Rumah Adat Bolon Khas Suku Batak: Sejarah, Keunikan, dan Filosofinya

Rumah Adat Bolon Khas Suku Batak: Sejarah, Keunikan, dan Filosofinya
info gambar utama

Indonesia terkenal dengan keanekaragamannya mulai dari suku, agama dan ras. Namun hal tersebut tidak menjadikan batas toleransi antar individunya. Banyaknya keanekaragaman perbedaan di Indonesia masing-masing memiliki ciri khas tersendiri. Suku Batak contohnya, suku terbesar di Indonesia yang mendiami pulau Sumatera.

Suku Batak sendiri memiliki beberapa keunikan mulai dari bahasa, alat musik tradisional, hingga rumah adatnya yang disebut Rumah Bolon. Rumah adat yang memiliki ciri khas atapnya tinggi dan berukuran luas.

Rumah Bolon memiliki makna rumah besar, karena memang ukurannya cukup besar. Perancang dari Rumah Bolon adalah arsitektur kuno Simalungun. Rumah adat Bolon ini sekaligus menjadi simbol status sosial masyarakat Batak yang tinggal di Sumatera Utara. Dulu rumah adat Bolon ditinggali para raja di Sumatera Utara.

Nah agar kamu lebih mengenal Rumah Bolon, rumah adat Suku Batak ini, berikut Kawan GNFI rangkum beberapa fakta menarik tentang Rumah Bolon.

1. Hunian Para Raja

Rumah Adat Bolon Khas Suku Batak yang dahulu menjadi hunian raja raja Batak

Ruma Bolon, juga disebut sebagai Jabu Bolon, adalah bentuk rumah tradisional suku Batak Toba yang berasal dari daerah Sumatra Utara, Indonesia. Dahulu, Ruma Bolon adalah tempat tinggal dari 13 raja yang tinggal di Sumatra Utara.

13 Raja tersebut adalah Raja Ranjinman, Raja Nagaraja, Raja Batiran, Raja Bakkaraja, Raja Baringin, Raja Bonabatu, Raja Rajaulan, Raja Atian, Raja Hormabulan, Raja Raondop, Raja Rahalim, Raja Karel Tanjung, dan Raja Mogam.

Raja pertama yang membangun dan menempati rumah ini adalah Raja Tuan Rahalim yang merupakan seorang raja yang pernah berjaya di Simalungun pada pertengahan abad ke-19.

Rumah Bolon pertama kali dibangun pada tahun 1864 di Desa Pematang Purba, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara.

Setelah kekuasaan raja terakhir yang menempati Rumah Bolon ini yaitu Tuang Mogang Purba berakhir, pewaris terakhirnya menyerahkan rumah tersebut kepada pemerintah daerah Sumatera Utara hingga diakui secara nasional sebagai perwakilan rumah adat Sumatera Utara.

Seiring berjalannya waktu, Rumah Bolon digunakan oleh masyarakat dari kalangan biasa dan dihuni oleh sekitar 5 hingga 6 anggota keluarga di dalamnya.

Rumah ini memiliki tiga bagian yaitu atap, rumah utama, dan kolong. Bagian atap disimbolkan sebagai dimensi kehidupan paling tinggi dan merupakan tempat para dewa. Bagian lantainya merupakan dimensi kedua yang menggambarkan dimensi kehidupan manusia di dunia. Bagian kolong disimbolkan sebagai dimensi ketiga yang menggambarkan dimensi paling bawah yaitu dunia kematian.

2. Atap yang Menyerupai Pelana Kuda

Rumah Adat Bolon Khas Suku Batak memiliki atap berbentuk pelana kuda

Rumah Bolon memiliki gaya arsitektur yang khas dan dapat dilihat dari desain atapnya yang menyerupai pelana kuda atau tanduk kerbau.

Atapnya dibuat cukup tinggi dengan sudut-sudut yang kecil dan biasanya dihias dengan lukisan atau ukiran khas Sumatera Utara.

Bangunannya berbentuk persegi panjang dengan konstruksi rumah panggung. Tiang-tiang penyangga yang digunakan untuk menyangga bagian rumah utama memiliki tinggi sekitar 1,75 meter.

Tingginya Ruma Bolon menyebabkan penghuni rumah atau tamu yang hendak masuk ke dalam rumah harus menggunakan tangga.[2] Tangga Ruma Bolon terletak di tengah-tengah badan rumah. Hal ini mengakibatkan jika tamu atau penghuni rumah harus menunduk untuk berjalan ke tangga.


Bagian dalam Ruma Bolon adalah sebuah ruang kosong yang besar dan terbuka tanpa kamar. Rumah berbentuk persegi empat ini ditopang oleh tiang-tiang penyangga. Tiang-tiang ini menopang tiap sudut rumah termasuk juga lantai dari Ruma Bolon. Ruma Bolon memiliki atap yang melengkung pada bagian depan dan belakang. Ruma Bolon memilik atap yang berbentuk seperti pelana kuda.

Bagian bawah Rumah Bolon biasanya dimanfaatkan untuk area kandang hewan ternak. Dindingnya dibuat tidak terlalu tinggi bahkan cenderung pendek tanpa plafon. Meskipun pendek, orang di dalamnya masih dapat berdiri dengan nyaman.

Baca juga: Mengenal Rumah Sulah Nyanda, Rumah Adat dari Suku Baduy

3. Ruangan dengan Ketentuan Adat yang Khas

Rumah Adat Bolon Khas Suku Batak yang memiliki gaya bangunan unik

Rumah Bolon terbagi menjadi beberapa ruangan dengan fungsinya yang diatur oleh ketentuan adat Suku Batak seperti.

1. Ruang Jabu Bong

Ruangan ini berfungsi sebagai ruang khusus untuk kepala keluarga dan terletak di sudut kanan rumah.

2. Ruang Jabu Soding

Ruangan ini berfungsi sebagai ruang khusus untuk anak perempuan dan terletak di sudut kiri rumah yang berhadapan dengan Ruang Jabu Bong.

3. Ruang Jabu Suhat

Ruangan ini berfungsi sebagai ruang khusus untuk laki-laki yang sudah menikah dan terletak di depan sudut kiri rumah.

4. Ruang Tampar Piring

Ruangan ini berfungsi sebagai ruang untuk menyambut tamu dan terletak di sebelah Ruang Jabu Suhat.

5. Ruang Jabu Tonga Rona Ni Jabu Rona

Ruangan ini berfungsi sebagai tempat berkumpul keluarga dengan ukuran yang paling luas diantara ruangan lainnya.

6. Kolong

Ruangan ini adalah sebuah ruang kosong yang terletak di bawah rumah dan digunakan sebagai kandang hewan ternak atau menyimpan bahan makanan.

4. Setiap Bagian Rumahnya Memiliki Filosofi Hidup Tersendiri

Rumah Adat Bolon Khas Suku Batak memiliki filosofi hidup dan alam

Sebagaimana masyarakat Indonesia yang selalu menjaga adat dan budayanya, Suku Batak menjadikan Rumah Bolon sebagai makna dari kehidupan manusia dan hubungannya dengan alam.

Konstruksinya yang menyerupai panggung berbentuk persegi panjang dan atap yang tinggi disimbolkan sebagai seekor kerbau yang sedang berdiri. Kerbau sendiri merupakan hewan ternak yang sangat dihormati dan menjadi komoditas utama masyarakat Suku Batak.

Ukiran yang ada di Rumah Bolon terletak di atas pintu bagian depan dan dikenal dengan sebutan Gorga. Selain untuk mempercantik rumah, Gorga disimbolkan sebagai kebenaran bagi orang Batak, artinya manusia harus mengetahui hukum yang diturunkan oleh Tuhan Mulajadi Nabolon.

Dekorasi Rumah Bolon diambil dari tengkorak kerbau dan dipajang di bagian depan rumah. Jumlah tengkorak kepala kerbau yang dipasang di depan rumah menandakan tingkat kemakmuran penghuni rumah. Semakin banyak jumlahnya, maka semakin makmur penghuni rumah yang tinggal di dalamnya.

Jika kalian mengamati struktur bangunan Rumah Bolon, terdapat anyaman pada bagian atapnya yang dapat diwarnai dengan berbagai warna sesuai pilihan penghuni rumah. Warna tersebut menggambarkan kepribadian dari pemilik rumah. Warna-warna yang biasanya banyak digunakan adalah hitam, putih, dan merah.

Nah itu artikel singkat mengenai Rumah Bolon, bangunan adat masyarakat Suku Batak yang menjadi pusat kegiatan adat dan kehidupan Suku Batak.

Semoga dengan artikel ini kamu lebih mengenal mengenai rumah dan bangunan adat di Indonesia dan bangga menjadi Bangsa Indonesia!

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Phyar Saiputra lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Phyar Saiputra.

Terima kasih telah membaca sampai di sini