Gusjigang, Harmoni Spiritualitas dan Kemandirian Ekonomi di Kota Kudus

Gusjigang, Harmoni Spiritualitas dan Kemandirian Ekonomi di Kota Kudus
info gambar utama

#WritingChallengeKawanGNFI #CeritadariKawan #NegeriKolaborasi #MakinTahuIndonesia

Jika Anda berkunjung ke Kota Kudus sangat mudah menemukan pemandangan orang-orang mengenakan sarung dan kopiah hitam. Mereka kebanyakan adalah santri yang mondok atau belajar ilmu agama di pesantren. Saat ini terdapat lebih dari 300 pesantren di Kudus.

Jika satu pesantren memiliki santri paling kurang 500-an maka terdapat puluhan hingga ratusan santri di kudus. Tak ayal jika Kudus dikenal sebagai kota santri, mengingat orang yang ingin mondok atau belajar ilmu agama di Kudus. Bahkan beberapa pesantren di Kudus dijadikan panutan oleh lembaga pesantren lainnya di Indonesia.

Catatan sejarah menunjukkan peran besar walisongo terutama sunan kudus yang menjadikan kudus sebagai salah satu pusat belajar agama. Sunan Kudus merupakan salah satu anggota Wali Songo, ulama yang menyebarkan islam di pulau jawa. Beliau lahir pada tahun 1400 Masehi dengan nama asli Ja’far Shodiq. Ayahnya bernama Raden Utsman Haji dan ibunya Nyai Anom Manyuran. Diketahui ibunya adalah putri dari Sunan Ampel. Menurut silsilah keluarga sunan Kudus, beliar merupakan keturunan ke-10 Nabi Muhammad SAW lewat jalur Husein, yaitu putra dari pernikahan putri nabi, siti Fatimah dengan ali bin abi thalib.

Banyak warisan berharga yang diberikan oleh Sunan Kudus bagi masyarakat Kudus, salah satunya tentang toleransi beragama. Dahulu Kudus banyak didiami oleh masyarakat beragama Hindu. Sapi sebagai hewan suci dalam ajaran Hindu tidak boleh disakiti atau dianiaya. Sunan Kudus menyeru untuk tidak menyembelih sapi karena menghargai keyakinan masyarakat pada masa itu.

Bentuk toleransi beragama lainnya yang diajarkan oleh Sunan Kudus adalah Menara Kudus. Menara yang dibangun dengan perpaduan arsitektur Hindu dan Islam ini menjadi gambaran betapa indahnya harmoni antar umat beragama. Warisan dalam bentuk budaya dan bangunan terus dilanggengkan dan diajarkan kepada masyarakat Kudus hingga saat ini.

Menara Kudus sebagai warisan budaya di Kota Kudus

Ada salah satu warisan lain Sunan Kudus dalam bentuk nilai kehidupan yang sangat berharga, yaitu ajaran Gusjigang. Gusjigang merupakan singkatan dari “baGus”, “NgaJi”, dan “daGang”. Bagus artinya berperilaku dan berakhlak baik sebagai manusia. Ngaji adalah kewajiban manusia sebagai hamba Allah yang harus selalu dijaga. Dagang bermakna sebuah bentuk kemandirian ekonomi yang harus dimiliki oleh seseorang. Perpaduan antara ketiga unsur Gusjigang menjadi sebuah pedoman hidup yang diamalkan oleh masyarakat Kudus. Nilai “bagus” dan “ngaji” didapat melalui ajaran agama yang dipelajari di pesantren. Nilai “dagang” adalah anjuran untuk melakukan pekerjaan yang dapat menghidupi diri dan keluarga melalui berdagang atau pekerjaan lainnya. Pekerjaan yang dilandasi oleh akhlak dan pemahaman agama yang baik akan melahirkan nilai-nilai seperti kejujuran, kedermawanan, dan kesungguhan.

Ajaran Gusjigang telah meresap ke dalam filosofi kehidupan masyarakat Kudus yang terkenal religius namun juga sejahtera secara ekonomi. Terbukti selain terdapat banyak pesantren, Kudus juga salah satu sentra produksi rokok terbesar se-Indonesia. Beberapa perusahaan rokok ternama seperti Djarum dan Sukun memberikan sumbangan perekonomian yang besar bagi Kudus. Keberadaan perusahaan rokok memberikan lapangan pekerjaan yang luas serta nilai produksi rokok yang tinggi. Oleh karenanya Kudus juga dikenal sebagai “Kota Kretek”.

Selain rokok, Kota Kudus juga menghasilkan beberapa komoditas lain seperti kopi, jagung, tebu, dll. Kudus juga mempunyai beberapa tempat yang berpotensi dijadikan lokasi wisata, sehingga akhir-akhir ini sektor pariwisata juga semakin digalakkan oleh pemerintah dan masyarakat setempat. Inti dari ajaran dagang dalam gusjigang adalah kreativitas dan kemandirian dalam mengolah potensi ekonomi, sehingga tercapai masyarakat yang makmur dan sejahtera.

Sejalan dengan kesuksesan ekonomi masyarakat Kudus tentunya kegiatan spiritual tidak luput dari agenda kehidupan. Banyak ulama dan kyai panutan yang membimbing ajaran ilmu Al-Qur’an, Hadis, Akidah, Fikih, dan lainnya. Bahkan ulama ilmu Al-Qur’an di Kudus terkenal keilmuan dan kesalihannya hingga mancanegara. Ialah K.H Arwani Amin seorang ulama ahli qiraat yang keilmuannya dianut oleh ulama-ulama lain di Nusantara. Ilmu-ilmu agama tersebut dipelajari dengan mengaji di pesantren.

Namun, banyak juga diselenggarakan pengajian umum seperti di Masjid Menara Kudus bagi masyarakat Kudus dan sekitarnya. Setiap bulan Ramadhan didatangkan ulama-ulama besar dari berbagai penjuru Nusantara untuk mengajarkan keilmuan agama bagi masyarakat. Betapa indah kehidupan dengan akses mudah terhadap ilmu agama, sehingga selalu ada media yang mengingatkan kepada kebaikan.

Pelestarian ajaran Gusjigang selalu diupayakan oleh warga Kudus, baik masyarakat maupun santri di dalamnya. Kudus yang kemudian dikenal sebagai kota santri dan kota kretek menggambarkan ajaran Gusjigang dalam bentuk pengamalan nilai spiritualitas dan kemajuan ekonomi. Warisan berharga ulama Nusantara ini juga sangat baik untuk diajarkan kepada masyarakat secara luas. Gusjigang intinya adalah menjalani kehidupan yang seimbang antara dunia dan akhirat. Jika esensi ajaran ini dapat diserap dan diamalkan dalam kehidupan akan tercipta masyarakat yang makmur dan berbudi luhur namun tidak lupa untuk selalu beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Referensi:BPK Jawa Tengah | DPR | Gusgijang

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

BM
KO
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini