Pasuruan, Sejarah Kejayaan Bumi Untung Suropati sebagai Kota Metropolis Masa Kolonial

Pasuruan, Sejarah Kejayaan Bumi Untung Suropati sebagai Kota Metropolis Masa Kolonial
info gambar utama

#WritingChallengeKawanGNFI #CeritadariKawan #NegeriKolaborasi #MakinTahuIndonesia

Pasuruan merupakan salah satu daerah di Jawa Timur yang berada di jalur utama pantai utara yang menghubungkan Pulau Jawa dan Bali. Tepatnya pada persimpangan regional Surabaya – Probolinggo – Malang.

Nama Pasuruan pertama kali dicetuskan oleh Raja Hayam Wuruk dengan sebutan “Pasoeroean”. Literatur lain menyebutkan Pasuruan dikenal dengan sebutan “Paravan” pada masa Kerajaan Airlangga. Pasuruan terbagi menjadi wilayah kabupaten dan kota. Kabupaten Pasuruan menjadi salah satu kebupaten tertua di Jawa Timur yang berusia hampir 1.100 tahun karena telah eksis sejak tahun 929. Adapun Kota Pasuruan dibentuk pada tahun 1686 bertepatan dengan pengangkatan Untung Suropati sebagai Adipati Pasuruan.

Untung Suropati sebagai Adipati Pasuruan (1686 – 1706)

Untung Suropati | Foto :https://puriagungdenpasar.com/
info gambar

Dilansir dari media Kompas, Untung Suropati merupakan salah satu adipati yang memimpin pemerintahan Pasuruan selama 20 tahun (1686 -1706) dan mendapat gelar Raden Adipati Tumenggung Wiranegara. Sebagai upaya menjaga dan melindugi rakyat Pasuruan, Untung Suropati harus terlibat dalam berbagai pertempuran melawan tentara kompeni Belanda. Atas perjuangannya, Untung Suropati di nobatkan sebagai pahlawan nasional berdasarkan S.K Presiden No. 106/TK/1975 pada 3 November 1975. Untung Suropati juga dikenang sebagai tokoh pahlawan di Pasuruan. Maka tak heran jika Pasuruan dikenal sebagai Bumi Untung Suropati. Nama Untung Suropati juga diabadikan sebagai nama tempat, jalan, dan gedung-gedung penting di Pasuruan.

Selama menjadi raja, Untung Suropati menjalankan pemerintahan dengan sangat baik dan selalu mengobarkan semangat juang pada rakyatnya. Oleh karena itu, kekuasaan Untung Suropati mendapat pengakuan dan berhasil menaklukkan daerah sekitarnya. Selama masa pemerintahan Suropati, Pasuruan menjadi daerah yang berkembang pesat dan menjadi pusat perekonomian.

Kejayaan Pasuruan Pada Masa Kolonial

Pasuruan merupakan daerah yang sangat strategis dan memiliki beberapa peran penting baik pada masa kolonialisme. Pemerintah Hindia Belanda menjadikan Pasuruan sebagai Kota Praja (Gementee) pada tahun 1918. Berikut beberapa peran penting Kota Pasuruan pada masa kolonial :

Kota Pelabuhan Kuno dan Kota Bandar

Dilansir dari Kompasiana, pada abad ke-19, Kota Pasuruan dikenal sebagai salah satu kota pelabuhan kuno terbesar di Pulau Jawa. Pelabuhan tersebut bernama Tanjung Tembikar, karena pada masa itu menjadi tempat berlabuhnya pedagang tembikar. Bahkan, menjadi salah satu pusat perdagangan tembikar terbesar.

Tingginya aktivitas perekonomian di pelabuhan inilah yang menjadikan Pasuruan tersohor sebagai salah satu pelabuhan transit dan pusat perdagangan antar pulau di kawasan timur Nusantara hingga pengiriman hasil perkebunan langsung ke Eropa. Selain itu, pelabuhan ini juga dijadikan sebagai jalur angkut hasil bumi dari daerah pedalaman ke pesisir melalui Sungai Gembong. Tak heran jika, Pasuruan juga disebut sebagai Kota Bandar karena menjadi pusat perekonomian dan interaksi dengan kapal-kapal asing sejak masa VOC.

Kota Metropolis dengan Fasilitas dan Tata Kota Modern

Dikutip dari media Antara News, Pasuruan dapat disebut sebagai kota metropolis yang maju pada abad ke-18. Hal ini dapat dilihat dari perkembangan berbagai sektor di Pasuruan. Tidak hanya perekonomian, tetapi juga perindustrian, perkebunan, perdagangan hingga moda transportasi. Dari segi fasilitas, tata kelola kota hingga keragaman masyarakat juga cukup lengkap pada masa itu.

Berdasarkan penelitian Hamdy (2021), pada awal perkembangannya, Kota Pasuruan terdiri dari berbagai etnis, mulai dari Jawa, Cina, Madura, Arab hingga Belanda. Keragaman etnis ini juga mempengaruhi pembagian kawasan hunian yang diatur dalam wijkenstelsel pada tahun 1835.

Pemerintah Hindia-Belanda memberikan kawasan hunian khusus untuk orang Eropa. Kawasan huniannya cukup strategis yaitu di wilayah perkantoran dan politik. Kawasan ini dilengkapi dengan fasilitas hiburan, pendidikan dan rekreasi. Selain itu, juga sudah tersedia sarana olahraga, penerangan listrik dan penyediaan air. Dilansir dari media Jawa Pos Radar Bromo, Pemerintah Hindia-Belanda membangun gedung Societeit Harmonie (saat ini SMK Untung Suropati) pada tahun 1858 sebagai fasilitas hiburan bagi orang Eropa.

Gedung Harmonie Pasuruan | Foto: Bintoro Hoepoedio/https://id.pinterest.com/
info gambar

Gedung ini biasa digunakan untuk pertemuan, bersantai menikmati pertunjukan hingga pengundian loterij (lotre). Didalamnya dilengkapi dengan fasilitas yang sangat komplit, diantaranya yaitu aula dansa, billyard, gudang minuman, panggung pertunjukan, ruang pertemuan, tempat makan, dan penginapan. Adapun fasilitas pendidikan khusus yang tersedia untuk anak keturunan Belanda berupa pembangunan sekolah le European School. Selain itu, juga dibangun sekolah khusus untuk orang pribumi dan Timur Asing, diantaranya Rajat School sebagai sekolah untuk pribumi dan Dutch-Chinese School untuk orang Cina. Selanjutnya, fasilitas rekreasi disediakan dalam bentuk pembangunan taman kota pada tahun 1932 dengan desain lantai dansa, ruang bioskop dan lapangan tenis.

Menurut Malikha & Sukaryanto (2019), Selain kompleksitas tata kelola dan kawasan hunian, Kota Pasuruan juga dilengkapi dengan fasilitas transportasi penting dan modern. Salah satunya adalah trem sebagai moda angkutan dalam kota. Untuk mendukung pembangunan dan pengoperasian trem di Kota Pasuruan, akhirnya didirikan sebuah perusahaan trem uap bernama Pasoereoean Stoomtram Maatschappij (PsSM) pada tahun 1895. Pengadaan Stasiun ini berperan sebagai tempat pemberhentian trem dan memunculkan pedagang di sekitar stasiun. Adanya stasiun inilah yang memicu berdirinya pasar di sekitar stasiun dan mendorong perekonomian masyarakat semakin maju.

Kota Kejayaan Gula

Gedung P3GI | Foto : https://radarbromo.jawapos.com/
info gambar

Pasuruan disebut sebagai Kota Kejayaan Gula karena pada masa kolonial, Pasuruan menjadi sentra pengelolaan industri gula, khususnya untuk Nusantara bagian timur. Hal ini dibuktikan dengan pembangunan Gedung Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI). Menurut Cahyono (2019), Gedung P3GI didirikan pada 9 Juli 1887 dengan nama Proefstation Oost Java (POJ). Masyarakat setempat pada masa itu menyebutnya dengan nama Gedung Prop. Gedung ini memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi, bahkan menjadi salah satu gedung terbesar sekaligus tertua di Kota Pasuruan. Sesuai dengan namanya, gedung ini berfungsi sebagai tempat penelitian pertanian dan perkebunan Gula. Selain penelitian, gedung P3GI juga digunakan sebagai tempat untuk mengkaji dan menghasilkan teknologi dan produk yang berkaitan dengan gula. Bahkan, P3GI berperan besar dalam perkembangan gula dunia pada separuh awal abad ke-20. Menurut Malikha & Sukaryanto (2019), Kondisi ini juga memicu perkembangan pabrik industri yang semakin menjamur di daerah Pasuruan. Pada tahun 1828 di Pasuruan terdapat 21 pabrik gula, satu tahun kemudian jumlah pabrik gula bertambah menjadi 51 buah. Selanjutnya pada tahun 1831 jumlahnya mencapai 91 buah sampai yang kecil-kecil milik Cina dengan hasil produksinya mencapai 29.513 pikul per tahun.

Kota Pasuruan mencapai zaman kejayaan dan keemasannya pada zaman Hindia-Belanda, sehingga banyak mengandung cerita dan bangunan bersejarah yang eksis hingga saat ini. Namun, cerita sejarah tentang Bumi Untung Suropati ini belum banyak dieksplorasi. Padahal, kisah sejarah ini bisa menjadi kebanggaan bagi masyarakatnya dan kabar baik untuk Indonesia.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

NM
KO
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini