Pantai Baron Gunung Kidul - Menguak Kisah Bule Sakti yang Jadi Legenda Pantai ini

Pantai Baron Gunung Kidul - Menguak Kisah Bule Sakti yang Jadi Legenda Pantai ini
info gambar utama

Pantai Baron adalah satu diantara dari banyak pantai yang menghiasi pesisir Selatan Jawa. Terletak di Desa Kemadang, Kecamatan Tanjungsari, Gunung Kidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta ini dapat ditempuh sekitar 2 jam dari pusat kota Yogyakarta.

Bagi orang Jawa, nama Baron ini tidak mencerminkan kosata bahasa Jawa. Ini dapat dibenarkan karena nama pantai ini memang berasal dari salah satu Kolonialis Belanda yang pernah menguasai daerah ini.

Seperti apa kisahnya ?, simak ulasan singkat berikut ini,

Kisah Penamaan Pantai Baron dari Kolonialis Belanda

Nama pantai ini merujuk pada tokoh ketoprak Baron Sekeber. Tidak seperti tokoh ketoprak pada umumnya, si Baron Sekeber ini seorang bangsawan Belanda (ada juga yang bilang Spanyol atau Portugis) dengan ilmu kesaktian tinggi, bahkan pernah melawan Panembahan Senopati sang pendiri Kesultanan Mataram.

Nah, pada tahun 1930-an, pantai ini digunakan sebagai tempat persembunyian dan penyimpanan senjata oleh Belanda, namun belum banyak warga lokal yang tinggal di sekitarnya pada saat itu.

Karakteristik Pantai Baron

Pantai berbentuk "U" ini diapit oleh dua barisan karang di kedua sisinya, yang berfungsi menahan gelombang laut selatan yang terus mengganas tiada henti.

Di sisi barat, terdapat aliran sungai air tawar yang entah muncul dari mana. Sungai yang hanya sepanjang beberapa ratus meter ini bermuara tepat di pinggir pantai, menyajikan pemandangan unik saat air tawar dan air laut saling menyapa satu sama lain.

Warna air sungai bawah tanah yang kehijauan berpadu sempurna dengan tanaman hijau di atasnya, sebelum akhirnya bertabrakan dengan air laut yang kebiruan.

Pasirnya memang tidak terlalu putih, namun tergolong cantik ketika berpadu dengan dua bukit karang yang menjulang tinggi di sekitarnya.

Di sini, kalian tidak disarankan untuk berenang karena keganasan ombak Samudra Hindia sewaktu-waktu bisa menyeret kalian ke tengah lautan.

Tapi tak perlu khawatir, kalian masih bisa menikmati birunya laut dari atas kapal sewaan untuk berkeliling di sekitar area Pantai Baron.

Keindahan panorama Pantai Baron disempurnakan oleh melimpahnya ikan dan kapal-kapal nelayan yang beristirahat di bibir pantai.

Melirik Kemegahan Mercusuar di Atas Bukit Karang

Jika kalian menatap bagian sisi Timur Pantai Baron, kalian akan mendapati sebuah menara putih yang menjulang tinggi di dekat jurang.

Menurut petugas penjaga mercusuar, menara putih ini baru dibangun pada bulan Februari 2014 dan diresmikan pada bulan Desember tahun yang sama.

Mercusuar setinggi 40 meter ini didirikan untuk menggantikan mercusuar lama yang berada di sampingnya, berupa menara besi yang terlihat sudah sangat keropos.

Fungsi tetap sama yakni sebagai pemandu kapal yang melintas meskipun kebanyakan kapal sudah memiliki alat navigasi yang lebih canggih.

Rute ke Pantai Baron dari Pusat Kota Yogyakarta

Jika kalian berangkat dari pusat kota Yogyakarta, jarak yang ditempuh ke Pantai Baron adalah 57,3 km dengan waktu yang dihabiskan sekitar 1 jam setengah hingga 2 jam.

Akses ke Pantai Baron tergolong nyaman dilalui kendaraan sebab sebagian besar telah mulus dengan aspal.

Ada beberapa alternatif rute ke Pantai Baron yang kalian dapat gunakan, yaitu:

  • Melalui Piyungan, Yogyakarta : Patuk-Sambipitu-Hutan Bunder-Bunderan Tugu BPD, Jalan Lingkar Selatan-Jalan Girisubo-Wonosari-Jalan Saptosari-Tepus-Pantai Baron.

  • Melalui Imogiri, Yogyakarta : Panggang-Jalan Saptosari-Tepus-ikuti arah Pantai Baron.

Harga Tiket Masuk Pantai Baron

Untuk masuk ke Pantai Baron, kalian mesti merogoh kocek sebesar Rp 10.000. Tiket tersebut sekaligus sebagai akses ke Pantai Krakal maupun Pantai Kukup.

Fasilitas Pantai Baron

Pantai Baron memiliki beberapa fasilitas yang dapat kalian maksimalkan seperti;

  • Tempat pelelangan ikan
  • Wahana permainan anak-anak
  • Perahu bermesin untuk mancing
  • Toko cenderamata
  • Toilet

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Achmad Faizal lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Achmad Faizal.

Terima kasih telah membaca sampai di sini