Torang Samua Basudara, Prinsip Hidup Rukun dan Penuh Toleransi di Sulawesi Utara

Torang Samua Basudara, Prinsip Hidup Rukun dan Penuh Toleransi di Sulawesi Utara
info gambar utama

Indonesia dihuni oleh masyarakat yang majemuk. Berbagai macam etnis, ras, kepercayaan, dan agama, berkumpul di sini. Alangkah indahnya jika perbedaan tersebut tidak menimbulkan pertentangan, tapi justru persatuan, saling menghargai, dan toleransi.

Itulah yang dijaga oleh masyarakat Sulawesi Utara (Sulut). Daerah ini sangat terkenal dengan semboyan “Torang samua basudara” atau kita semua bersaudara. Inilah kunci yang dipakai orang Sulut dalam menjaga kerukunan dan kedamaian dalam bermasyarakat. Semboyan itu menjadi pegangan mereka ketika terjadi perang saudara atas nama suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA) di Indonesia.

Satwa Misterius Terpantau di Belantara Sulawesi Utara

Hasilnya, Bumi Nyiur Melambai mampu menangkal konflik tersebut, sehingga tak pernah terjadi perselisihan mengenai SARA di seluruh Sulut.

Provinsi Sulut yang beribukota Manado merupakan tempat tinggal berbagai etnik, seperti Minahasa, Makassar, Bugis, Jawa, dan Bima. Umat agama di sini juga beragam, mulai dari Islam, Katolik, Protestan, Hindu, Budha, hingga Konghucu. Keberagaman ini terjalin sangat harmonis sebab para penduduk hidup saling menghormati dan menghargai.

Makna semboyan Torang Samua Basudara

Torang Samua Basudara berarti kita semua bersaudara, meskipun terdapat perbedaan etnik, budaya, dan agama yang mencolok. Lebih luas lagi, kalimat ini dapat ditafsirkan sebagai sikap saling menghormati, mengasihi, menyayangi, menghargai, serta saling mendukung dalam kebaikan.

Hal ini sejalan dengan penggalan falsafah Tou, artinya hidup dengan memanusiakan manusia. Inilah identitas orang Minahasa. Nilai-nilai moral yang diajarkan dalam falsafah tersebut, menjadi cara hidup masyarakat Sulut, sehingga mampu menciptakan sistem masyarakat yang penuh toleransi. Mereka dapat hidup berdampingan, akrab, saling membangun, dan bisa menghilangkan batas-batas perbedaan.

Kalimat Torang Samua Basudara dipopulerkan pertama kali oleh Evert Erenst Magindaan, Gubernur Sulawesi Barat periode 1995-2000. Pada masa kepemimpinan beliau, pernah terjadi konflik agama dan etnik di Poso, Ambon, Ternate, dan Kalimantan. Sulut pun buka pintu menjadi tempat pengungsian para korban yang beragama Islam dan Kristen.

Awalnya semboyan ini hanya berkembang pada suku Minahasa saja. Namun, sekarang ia telah terpatri dalam kehidupan masyarakat Sulut demi merawat keharmonisan antar etnis dan umat beragama. Toleransi yang erat ini bahkan telah berlangsung sejak zaman penjajahan.

Misalnya, bangsa Portugis dan Spanyol diterima untuk berdagang sekaligus menyebarkan ajaran Katolik, Belanda mendirikan sekolah dan faskes sambil menyebarkan ajaran Protestan. Lalu, penerimaan Kiyai Mojo beserta rombongan untuk berkerja sebagai petani dan menyebarkan ajaran Islam di Tonsea juga Tondano.

Torang Samua Basudara bukan sekadar konsep semata, tapi benar-benar berdampak sangat baik terhadap kondusivitas, kerukunan, keamanan, dan toleransi masyarakat di Sulut. Semboyan ini sudah sangat terkenal se-Tanah Air dan di dunia, dilansir dari Unimed.ac.id.

Siau, Surga Tersembunyi di Sulawesi Utara

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Afdal Hasan lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Afdal Hasan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini