepercayaan yang dibawa pendatang berasal dari luar pulau dan kebudayaan asli di pulau Bangka. Dambus diidentikkan sebagai alat kesenian yang mirip gitar dengan karakteristik adanya senar petik untuk menghasilkan suara-suara atau nada-nada tertentu. Sebagai alat kesenian khas Bangka, Dambus dekat kaitannya dengan kehidupan masyarakat hal ini dapat dilihat dalam kehidupan masyarakat seperti upacara adat, pagelaran seni, perkawinan dan penyambutan tamu penting, Dambus selalu hadir ditengah masyarakat dengan dawai nada yang menjerat para pendengarnya.

Sejarah Dambus

Dambus - alat musik kesenian dari Melayu Bangka

Menurut catatan tertua mengenal alat musik Dambus yang dilansir dari Kebudayaan KemdikbudDambus Bangka Yang Mempesona seorang peneliti asal Jerman bernama Frans Epp dalam bukunya yang berjudul Schilderungen Aus Hollandisch-Ostinden yang terbit pada tahun 1852. Dia menceritakan tentang masyarakat Melayu Bangka pada tahun 1830-an terdapat ornamen alat musik senar yang dipetik saat dimainkan (yang kini diindentifikasikan sebagai Dambus) dipajang di depan teras rumah-rumah tradisional Bangka.

Berdasarkan keterangan tersebut, ini menjadi bukti bahwa alat musik Dambus sangat lekat dalam keseharian masyarakat Bangka sejak jaman dahulu. Frans Epp juga menyebutkan, ia mendeskripsikan dalam bukunya bahwa Dambus terbuat dari kayu keras yang ringan kemudian dilubangi dan ditutup dengan kulit monyet. Menurut Akhmad Elvian, seorang Sejarawan dan Budayawan kelahiran Bangka menyebutkan bahwa Dambus adalah alat musik etnis Bangka. Hal ini merujuk pada bentuk dan ciri khas Dambus yang merepresentasikan bentuk kepala rusa atau kijang. Hewan rusa atau kijang bagi masyarakat Bangka adalah hewan yang sakral, hal ini berkaitan dengan kepercayaan-kepercayaan masyarakat setempat. Rusa atau kijang adalah hewan penting dalam masyarakat Bangka yang berkaitan dengan tradisi Nganggung, yaitu membawa makanan yang disajikan dalam dulang untuk disantap bersama-sama dan upacara keagamaan. Daging rusa atau kijang adalah masakan paling mulia atau agung yang disajikan dalam tradisi Nganggung tersebut.

Pengaruh Tradisi Berburu dan Dambus dalam Kehidupan Masyarakat Melayu Bangka

Dambus memiliki ciri khas sebagai alat kesenian Bangka yaitu dengan bentuk ujung alat musik ini berbentuk kepala rusa atau kijang. Bentuk ciri khas Dambus juga adanya kaitan dengan pengaruh di masa lalu yaitu tradisi berburu atau dalam bahasa setempat dikenal sebagai Belapun atau Berasuk. Kegiatan berburu di hutan harus meminta izin kepada dukun hutan agar proses kegiatan ini berlangsung dengan aman. Ketika hasil buruan didapat baik rusa atau kijang, pembagian hasil dagingnya harus secara adil dan merata sehingga tidak ada yang merasa sedikit atau kurang. Hasil buruan ini biasanya dipersembahkan pada acara-acara tertentu seperti tradisi Nganggung atau perayaan hasil panen padi.

Dambus memiliki nilai tertinggi bagi masyarakat Bangka khususnya dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam proses pembuatan Dambus, dahulu menggunakan enam jenis kayu yang berbeda dan diambil dari enam hutan yang berbeda serta dipisahkan oleh sungai-sungai yang terpisah. Untuk alat pemetiknya menggunakan gigi harimau agar hasil suara yang dikeluarkan merdu. Dalam kepercayaan masyarakat Bangka, Dambus harus diberi jimat atau dalam bahasa Melayu yaitu Kemat dengan cara mengasapi Dambus menggunakan kemenyan yang diberi mantra.

Bagi pemain Dambus sendiri memiliki ritual tersendiri agar para penonton atau pendengar terpikat dengan alunan Dambus yang sedang dimainkan. Dan pengaruh perkembangan jaman, kegiatan ritual-ritaul ini ditinggalkan karena berkaitan dengan agama yang telah dianut.

Proses Akulturasi

Adanya proses akulturasi pada Dambus yang dulunya alat kesenian sebagai hiburan masyarakat atau pada acara adat, seiring bergantinya periode masa tertentu sampai pada abad ke 19 Masehi bersamaan dengan kedatangan para imigran Arab dari Hadramaut, Yaman Selatan ke Nusantara. Di lansir dari Kebudayaan Kemdikbud Warisan Budaya Tak Benda Indonesia telah terjadi proses akulturasi antara kepercayaan dan kebudayaan sebelumnya yang ada di Bangka Belitung dengan datangnya agama Islam. Dambus yang awalnya sebagai alat hiburan menjelma menjadi alat dakwah oleh penyiar agama dalam menyebarkan agama Islam dengan menggunakan syair-syair qasidah, tujuannya adalah mengajak masyarakat mendekatkan diri pada Allah dan mengikuti teladan Rasul-Nya. Musik Dambus ini tidak pernah pudar sebagai musik yang menghiasi kehidupan mayarakat di Bangka Belitung khususnya pulau Bangka pada umumnya.

Bentuk fisik dan cara memainkan Dambus tidak menyerap unsur-unsur Gambus yang berasal dari Arab. Dulu namanya alat musik yang petik dengan senar, ketika masuk Islam di seraplah kata Gambus menjadi Dambus. Proses akulturasi yang berakar pada kebudayaan dan penyiaran agama ini juga berpengaruh pada lagu-lagu yang dinyanyikan oleh para seniman Dambus hingga sampai saat ini.

Ini juga menjadikan Dambus menjadi alat kesenian yang unik serta tetap mengakar pada budaya Melayu Bangka yang mengalami proses akulturasi dengan kebudayaan pendatang yang hanya akan Kawan GNFI temui di Bangka Belitung.

Upaya Pelestarian

Sejak tahun 2003, Dambus telah tercatat sebagai warisan budaya tak benda Indonesia di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan sejak saat itulah upaya-upaya pelestarian terus dilakukan. Karena Dambus melekat pada image kuno dan tidak modern, tentu hal ini perlu pengenalan dan pelestarian untuk adanya regenerasi para seniman-seniman Dambus yang baru agar tetap lestari.

Salah satu upaya melakukan pengenalan dan pelestarian Dambus agar dikenal lebih luas oleh masyarakat yaitu dengan adanya pagelaran seni yang dikemas secara modern. Salah satunya adalah Festival Serumpun Sebalai yang dilakukan setiap tahunnya yang bertujuan untuk mengenalkan budaya dan kesenian yang berada di Bangka Belitung serta dilaksanakan di Taman Alun-alun Kota Pangkalpinang. Alat kesenian ini juga digabungkan dengan alat-alat musik lainnya seperti Tawak-tawak(alat musik seperti gong yang terbuat dari batok kelapa), Caklemong, Rebab, suling, gendang Melayu dan gitar yang menghasilkan komposisi musik yang baru. Dambus juga dikemas secara modern dengan tampil di acara formal baik dimasyarakat atau instansi-instansi pemerintahan daerah. Tentunya ini diharapkan agar menjaga eksistensi Dambus sebagai alat kesenian khas Bangka Belitung.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

SS
KO
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini