3 Bendung Cascade di Sungai Citarum yang Bermanfaat Bagi Kehidupan

Jauhar Zainalarifin

Berjuang, berusaha, bersyukur

3 Bendung Cascade di Sungai Citarum yang Bermanfaat Bagi Kehidupan
info gambar utama

Sungai Citarum merupakan salah satu sungai utama dan terbesar di Provinsi Jawa Barat yang melewati 12 wilayah kabupaten/kota, dintaranya adalah Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Cianjur, Kabupaten Sumedang, Kabupaten Bogor, Kabupaten Purwakarta, Kabupaten Bekasi, Kabupaten Karawang, Kabupaten Indramayu, Kabupaten Subang, Kota Bandung, dan Kota Cimahi.

Hulu sungai yang melintang sepanjang 267 kilometer ini terletak pada Situ Cisanti yang terletak di kaki Gunung Wayang, sementara hilir sungainya terletak di Muara Gembong, Kabupaten Bekasi. Sungai ini dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar terutama untuk pemenuhan kebutuhan air.

Kondisi wilayah sekitar daerah aliran sungai ini memiliki curah hujan yang cukup tinggi yaitu sebesar 1000 hingga 4000 milimeter pada kawasan hulu. Kondisi air yang sangat melimpah tersebut memungkinkan sungai ini untuk pemanfaatan yang lebih besar, yaitu pembangkit listrik tenaga air (PLTA).

PLTA yang dikelola pada Sungai Citarum ini terletak pada tiga bendungan besar sepanjang daerah aliran sungai. Kondisi ketinggian yang secara dinamis berpotensi untuk dibuatkan bendungan air yang secara berseri atau bertingkat, hal ini sering dikatakan juga sebagai bendung cascade.

Sebanyak enam bendung cascade yang terdapat di Sungai Citarum, tiga diantaranya merupakan bendungan besar yaitu Bendung Saguling, Bendung Cirata, dan Bendung Ir. H. Djuanda atau lebih dikenal sebagai Bendung Jatiluhur. Bendungan tersebut berfungsi sebagai pendukung sistem irigrasi pertanian, pembangkit listrik, dan suplai air baku.

Bendung Saguling merupakan bendungan besar yang terletak pada bagian hulu Sungai Citarum yang dibangun pada tahun 1981 hingga 1986 yang dapat menampung air sebanyak 900 juta m3. Bendungan ini difungsikan sebagai penyedia air serta pembangkit listrik yang dikenal sebagai PLTA Saguling dengan kapasitas 700 megawatt, serta dapat ditingkatkan hingga mencapai 1400 megawatt.

Sementara pada 2019 lalu, mulai dioperasikan pembangkit listrik baru yang terletak setalah PLTA Saguling dengan memanfaatkan kondisi geografi yang menurun sehingga dibangun terowongan air sebagai water intake ke PLTA Rajamandala.

Bendung Cirata yang dibangun pada 1982 hingga 1987 terletak di aliran sungai yang letaknya diantara Bendung Saguling dan Bendung Ir. H. Djuanda. Bendungan ini memiliki kapasitas tampung sebesar 1.9 milyar m3.

Bendung Cirata ini difungsikan sebagai pembangkit listrik yang memiliki konstruksi power house di bawah tanah dengan kapasitas 8x126 megawatt, sehingga total kapasitas yang terpasang sebesar 1008 megawatt. PLTA Cirata tersebut juga merupakan PLTA terbesar di Asia Tenggara.

Bendung Ir. H. Djuanda yang terletak pada Kecamatan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta ini merupakan bendungan terbesar di Indonesia. Bendungan ini dapat menampung air hingga 2.44 milyar m3.

Bendungan serbaguna pertama di Indonesia ini memiliki sistem bangunan pelimpahan yang digunakan untuk pembangkit listrik, sistem tersebut dikenal juga sebagai Morning Glory. PLTA Jatiluhur ini menghasilkan listrik dengan kapasitas 187.5 megawatt.

Potensi Sungai Citarum yang sangat besar tersebut dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, pada sektor pembangkit listrik menghasilkan energi listrik yang disalurkan untuk pemenuhan kebutuhan pada wilayah Jawa hingga Bali. Selain itu, terdapat dua saluran besar yaitu Tarum Barat dan Tarum Timur yang dapat digunakan untuk pemenuhan kebutuhan air pada wilayah DKI Jakarta hingga Kabupaten Indramayu.

Potensi yang sangat melimpah tersebut perlu dimanfaatkan dengan baik sehingga kelestarian Sungai Citarum dapat tetap terjaga. Ancaman yang cukup serius saat ini yaitu timbulan sampah yang ditemukan pada badan sungai.

Sampah tersebut secara umum merupakan dampak buruk dari adanya kegiatan antropogenik oleh masyarakat sekitar, seperti membuang sampah sembarangan ke sungai serta pembuangan air limbah secara langsung. Oleh karena itu, kepedulian dan partisipasi masyarakat dibutuhkan agar dapat menjaga kelestarian Sungai Citarum.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Jauhar Zainalarifin lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Jauhar Zainalarifin.

Tertarik menjadi Kolumnis GNFI?
Gabung Sekarang

JZ
SA
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini