Tak Hanya Arak, Ternyata Bali Borong Legalitas 9 Warisan Tak Benda Sekaligus

Tak Hanya Arak, Ternyata Bali Borong Legalitas 9 Warisan Tak Benda Sekaligus
info gambar utama

Dalam rangka implementasi visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali melalui pola pembangunan semesta berencana menuju Bali era baru, banyak usaha Gubernur Bali, Wayan Koster agar visi tersebut bisa diimplementasikan secara realita engan bukti yang nyata.

Yang sempat jadi sorotan sebelumnya, Arak Bali, salah satu minuman beralkohol tradisional asal Bali ini akhirnya terdaftar sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek).

Hal ini tentu jadi angin segar masyarakat adat, perajin produk arak Bali. Sebelumnya para pembuat arak Bali tak terlindungi bahkan para produsen sembunyi-sembunyi karena takut akan ancaman hukuman yang dianggap sebagai pengedar minuman keras.

Ternyata selain arak Bali, Kemendikbudristek juga meloloskan 9 warisan lainnya sekaligus dan dalam satu waktu, yang semuanya berasal dari Bali.

Seperti diketahui, Sidang Penetapan Warisan Budaya Takbenda Indonesia tahun 2022 menghasilkan rekomendasi penetapan sejumlah 200 usulan Warisan Budaya Takbenda Indonesia dari 32 provinsi di Indonesia. Sembilan diantaranya merupakan warisan budaya Bali.

Apa saja itu? Berikut daftar 9 Warisan Takbenda Bali beserta kategori dan penjelasannya.

  1. Arak Bali - Kategori Kemahiran Kerajinan Tradisional

Minuman beralkohol ini memang familiar di Bali, bahkan menjadi sajian yang wajib hadir saat upacara atau kegiatan adat masyarakat Bali. Arak Bali lebih banyak ditemukan di Karangasem dan Buleleng.

Arak Bali yang mengandung ethil alkohol atau etanol ini dibuat dengan cara tradisional yaitu melewati fermentasi dan distilasi dari bahan hasil pertanian yang mengandung karbohidrat. Bahan membuat arak Bali murni sangat beragam tergantung sumber daya alam dan ciri khas desa perajin arak.

Beberapa bahan yang dapat digunakan adalah nira pohon kelapa, pohon enau (aren), dan pohon ental (lontar).

  1. Uyah Amed (Garam Amed) - Kategori Kemahiran Kerajinan Tradisional

Garam Amed–atau dalam bahasa daerah disebut uyah amed–merupakan bumbu asli Karangasem, Bali yang diproduksi dengan metode tradisional langsung oleh petani Pantai Amed. Garam amed sendiri diketahui sudah ada sejak 500 tahun lalu dan jadi primadona bagi Raja Karangasem kala itu.

Secara tekstur, garam amed terlihat dan terasa lebih kasar dibandingkan dengan garam dapur biasa. Sedangkan dari segi warna, tidak terlalu berbeda. Dari segi rasa, garam amed diklaim tidak memiliki rasa pahit sama sekali sehingga buat cira sara berbeda dari kekhasannya itu.

  1. Jaje Laklak - Kategori Kemahiran Kerajinan Tradisional

Jaje laklak adalah salah satu makanan jajanan tradisional Pulau Dewata. Jajanan ini hingga kini masih sering dijual di pasar tradisional atau pasar senggol di Bali.

Sekilas, makanan ini mirip dengan serabi Jawa, tapi sebenarnya memiliki perbedaan bahan dan toppingnya. Makanan ini terbuat dari tepung beras, santan, air daun suji, baking powder, kelapa parut. Nantinya makanan ini disajikan dengan disiram saus gula merah dan gula pasir.

Air daun suji itulah yang jadi ciri khas jaje laklak. Istilah jaje sendiri diartikan sebagai ‘kue’ dalam bahasa bali.

  1. Lontar Bali - Kategori Pengetahuan dan Kebiasaan Perilaku Mengenai Alam dan Semesta

Masyarakat Bali ternyata memiliki keyakinan tersendiri terhadap lontar. Mereka menganggap lontar memiliki arti yang penting karena kaya akan manfaat untuk hidup dan kehidupannya. Lontar dianggap jadi bukti historis peradaban Bali.

Dahulu, lontar Bali kuno digunakan sebagai media komunikasi untuk bersurat kepada kerabat atau buku catatan harian. Namun kini, menulis di atas lontar bukanlah hal yang mudah. Dibutuhkan ketelitian dan kesabaran saat mulai menulis di atas lontar.

Palem biasanya menjadi bahan dasar lontar. Meski begitu palem yang digunakan harus berasal dari tempat-tempat tertentu yang daunnya layak dipakai untuk dijadikan media tulis. Untuk palem yang dianggap paling baik berasa dari daerah kering di utara Kabupaten Karangasem, di sekitar Culik, Kubu, dan Tianyar.

  1. Sate Lilit - Kategori Kemahiran Kerajinan Tradisional

Siapa yang tidak tergiur dengan salah satu makanan khas Bali ini. Sate yang terbuat dari daging babi, ikan, ayam sapi, bahkan kura-kura ini ternyata punya filosofi khusus, yaitu menyimbolkan masyarakat Bali yang selalu bersatu. Itulah kenapa penyajian sate lilit selalu dalam jumlah besar terutama saat kegiatan adat yang mengerahkan banyak orang.

Sate lilit juga ternyata jadi simpol kejantanan pria. Ini karena dahulu kala hanya kaum pria saja yang boleh membuat sate lilit. Mulai dari meracik adonan hingga proses membakar hanya boleh dilakukan kaum pria. Jika seorang pria tidak bisa membuat sate lilit, makan akan dipertanyakan kejantanannya.

  1. Karya Pemijilan Ida Bhatara Sakti Ngerta Gumi - Kategori Adat Istiadat Masyarakat, Ritus, dan Perayaan-Perayaan)

Karya Pemijilan Ida Bhatara Sakti Ngerta Gumi merupakan pujawali di Pura Pesimpenan Gaduk Sakti, Banjar Bingin Desa Adat Selat. Upacara adat ini digelar 10 tahun sekali atau tepat di Tahun baru Saka yang diakhiri angka 0, sedangkan di Tahun Masehi diakhiri angka 8.

Upacara ini merupakan bentuk ungkapan rasa syukur atas kesejahteraan yang diberikan kepada masyarakat. Salah satu prosesi yang paling unik dalam upacara ini adalah saat nasi yang diinjak oleh sayut penuntun, yang nantinya jadi bahan rebutan masyarakat. Ini karena nasi tersebut dipercaya dapat menyembuhkan berbagai jenis penyakit atau bahkan sebagai “pupuk” yang ditaburkan di sawah atau kebun.

  1. Berko - Kategori Seni Pertunjukan

Dalam seni vokal Bali, Berko disebut kekawin dan palawakya. Berko merupakan seni pertunjukan yang diselingi dialog dan nanyian. Nantinya berko dibawakan oleh seorang dalang atau juru tandak dalam bahasa Jawa Kuno atau bahasa kawi.

Berko yang sudah ada sejak tahun 1925 ini diciptakan oleh seorang bernama Pan Mider yang mendapat inspirasi di tengah sawah. Kala itu Pan Mider membuat kesenian ini untuk menghibur warga yang sedang bekerja di sawah.

  1. Mejaran-Jaranan - Kategori Adat Istiadat Masyarakat, Ritus, dan Perayaan-Perayaan

Diambil dari kata ‘jaran’ yang berarti kuda yang memiliki arti filosofi ‘harus dikendalikan’, mejaran-jaranan merupakan permainan tradisional. Tradisi permainan ini biasanya jadi bagian dalam rangkaian piodalan di pura.

Permainan ini nantinya dilakukan oleh sepuluh orang yang dibagi menjadi dua tim. Setiap tim akan membentuk seperti kuda-kudaan, satu orang diangkat dan pemain lainnya jadi penyangga di bawah atau dianggap sebagai tubuh dan kaki kuda. Kedua tim berlomba-lomba untuk menjatuhkan satu orang yang diangkat itu.

Konon permainan tradisional ini lahir untuk mengenang kebesaran Raja Bedahulu yang kehilangan seekor kuda kesayangannya bernama Once Srawana. Untuk menemukan kuda tersebut, raja mengadakan sayembara yang diikuti oleh rakyatnya.

  1. Serombotan - Kategori Kemahiran Kerajinan Tradisional

Masih dari dunia kuliner Bali, serombotan merupakan kuliner dengan bahan sayur-sayuran seperti kangkung, bayam, kacang panjang, buncis, tauge, terong bulang, dan pare. Sayuran tersebut nantinya direbus yang kemudian dicampurkan dengan parutan kelapa yang sudah disangrai di atasnya. Tak lupa disiram oleh bumbu atau sambal pedas.

Sekilas, Orang Sunda melihat ini mirip dengan urap atau ada juga yang menyebutnya sebagai pecelnya Orang bali. Perbedaannya adalah dari segi bumbu yang disiramkan yaitu dengan bumbu khas Bali yang disebut ‘unyah sere limo’ yang terbuat dari cabai, garam, terasi, dan perasan jeruk purut.

Sumber: Detik.com, NusaBali.com, WarisanBudaya.Kemdikbud.go.id, BaliExpress.JawaPos.com, Kompas.com, JalurRempah.Kemdikbud.go.id, Bali.iNews.id, CNNIndonesia.com, HypeAbis.id

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dini Nurhadi Yasyi lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dini Nurhadi Yasyi.

DY
SA
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini