Kisah Sejarah dan Budaya dalam Semangkuk Wedang Ronde

Kisah Sejarah dan Budaya dalam Semangkuk Wedang Ronde
info gambar utama

Apakah Kawan GNFI pernah mencoba Wedang Ronde? Cobalah intip kalender harian yang Kawan GNFI miliki di rumah. Gambar Wedang Ronde nampak menghiasi kalender di tanggal 22 bulan Desember. Tradisi makan Wedang Ronde berasal dari China. Tang Yuan (汤圆), demikian nama asli Wedang Ronde yang berarti bola sup. Pelafalan Tang Yuan yang mirip dengan Tuan Yuan (團圓) yang memiliki arti berkat dan kesatuan. Tak heran jika makanan ini menjadi simbolis reuni dan kesatuan keluarga!

Dongzhi Festival adalah salah satu perayaan penting dalam penanggalan imlek. Tepat pada tanggal 22 Desember inilah matahari berbalik ke Utara. Mengutip Aji ‘Chen’ Bromokusumo dalam buku Peranakan Tionghoa dalam Kuliner Nusantara, bahwa titik balik matahari ini terjadi saat matahari berada di Tropic of Capricorn (garis balik Selatan) sehingga hari itu menjadi malam terpanjang dan hari terpendek dalam setahun. Tang Yuan juga disajikan pada Festival Lampion setiap tanggal 15 bulan pertama penanggalan Imlek, sebagai tanda berakhirnya perayaan tahun baru.

Lantas bagaimana sejarah Wedang Ronde hingga terhadirkan dalam deretan kuliner Nusantara? Bahkan resep Wedang Ronde bisa ditemukan dalam buku Mustika Rasa bagian IX yang mendata resep aneka minuman dari pelosok Indonesia! Wedang Ronde rupanya sudah menjadi hidangan milik rakyat Indonesia. Akulturasi budaya membuat hidangan yang satu ini memiliki keunikan variasa khas Nusantara.

Wedang Ronde khas Indonesia dinikmati dengan kuah jahe berpadu gula Jawa yang ditaburi kacang goreng serta irisan kolang-kaling. Ada juga yang menambahkan potongan roti tawar serta sereh, pandan dan cengkeh dalam rebusan kuah jahenya. Tentu variasi Ronde dengan rempah khas Indonesia ini tak mungkin ditemui di negeri asalnya China! Hidangan ini sudah menjadi resep rakyat Indonesia!

Wedang Ronde | Foto: Kompas.com
info gambar

Tradisi membuat bersama keluarga bulatan-bulatan tepung ketan masih terlihat dilakoni oleh warga peranakan Tionghoa di Indonesia hingga zaman now. Warna-warni si Ronde pun semakin mempercantik penampilannya. Ronde warna putih melambangkan kemurnian hati. Ronde warna merah perlambang keberanian. Yang warna hijau simbolik berkah.

Mengintip dapur keluarga peranakan Tionghoa di Indonesia menjelang pertengahan Desember, terdengarlah percakapan antara seorang nenek dan cucunya,

“Mengapa wedang rondenya tidak diwarnai biru, Nek?” tanya seorang cucu pada Neneknya di kala mereka sibuk membuat bulatan tepung ketan bersama.

Sang Nenek pun menjawab sembari tangannya sibuk menyiapkan bulatan kacang tanah berpadu gula merah untuk isian ronde, “Iya, padahal seduhan air bunga telang bisa jadi pewarna alami biru. Namun, sejak zaman perang mengusir Belanda, pewarnaan biru dihindari pada Ronde. Cukup merah dan putih. Simbolik kemerdekaan dalam semangkuk wedang ronde. Jadi terbawa hingga sekarang, pantang mewarnainya dengan biru.”

Filosofi memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia pun terbawa-bawa dalam budaya kuliner para warga peranakan rupanya! Memang, kebersamaan keluarga saat membuat dan menikmati Tang Yuan bersama menjadikannya hidangan perayaan yang disajikan pada acara kumpul keluarga. Bahan dasar yang terbuat dari tepung ketan yang lengket menjadi simbolik kerekatan hubungan keluarga.

Menurut ANTARA News, sebelum zaman Belanda, penamaan Wedang ini dikenal dengan sebutan Wedang Guyub. Guyub yang berarti keakraban. Rame-rame membuatnya sembari mengobrol ngalor ngidul dan menikmatinya pula bersama. Guyub! Tradisi turun temurun inilah yang mengukir memori bersama sebagai satu keluarga.

Sebagai hidangan yang terlahir dari akulturasi budaya Tionghoa dan Jawa, variasi jenis Wedang Ronde di berbagai wilayah pun ragam. Dalam buku Indonesian Delicacies, wedang biji coki sebagai nama lain dari wedang ronde yang gulanya terbuat dari gula putih. Kuahnya pun putih bening tidak kecoklatan.

Wedang yang berarti minuman hangat dalam bahasa Jawa ini sudah tak asing lagi bagi masyarakat Indonesia.Ronde sendiri berasal dari kata Belanda rond yang artinya bulat. Bentuk jamak dalam bahasa Belanda menggunakan akhiran ‘je’ sehingga rondje menjadi sebutan lidah Belanda untuk Wedang yang satu ini. Seiring berjalannya waktu, pengucapan rondje yang terasa sulit di lidah lokal berubah menjadi ronde. Wedang ronde menjadi kuliner yang bisa dinikmati sepanjang tahun oleh rakyat Indonesia karena harganya yang terjangkau dan juga manfaatnya bagi kesehatan. Musim pancaroba paling pas rasanya makan kuah jahe ini untuk mengingkatkan stamina tubuh. Aroma kuah jahe dan rebusan daun pandan yang wangi menguar saat semangkuk Wedang Ronde disajikan sungguh menghangatkan tubuh dan juga hati.

Jelang tanggal 22 Desember ini apakah Kawan GNFI sudah mencoba membuat sendiri Wedang Ronde? Membuat bersama dan menikmati bersama keluarga di kala musim penghujan tentu akan semakin mempererat hubungan dengan anggota keluarga!

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

YS
KO
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini