Memaknai Filosofi Tongin Fangin Jit Jong dalam Toleransi Beragama di Bangka Belitung

Memaknai Filosofi Tongin Fangin Jit Jong dalam Toleransi Beragama di Bangka Belitung
info gambar utama

#WritingChallangeKawanGNFI #CeritadariKawan #NegeriKolaborasi #MakinTahuIndonesia

Jika Kawan GNFI berkunjung ke Bangka Belitung jangan kaget jika melihat harmonisasi antara kebudayaan Melayu dan Tionghoa masih terasa kental dan hidup rukun berdampingan. Hal ini sebenarnya tidak terlepas dari sebuah semboyan yang telah mengakar sejak lama dan diwariskan dari pendahulu-pendahulu. Semboyan Tongin Fangin Jit Jong seakan menjadi asing bagi masyarakat di luar sana , tetapi tidak bagi masyarakat Bangka Belitung sendiri. Semboyan ini seakan melekat dalam kehidupan bermasyarakat dan menciptakan toleransi yang tinggi antar beragama.

Tongin FanginJit Jong dapat diartikan sebagai "Melayu, China atau Tionghoa sama saja" ini menyiratkan tentang kebhinekaan yang erat dalam cerminan bermasyarakat dan tidak adanya perbedaan antara kedua etnis tersebut tersebut atau etnis-etnis lainnya yang ada di Bangka Belitung khususnya pulau Bangka. Bahkan dalam perayaan hari besar di kedua agama yang berbeda, kedua etnis ini tetap saling mengunjungi satu sama lain seakan tiada celah perbedaan. Harmoninasi ini masih dapat ditemui jika berkunjung ke Muntok, Pangkalpinang, Sungailiat, Koba, Toboali dan daerah-daerah di pelosok pulau Bangka.

Sejarah

Bangka Belitung | Foto: Times Indonesia
info gambar

Menurut sejarawan dan budayawan Bangka Belitung, Akhmad Elvian yang dimuat di BangkaposSejarah Semboyan Tongin Fangin Jit Jong, Cerminan Kebhinekaan di Bangka Belitung. Awalnya orang-orang Tionghoa dari daratan China didatangkan ke Bangka oleh Sultan Muhammad Mansur Inlag dari Kesultanan Palembang pada tahun 1710 Masehi karena telah menandatangani perdagangan timah dengan VOC sebagai penambang timah.

Para pendatang dari China ini di sebut sebagai Sinkek yang berarti orang yang masih terikat pada kontrak penambangan timah. Para Sinkek pada umumnya adalah para laki-laki lajang maupun yang sudah berkeluarga. Orang-orang Sinkek yang masih lajang kemudian menikah dengan perempuan pribumi dengan aturan Sindang Merdeka. Sidang Merdeka adalah aturan bahwa pribumi perempuan tidak diperbolehkan meninggalkan Bangka. Dengan aturan ini menyebabkan orang-orang Tionghoa mau tidak mau bermukim disini dengan kehidupan baru dan hidup berumah tangga serta anak-anak mereka disebut "Peranakan".

Dari hasil perkawinan inilah proses asimilasi dua etnis berbeda terjadi. "Hubungan kekeluargaan, kekentalan darah itu sangat kuat membentuk kekerabatan sehingga kemudian muncul filosofi baru 'Tongin Fangin Jit Jong' jadi baik orang pribumi dan orang Tionghoa itu setara tidak ada perbedaan dalam segala aspek kehidupan," ungkap Akhmad Elvian yang dimuat di Bangkapos.

Dari hasil pertalian darah antara etnis Melayu dan Tionghoa menjadi cikal bakal hubungan kerukunan dan keharmonisan terjadi, tidak hanya hubungan kekeluargaan tetapi juga dalam tempat beragama seperti masjid dan kelenteng yang berdiri berdampingan.

Keberagamaan dan Toleransi Beragama dalam Pemaknaan Sila Pertama

Salah satu bukti adanya toleransi beragama di Bangka Belitung adalah tercermin dari dua tempat peribadatan yang bersebelahan. Tempat ibadah dua agama itu terletak di kota Muntok, sebelah barat pulau Bangka yang dulunya adalah ibukota karesidenan Bangka tahun 1772 Masehi sebelum dipindahkan ke kota Pangkalpinang. Peribadatan itu berupa masjid Jami' Muntok dan kelenteng Fuk Miau yang beralamat di Kampung Tanjung Kota Muntok, Bangka Barat.

Masjid Jami' Muntok dibangun pada tahun 1883 yang menjadikannya sebagai masjid tertua di pulau Bangka sedangkan kelenteng Fuk Miau dibangun pada tahun 1820. Diketahui bahwa proses pembangunan kedua tempat peribadatan itu melalui gotong royong orang-orang Melayu yang beragama Islam dan orang-orang Tionghoa beragama Konghucu saling bahu-membahu membangun kedua peribadatan tersebut. Dalam acara keagamaan Masjid Jami' Muntok digunakan sebagai sarana tempat ibadah, kegiatan-kegiatan agama seperti Maulid Nabi, Nganggung dan acara keagamaan lainnya. Sedangkan kelenteng Fuk Miau yang berdiri disebelah, hingga saat ini masih rutin menggelar acara keagamaan seperti tempat ibadah, Sembahyang Rebut, Sam Kao Sat dan acara-acara peringatan bulan-bulan tertentu.

Dua buah bangunan keagamaan yang menjadi saksi sejarah perkembangan kota Muntok di Bangka Belitung dari masa ke masa. Menjadi simbol toleransi antar umat beragama, menerima perbedaan yang telah berlangsung ratusan tahun lamanya. Kebebasan beragama, saling menghargai satu sama lain dan hidup rukun berdampingan mencerminkan semboyan filosofi Tongin Fangin Jit Jong dalam toleransi beragama di Bangka Belitung saat dijunjung tinggi.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

SS
KO
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini