Rencana 11 Tahun, Apa Kabar Bukit Algoritma yang Jadi Silicon Valley-nya Indonesia?

Rencana 11 Tahun, Apa Kabar Bukit Algoritma yang Jadi Silicon Valley-nya Indonesia?
info gambar utama

Ada cerita kesuksesan Steve Jobs yang merintis bisnis raksasa teknologi Apple dari garasi rumah. Ada pula kisah Mark Zuckerberg yang menciptakan jejaring Facebook yang sangat terkenal, juga bermula dari kamar sempit di asrama.

Kisah-kisah lahirnya perusahaan-perusahaan besar bidang teknologi itu memiliki kesamaan, yaitu bermula dari satu kawasan yang berada di California, Amerika Serikat yang kini disebut Silicon Valley.

Silicon Valley sukses jadi magnet sekaligus mesin penggerak banyak perusahaan teknologi sekaligus jadi ‘bidan’ lahirnya ribuan perusahaan rintisan atau startup terkemuka di kancah global.

Siapa yang tidak tergiur mengikuti jejak kesuksesan Silicon Valley? Ada motif perputaran ekonomi, tidak heran banyak negara di dunia menduplikasi dan membentuk pusat teknologi seperti itu. Banyak kota besar dari berbagai negara di dunia melabeli kota atau wilayah mereka menjadi The Next “Success” Silicon Valley.

Tak terkecuali Indonesia. Beberapa lokasi yang sempat digadang-gadang jadi Silicon Valley Indonesia antara lain Malang, Yogyakarta, BSD Serpong, dan beberapa daerah lainnya. Yang paling menarik perhatian publik sampai saat ini, muncul istilah Bukit Algoritma yang dibangun pusat riset dan teknologi di Cikidang dan Cibadak Sukabumi, Jawa Barat.

Politisi PDIP sekaligus Pendiri Gerakan Inovator Budiman Sudjatmiko yang menjadi sosok pemimpin megaproyek ini. Budiman mengatakan proyek ini digagas oleh Kiniku Bintang Raya KSO yang merupakan gabungan antara PT Kiniku Nusa Kreasi dan PT Bintang Raya Loka Lestari, dengan pendelegasian pekerjaan konstruksinya kepada PT Amarta Karya (Persero).

Tahapan awal biaya investasi untuk mega proyek ini diperkirakan memakan biaya hingga Rp18 triliun. Budiman menjelaskan dana investasi itu tak sepeserpun mencomot biaya APBN maupun APBD. Melainkan murni dari swaswa yang diperoleh dari investor dalam maupun luar negeri.

“Dari Arab sudah ada minat. Selain itu Eropa juga Amerika Utara, tapi komitmen baru dapat dari salah satu negara Amerika Utara itu,” ungkap Budiman dikutip CNBC Indonesia (18/04/21).

Adapun roadmap pembangunan kawasan itu akan difokuskan untuk science park, gedung penelitian yang akan disewakan untuk teknologi kuantum dan kecerdasan buatan, rekayasa nano untuk teknologi bangunan, penelitian otak dan rekayasa genetika, produksi obat-obatan.

Ada pun dibangun bangunan riset untuk komponen semikonduktor, pabrikasi otak komputer, serta energy storage berbentuk baterai.

Satu tahun lebih berselang setelah proyek Bukit Algoritma menjalani peletakan batu pertamanya (groundbreaking) pada 9 Juni 2021. Proyek yang akan dibangun di atas lahan seluas 888 hektare itu ternyata belum terlihat kegiatan lagi. Hal ini pernah diungkapkan Kepala Desa Pangkalan, Kecamatan Cikidang, Usep Sapulrohman saat dikonfirmasi Republika.

Pembangunan seluas itu nantinya tidak hanya melewat Desa Pangkalan, tapi juga mencakup Desa Cicareuh, Desa Tamansari, dan Desa Neglasari.

Masih Ada Sisa Waktu 10 Tahun Lagi, Coba Aset Kripto

Untuk kita bisa melihat wujud Silicon Valley Indonesia ini, Budiman pernah mengatakan bawah sedikitnya butuh waktu selama 11 tahun untuk menyelesaikan konstruksi mega proyek ini.

“Pembangunan tahap pertama 33 hektare untuk infrakstruktur dasar, taman science, taman pusat kesehatan, pusat pengembangan pangan dan gizi, penginapan, pusat kebugaran, plaza edutainment di tiga tahun pertama,” jelas Budiman dikutip CNBC Indonesia (18/4/21).

Selanjutnya tahap kedua akan memakan waktu lima tahun, disusul tahap terakhir selama tiga tahun.

Informasi terakhir, dikutip dari SukabumiUpdate.com (26/12/22), muncul kabar pembangunan Bukit Algoritma tidak hanya dilakukan dengan uang fiat (uang yang diterbitkan bank sentral). Tersendatnya pemasukan uang investor, proyek tersebut menggandeng teknologi blockchain dan kripto.

Hal ini dijelaskan langsung oleh Budiman bersama COO PT Gaharu Indonesia Prima (Lobo Investment), Bari Arijono.

“Lobo merupakan aset digital membuat tokenisasi semua proyek-proyek properti di dunia dengan platform Binance. Kami mentokenisasi aset properti dan proyek rubah menjadi aset digital menjadi token Lobo,” kata Budiman.

Budiman mengatakan tidak hanya jadi pusat pengembangan teknologi, Bukit Algoritma juga sekaligus merupakan Kawasan Ekonomi Khusus. Sukabumi dipilih karena merupakan kawasan yang cukup strategis karena memiliki modal infrastruktur pendukung seperti Tol Bacimi, Pelabuhan Laut Pengumpal Regional Wisata dan Perdagangan Pelabuhan Ratu, Bandara Sukabumi Cikembar yang akan dibangun, dan Double Track KA Sukabumi.

Untuk selanjutnya pembangunan infrastruktur seperti fasilitas air, jalan, listrik, transportasi publik, dan fasilitas lainnya yang akan jadi fokus serta kunci pembangunan dan pengembangan selanjutnya.

Budiman bilang, “Kami akan melakukan best effort dan best practice, agar proyek ini bisa dilaksanakan dengan lancar.” Seperti yang dikutip Kompas.com (11/4/2021).

Momen yang pas kalau 10 tahun lagi lokasi ini akan terlihat wujud aslinya. Apalagi Budiman bilang Bukit Algoritma bakal dibangun dengan konsep semirip mungkin dengan Silicon Valley di California, Amerika Serikat.

Tahun 2024 nanti, dipuncak optimalisasi bonus demografi Indonesia, Bukit Algoritma bisa jadi salah satu wujud tangguh pembangunan sumber daya manusia berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi yang akan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Koleksi Wilayah Silicon Valley di Indonesia

Sebelum Bukit Algoritma, sebenarnya Indonesia punya beberapa tempat yang sebelumnya juga jadi tempat pengembatagan teknologi. Tak jarang tempat-tempat ini pula melabeli dirinya sendiri sebagai The Next Silicon Valley.

Sebut saja Sinarmas Land Group yang menginisiasi pengembangan kawasan berbasis IT ini yang belakangan mengubah brand-nya menjadi Digital Hub BSD City. Di sini sudah ada perusahaan raksasa IT semacam Apple, Oracle, Gran Indonesia, Huawei, Traveloka, Amazon Web Servie, Creative Nest, dan lainnya.

Kemudian ada pula PT Sentul City tbk dengan Sentul City Tech Center yang berdiri di atas lahan 140 hektar di kawasan Sumur Batu.

Ada pula PT Triniti Dinamik yang sedang membangun The Smith yang akan jadi ikon The Next Silicon Valley di Alam Sutera, Serpong, Tangerang.

Yang terbaru, masih berada di kawasan Jawa barat juga ada PT Surya Semesta Internusa TB yang mengembangkan Subang Smarpolitan, kota industri yang diklaim berbasis teknologi informasi berkelanjutan.

Sumber: CNBC Indonesia, Kompas.com, CNN Indonesia, Republika, SukabumiUpdate.com

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dini Nurhadi Yasyi lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dini Nurhadi Yasyi.

DY
SA
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini