Kemewahan Kain Tenun Sambas, Sudah Ada Sejak Abad ke-17

Kemewahan Kain Tenun Sambas, Sudah Ada Sejak Abad ke-17
info gambar utama

Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, terkenal dengan kain tenun Sambas. Kerajinan ini dilestarikan oleh masyarakat Melayu di sana. Kepopulerannya bahkan menembus pasar mancanegara. Motifnya yang rumit menjadi ciri khas kain ini.

Sebagai kerajinan yang melekat menjadi identitas Kalimantan Barat, kain tenun Sambas telah didaulat sebagai warisan budaya tak benda oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada 2010. Selain itu, masyarakat Sambas juga berhasil memecahkan rekor MURI (Museum Rekor Indonesia) dengan menciptakan kain tenun Sambas sepanjang 161 meter, 100 motif, dan dikerjakan selama 16 bulan pada 28 Oktober 2014.

Kain tenun Sambas terkenal sangat mahal. Hal ini disebabkan oleh proses pembuatannya yang rumit. Eksistensi kain tenun Sambas hingga kini tidak terlepas dari asal usulnya di masa lampau.

Jeruk Sambas, Buah Ikonik yang Gerakkan Ekonomi Masyarakat Kalbar

Dikembangkan sejak zaman Kerajaan Alwatzikhoebillah

Istilah tenun dan ikat diperkenalkan pertama kali oleh G.P. Rouaffen, ahli etnografi Indonesia asal Belanda pada 1900. Namun, kain Sambas diduga telah ada sejak abad ke-17. Sebelum memasuki era kolonialisme, Kabupaten Sambas merupakan kerajaan yang berpusat di istana Alwatzikhoebillah (abad 17).

Pada masa inilah, masyarakat Melayu Sambas mulai menenun untuk kebutuhan adat dan perdagangan. Semua acara kerajaan membutuhkan kain tenun Sambas sebagai pakaian kebesaran.

Sebuah kain tenun antik berusia ratusan tahun masih tersimpan rapi di istana sampai sekarang. Itulah yang disebut membuktikan keberadaan tenun Sambas di masa lampau.

Ketika Belanda masuk ke wilayah Sambas, aktivitas menenun ini tidak terhenti. Kompeni membebaskan masyarakat untuk berakvititas, terutama memproduksi komoditas perdagangan yang laku di pasar Eropa, termasuk kain Sambas. Dahulu, bahan utama pembuatan kain tenun Sambas sangat mudah diperoleh dari pedagang Tiongkok dan India.

Laju perdagangan kain Sambas sangat lancar. Namun, Jepang mengacaukan semuanya. Bisnis ini terus melambat hingga mengalami kemunduran akibat kesulitan mendapatkan bahan baku.

Di samping itu, kekerasan oleh para tentara Jepang, menyisakan trauma mendalam bagi rakyat Sambas yang berdampak pada penurunan produktivitas.

Seiring berjalannya waktu, tenun Sambas pun diproduksi kembali secara masif pada awal 1960-an. Banyaknya pesanan dari dalam dan luar Kabupaten Sambas, mendorong penenun baru bermunculan. Kain Sambas bahkan sampai ke pasar Serawak dan Brunei Darussalam. Industri tenun tradisional ini pun berkembang pesat.

Akan tetapi, memasuki tahun 1990-an, ekspor tenun Sambas kembali mengalami penurunan yang drastis, terutama ke pasar langganan, Malaysia dan Brunei.

Selain jumlah produksi yang mengecil, kondisi ini juga disebabkan oleh kedua negara itu telah memproduksi kain tenun sendiri yang dikerjakan oleh para perajin. Beberapa di antara mereka bahkan berasal dari Sambas.

Sejarah Di Balik Bubur Pedas Kuliner Khas Sambas Kalimantan Barat

Ciri khas tenun Sambas

Ciri khas kain tenun Sambas terlihat pada motifnya yang bergaya Melayu dihiasi benang berwarna kuning keemasan dan perak. Sebagian orang menyebutnya kain benang emas. Hal lain yang membedakan kain tenun asal Sambas dengan daerah lain di Indonesia yaitu bagian pinggir kain berwarna putih polos.

Beberapa motif kain tenun Sambas yang paling terkenal, antara lain: rebung dan tanaman kangkung sungai. Motif rebung diberikan pada kepala kain dan kaki kain, sedangkan kangkung sungai ditempatkan di bagian tengah kain. Penempatan tersebut telah sesuai pakem yang diwarisi secara turun temurun. Para perajin biasanya melakukan variasi hanya di bagian pinggir kain.

Motif-motif tersebut menggambarkan profesi mayoritas perempuan Sambas sebagai ibu rumah tangga yang sering berhubungan dengan sayur-mayur. Kemudian, pewarnaan kain tenun Sambas tidak menggunakan bahan kimia, melainkan zat yang berasal dari lingkungan sekitar, misalnya akar tanaman, daun, dan batang.

Kerajinan tenun Sambas umumnya dikerjakan oleh kaum perempuan. Proses pembuatannya terbilang rumit dan menghabiskan waktu yang lama, paling cepat satu bulan, tergantung tingkat kerumitannya.

Dimulai dari pemintalan benang, mengikat benang untuk membentuk motif, pewarnaan dengan larutan khusus, sampai terakhir menenun. Pengerjaan ini membutuhkan keahlian serta ketekunan yang mumpuni.

Hingga kini, penenun Sambas masih menggunakan peralatan tradisional, sehingga waktu yang terpakai lebih lama dibandingkan mesin. Inilah yang membuat sehelai kain tenun Sambas dijual sangat mahal. Harga paling murah untuk satu kain saja berkisar Rp2 juta, itu belum disulap menjadi pakaian.

Zaman sekarang, kain ini tidak hanya dikenakan pada upacara adat saja, tapi juga acara-acara non formal. Orang-orang pun sudah memodifikasi kain ini menjadi ragam busana modern hingga furnitur yang ciamik.

"Air Sambas", Bus Offroad di Ujung Borneo dengan Romansa Tornado

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Afdal Hasan lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Afdal Hasan.

AH
SA
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini